Dari
data penelitian yang dilakukan United
Nation Development Programme (UNDP), tingkat pendidikan berdasarkan Indeks
Pembangunan Manusia (IPM), di Indonesia masih tergolong rendah. Berada di
persentase 14,6% jauh lebih rendah dari Malaysia yang mencapai angka 28% dan
Singapura 33%. Rendahnya kualitas pendidikan tersebut, terkait dengan rendahnya
minat baca. Untuk itu perlu ada upaya nyata dari semua pihak, dalam
meningkatkan minat baca di Indonesia.
Menurut
Setiawan Hartadi: “Negara maju dan berkembang kalau masyarakatnya mempunyai
minat baca yang tinggi, dibuktikan dari jumlah buku yang diterbitkan serta
jumlah perpustakaan yang ada”. Berdasarkan buku Industri Perbukuan Indonesia
dalam angka dan fakta, tahun 2015 yang diterbitkan Ikapi. Jumlah penerbit buku
anggota Ikapi sekitar 1.328, 109 penerbit non-Ikapi.
Dari
jumlah tersebut, 711 penerbit yang aktif memproduksi buku baru. Dengan kategori
minimal menerbitkan 10 buku per-tahunnya. Dari total penduduk Indonesia sekitar
256,2 juta jiwa, 56,3% termasuk kategori kelas menengah, yaitu 140 juta jiwa. Nilai
uang yang dibelanjakan kelas menengah, sebgaian besar untuk belanja pakaian
sekitar Rp. 113,4 trilliun, sementara untuk buku berkisar Rp 14,1 trilliun. Bila
dirata-ratakan, orang Indonesia hanya membeli 2 buku per-tahun. Angka tersebut
menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Implikasinya sudah
pasti, yaitu rendahnya kualitas manusianya.
Data
di atas berbanding terbalik dengan pengguna tekhnologi dan pemakaian internet. Berdasarkan
laporan Kominfo, Indonesia berada di urutan ke 6 pengguna internet di dunia. Survey
yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII)
sepanjang 2016, menemukan 132,7 juta orang Indonesia terhubung ke internet. Mengalami
kenaikan berkisar 51,8 % dari tahun sebelumnya, dan akan terus meningkat di
tahun berikutnya. 94% dari pengguna internet mengakses media sosial Facebook. Ini
menunjukkan, minat masyarakat Indonesia terhadap informasi tekhnologi begitu
tinggi.
Minat
baca yang rendah, dengan pengguna tekhnologi yang tinggi menyebabkan terjadi kesenjangan.
Dengan Indeks kualitas manusia yang rendah, cara mencerna informasi di media
sosial pun terbilang rendah. Mudah tersulut dan gampang dibodohi. Ketidaksiapan
mental dan pola pikir, membuat sebagian pengguna internet tidak mampu mengolah
informasi secara bijak. Tak mengherankan, bila seorang pakar direndahkan oleh
serbuan nitizen, hanya dengan modal mencela dan mengumpat. Cacian, makian dan
fitnah menjadi laku. Ada yang berusaha bersikap bijak, tapi diserang dengan
pencitraan. Setelah jaringan Saracen terbongkar, banyak yang tersengat. Ternyata
selama ini, mereka telah banyak mencerna sampah bernama hoax, hingga sulit
untuk memilah lagi antara konten yang benar dan abal-abal.
Dikalangan
Mahasiswa, minat baca buku juga terbilang rendah. Perpustakaan kebanyakan
dikunjungi hanya untuk mengerjakan tugas. Selebihnya, memilih berselancar di
internet. Warnet dan warkop menjadi tempat paling sering dikunjungi mahasiswa. Apalagi
kalau musim pemilu, sebagian mahasiswa lebih senang mendompleng pada para
kandidat. Bisa dibayangkan, dengan minat baca yang rendah, daya analisa juga
pasti rendah. Sehingga kemungkinan mahasiswa tergerus dalam arus politik
praktis, minus kualitas.
Dengan
IPM yang rendah, praktisi pendidikan berharap memerhatikan sisi kualitas
literasi. Apa yang terjadi, bila yang mengisi posisi penting dalam negara ini,
memiliki kualitas literasi yang rendah. Jadi jangan berharap akan ada perubahan
kualitas manusia Indonesia, bila minat baca saja rendah.
Sedari
dulu, kita diingatkan bahwa buku adalah jendela dunia. Lalu, sudah berapakah
jendela dunia yang anda buka ?
*)
Muhammad Syahudin (Peminat Literasi)