-->

Wednesday, September 20, 2017

Fenomena Malas Baca Buku

Berdasarkan study Most Littered Nation In the world tahun 2016, minat baca masyarakat Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara yang di survei. Indonesia berada di bawah Tahiland (59) dan di atas Bostwana (61). Bila dipersentase, berada di kisaran 0,001%. Ini berarti, diantara 10.000 orang Indonesia, hanya 1 yang memiliki minat baca. Padahal dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca, Indonesia berada di atas negara-negara di Eropa. Berdasarkan komponen infrastruktur Indonesia ada diurutan 34 di atas Jerman, Portugal, Selandia Baru dan Korea Selatan. Kenyataan ini menunjukkan, belum maksimalnya pemanfaatan infrastruktur yang sudah ada.

Dari data penelitian yang dilakukan United Nation Development Programme (UNDP), tingkat pendidikan berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), di Indonesia masih tergolong rendah. Berada di persentase 14,6% jauh lebih rendah dari Malaysia yang mencapai angka 28% dan Singapura 33%. Rendahnya kualitas pendidikan tersebut, terkait dengan rendahnya minat baca. Untuk itu perlu ada upaya nyata dari semua pihak, dalam meningkatkan minat baca di Indonesia.

Menurut Setiawan Hartadi: “Negara maju dan berkembang kalau masyarakatnya mempunyai minat baca yang tinggi, dibuktikan dari jumlah buku yang diterbitkan serta jumlah perpustakaan yang ada”. Berdasarkan buku Industri Perbukuan Indonesia dalam angka dan fakta, tahun 2015 yang diterbitkan Ikapi. Jumlah penerbit buku anggota Ikapi sekitar 1.328, 109 penerbit non-Ikapi.

Dari jumlah tersebut, 711 penerbit yang aktif memproduksi buku baru. Dengan kategori minimal menerbitkan 10 buku per-tahunnya. Dari total penduduk Indonesia sekitar 256,2 juta jiwa, 56,3% termasuk kategori kelas menengah, yaitu 140 juta jiwa. Nilai uang yang dibelanjakan kelas menengah, sebgaian besar untuk belanja pakaian sekitar Rp. 113,4 trilliun, sementara untuk buku berkisar Rp 14,1 trilliun. Bila dirata-ratakan, orang Indonesia hanya membeli 2 buku per-tahun. Angka tersebut menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Implikasinya sudah pasti, yaitu rendahnya kualitas manusianya.

Data di atas berbanding terbalik dengan pengguna tekhnologi dan pemakaian internet. Berdasarkan laporan Kominfo, Indonesia berada di urutan ke 6 pengguna internet di dunia. Survey yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) sepanjang 2016, menemukan 132,7 juta orang Indonesia terhubung ke internet. Mengalami kenaikan berkisar 51,8 % dari tahun sebelumnya, dan akan terus meningkat di tahun berikutnya. 94% dari pengguna internet mengakses media sosial Facebook. Ini menunjukkan, minat masyarakat Indonesia terhadap informasi tekhnologi begitu tinggi.

Minat baca yang rendah, dengan pengguna tekhnologi yang tinggi menyebabkan terjadi kesenjangan. Dengan Indeks kualitas manusia yang rendah, cara mencerna informasi di media sosial pun terbilang rendah. Mudah tersulut dan gampang dibodohi. Ketidaksiapan mental dan pola pikir, membuat sebagian pengguna internet tidak mampu mengolah informasi secara bijak. Tak mengherankan, bila seorang pakar direndahkan oleh serbuan nitizen, hanya dengan modal mencela dan mengumpat. Cacian, makian dan fitnah menjadi laku. Ada yang berusaha bersikap bijak, tapi diserang dengan pencitraan. Setelah jaringan Saracen terbongkar, banyak yang tersengat. Ternyata selama ini, mereka telah banyak mencerna sampah bernama hoax, hingga sulit untuk memilah lagi antara konten yang benar dan abal-abal.

Dikalangan Mahasiswa, minat baca buku juga terbilang rendah. Perpustakaan kebanyakan dikunjungi hanya untuk mengerjakan tugas. Selebihnya, memilih berselancar di internet. Warnet dan warkop menjadi tempat paling sering dikunjungi mahasiswa. Apalagi kalau musim pemilu, sebagian mahasiswa lebih senang mendompleng pada para kandidat. Bisa dibayangkan, dengan minat baca yang rendah, daya analisa juga pasti rendah. Sehingga kemungkinan mahasiswa tergerus dalam arus politik praktis, minus kualitas.

Dengan IPM yang rendah, praktisi pendidikan berharap memerhatikan sisi kualitas literasi. Apa yang terjadi, bila yang mengisi posisi penting dalam negara ini, memiliki kualitas literasi yang rendah. Jadi jangan berharap akan ada perubahan kualitas manusia Indonesia, bila minat baca saja rendah.

Sedari dulu, kita diingatkan bahwa buku adalah jendela dunia. Lalu, sudah berapakah jendela dunia yang anda buka ?

*) Muhammad Syahudin (Peminat Literasi)

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner