“Manusia , memang rumit” kata Ferdi
“Kenapa? Bukankah, yang sedang kau
bicarakan adalah dirimu sendiri” timpal, Rida.
“Mungkin” jawab Ferdi lagi.
Dengan gestur tanpa ekspresi, Rida
menatap sahabatnya. “apakah kau sedang jatuh cinta?”
“Entahlah” tanggap Ferdi, dengan nafas
berat.
“Baiklah, dilain waktu kita
membahasnya” kata Rida, sambil berlalu meninggalkan sahabatnya.
Sedikit ogah-ogahan, Ferdi menjawab
singkat, “oke”.
Demikian,
percakapan mereka berlalu begitu saja. Seperti drama yang baru dipentaskan
keduanya. Sebelumnya, mereka terlibat dalam penggarapan drama, dengan mengusung
tema “kematian manusia modern”.
***
Universitas
Sarbone, di Perancis. Tepatnya musim salju di tahun 1960-an. Seorang perempuan
muda, melangkahkan kakinya dari ruang kuliah filsafat menuju perpustakaan. Dilihatnya
jam tangan, waktu masih menunjukkan pukul 13.12. Sambil berjalan, ia sesekali
merapikan mantelnya. Tampangnya acak-acakan, jauh dari kesan ideal. Ia tidak
suka ke salon, malahan menghabiskan waktunya di perpustakaan atau toko buku.
Jarang berbicara, waktunya disibukkan untuk membaca dan menulis. Filsafat dan
sastra adalah kegemarannya. Sepintas, setiap pria memilih menjauhinya. Namun,
ia lebih menikmati itu.Kemerdekaan, berarti membebaskan diri dalam setiap
bentuk keterikatan. Seperti itulah prinsipnya.
Setibanya
diperpustakaan, dilepasnya mantel, lalu dikaitkan ketempat yang sudah
disediakan. ia mengamati rak-rak buku. Memilih bagian yang berisi buku-buku
filsafat dan sastra. Dengan seksama, menyusupkan tangannya diantara jejeran
buku. Diambilnya beberapa buku dari pemikir beken, seperti; Freidrich Frege,
Husserl, Wittgenteins, Rudolp Carnap dan Austin.
“Mungkin
ini sudah cukup” pikir si perempuan muda.
Setelah
menumpuk buku dalam pelukannya. Matanya menyapu ruang perpustakaan, mencari
kursi kosong. Lalu, ia beranjak menuju pojok ruangan.
“Kreeekkk...”
suara kursi berderik.
Seorang
pemuda yang berada di hadapannya, menoleh dan mengernyitkan dahi.
“Sorry..” kata si perempuan.
“Tidak
apa-apa, silakan”. Timpal si pemuda, dengan nada santai.
Setelah
duduk, si perempuan mulai “tenggelam” dalam bacaannya. Lembar demi lembar di
perhatikan, mencari sesuatu. Karena agak kelelahan, barulah ia menyandarkan
belakangnya di kursi, untuk sedikit meregangkan lehernya. Baru tersadar, ia
melihat sampul judul buku yang dibaca pemuda dihadapannya.
“Des Regles de la Methode Sociologiques,
Emeil Durkheim” baca si perempuan, dengan nada sedikit berbisik.
Pemuda
tadi lalu meletakkan bukunya, lalu berucap “ya...betul, kenapa?
“Ah
tidak, Cuma aneh saja” jawab si perempuan muda.
“Maksudnya,
aneh bagaimana?
“untuk
seorang berwajah pucat seperti mu, lebih cocok membaca buku terapi kesehatan.
Katanya sewot.
“kalau
boleh tahu, dengan siapa saya sedang mendengarkan konsultasi”
“Saya
Miss. Verstehen”
***
Seminggu kemudian, salah satu ruang perkuliahan di
universitas yang sama.
“...tanda dan makna dibalik tanda, terbentuk dalam
kehidupan sosial dan terpengaruhi dalam sistem sosial, yang berlaku di dalamnya”
“Sir, anda
bicara tentang tanda, itu apa?
“Tepatnya semiologi!
“Sir, apakah
tanda itu sesuatu yang mandiri?
“Dalam komunikasi, seseorang menggunakan tanda untuk
mengirim makna tentang objek dan orang lain menginterpretasikan tanda tersebut.
Objek ini disebut referent.
“Berarti, tanda terikat pemaknaan subjektif sir?
“Bisa dikatakan seperti itu. Sebagai contoh, saat
seseorang mengatakan : “Anda berwajah pucat, tidak pantas membaca filsafat. Baiknya
baca buku terapi kesehatan”. Pada kata pertama disebut signifier (tanda) dan untuk kata kedua disebut signified (makna)”
“Maaf..sir, saya tidak mengenal anda”
“apakah ini signifier yang anda sampaikan kepada saya.
Agar saya bisa mengenal anda lebih jauh miss”
Perempuan itu tersipu malu.
*) Muhammad Syahudin
