-->

Sunday, February 24, 2019

DILEMA TANDA



“Manusia , memang  rumit” kata Ferdi
“Kenapa? Bukankah, yang sedang kau bicarakan adalah dirimu sendiri” timpal, Rida.
“Mungkin” jawab Ferdi lagi.
Dengan gestur tanpa ekspresi, Rida menatap sahabatnya. “apakah kau sedang jatuh cinta?”
“Entahlah” tanggap Ferdi, dengan nafas berat.
“Baiklah, dilain waktu kita membahasnya” kata Rida, sambil berlalu meninggalkan sahabatnya.
Sedikit ogah-ogahan, Ferdi menjawab singkat, “oke”.

Demikian, percakapan mereka berlalu begitu saja. Seperti drama yang baru dipentaskan keduanya. Sebelumnya, mereka terlibat dalam penggarapan drama, dengan mengusung tema “kematian manusia modern”.

***
Universitas Sarbone, di Perancis. Tepatnya musim salju di tahun 1960-an. Seorang perempuan muda, melangkahkan kakinya dari ruang kuliah filsafat menuju perpustakaan. Dilihatnya jam tangan, waktu masih menunjukkan pukul 13.12. Sambil berjalan, ia sesekali merapikan mantelnya. Tampangnya acak-acakan, jauh dari kesan ideal. Ia tidak suka ke salon, malahan menghabiskan waktunya di perpustakaan atau toko buku. Jarang berbicara, waktunya disibukkan untuk membaca dan menulis. Filsafat dan sastra adalah kegemarannya. Sepintas, setiap pria memilih menjauhinya. Namun, ia lebih menikmati itu.Kemerdekaan, berarti membebaskan diri dalam setiap bentuk keterikatan. Seperti itulah prinsipnya.

Setibanya diperpustakaan, dilepasnya mantel, lalu dikaitkan ketempat yang sudah disediakan. ia mengamati rak-rak buku. Memilih bagian yang berisi buku-buku filsafat dan sastra. Dengan seksama, menyusupkan tangannya diantara jejeran buku. Diambilnya beberapa buku dari pemikir beken, seperti; Freidrich Frege, Husserl, Wittgenteins, Rudolp Carnap dan Austin.

“Mungkin ini sudah cukup” pikir si perempuan muda.

Setelah menumpuk buku dalam pelukannya. Matanya menyapu ruang perpustakaan, mencari kursi kosong. Lalu, ia beranjak menuju pojok ruangan.

“Kreeekkk...” suara kursi berderik.
Seorang pemuda yang berada di hadapannya, menoleh dan mengernyitkan dahi.
Sorry..” kata si perempuan.
“Tidak apa-apa, silakan”. Timpal si pemuda, dengan nada santai.
Setelah duduk, si perempuan mulai “tenggelam” dalam bacaannya. Lembar demi lembar di perhatikan, mencari sesuatu. Karena agak kelelahan, barulah ia menyandarkan belakangnya di kursi, untuk sedikit meregangkan lehernya. Baru tersadar, ia melihat sampul judul buku yang dibaca pemuda dihadapannya.
Des Regles de la Methode Sociologiques, Emeil Durkheim” baca si perempuan, dengan nada sedikit berbisik.
Pemuda tadi lalu meletakkan bukunya, lalu berucap “ya...betul, kenapa?
“Ah tidak, Cuma aneh saja” jawab si perempuan muda.
“Maksudnya, aneh bagaimana?
“untuk seorang berwajah pucat seperti mu, lebih cocok membaca buku terapi kesehatan. Katanya sewot.
“kalau boleh tahu, dengan siapa saya sedang mendengarkan konsultasi”
“Saya Miss. Verstehen

***
Seminggu  kemudian, salah satu ruang perkuliahan di universitas yang sama.

“...tanda dan makna dibalik tanda, terbentuk dalam kehidupan sosial dan terpengaruhi dalam sistem sosial, yang berlaku di dalamnya”
Sir, anda bicara tentang tanda, itu apa?
“Tepatnya semiologi!
Sir, apakah tanda itu sesuatu yang mandiri?
“Dalam komunikasi, seseorang menggunakan tanda untuk mengirim makna tentang objek dan orang lain menginterpretasikan tanda tersebut. Objek ini disebut referent.
“Berarti, tanda terikat pemaknaan subjektif sir?
“Bisa dikatakan seperti itu. Sebagai contoh, saat seseorang mengatakan : “Anda berwajah pucat, tidak pantas membaca filsafat. Baiknya baca buku terapi kesehatan”. Pada kata pertama disebut signifier (tanda) dan untuk kata kedua disebut signified (makna)”
“Maaf..sir, saya tidak mengenal anda”
“apakah ini signifier yang anda sampaikan kepada saya. Agar saya bisa mengenal anda lebih jauh miss

Perempuan itu tersipu malu.


*) Muhammad Syahudin
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner