-->

Monday, September 18, 2017

Masalah Kepemimpinan Hingga Pertikaian


Menjadi penguasa, begitu menggiurkan. Memiliki wilayah kekuasaan atas tanah dan masyarakat. Apalagi memiliki otoritas atas setiap hukum dan kebijakan. Dengan semua itu, seorang penguasa berada dalam tarikan kezaliman atau keadilan. Zalim bila, kebijakan dan hukum selalu membenarkan kesalahan yang dilakukanya. Adil bila, menempatkan hukum dan kebijakan pada konstitusi.

Tidak semua penguasa dapat memimpin. Karena penguasa ingin dilayani, sedang pemimpin itu melayani. Penguasa mempekerjakan rakyatnya demi kesejahteraan dirinya, sedangkan pemimpin bekerja untuk memenuhi kesejahteraan rakyatnya. Penguasa menjadikan rakyatnya sebagai pelindung dari ancaman, sedangkan pemimpin melindungi rakyat dari ancaman. Oleh karena itu, sulit menemukan pemimpin saat ini.  

Dalam perjalanan sejarah umat manusia, masalah kepemimpinan merupakan persoalan yang pelik. Didalam kerumitan itu, agama dan politik ikut bekerja. Tak jarang, dominasi atas klaim itu merenggut nyawa. Dalil-dalil bayaran dengan mudah dilakukan, hingga orang-orang opportunis mengambil kebijakan yang tidak dikuasainya. Demi kekuasaan, uang dapat membeli segalanya. Tak peduli pencitraan yang dilakukan siang malam harus terhempas dalam sekejap. Bila kedok terbongkar, kekuasaan akan memainkan kekerasan. Dengan mengadu domba ataukah melakukan pembodohan secara terorganisir. Dengan begitu, akan terjadi pengaburan makna kebenaran. Akhirnya, kebenaran ditentukan oleh perang. Siapapun pemenangnya, akan menulis sejarah berdasarkan kehendaknya. Bila ada yang berani untuk melakukan kritik, nyawa bisa melayang, suaranya dibungkam dengan kematian.

Sejarah yang kita baca, bergantung versi siapa. Apa yang terjadi, sekiranya kekuasaan Fir’aun tidak pernah runtuh. Sekiranya imperium Romawi dan Persia, tidak ditaklukkan. Ataukah, Hitler yang menang perang dunia II. Apa yang terjadi, sekiranya di Indonesia PKI tetap menjadi partai yang berkuasa. Pun sekiranya, Pancasila tidak disepakati. Kekuasaan dan kepemimpinan menjadi poros utama dari semua peristiwa itu.

Belakangan ini, demam khilafah mendera sebagian umat Islam. Tak ada salahnya merindukan berdirinya daulah yang Islami. Hanya saja, dalam pelaksanaan sistem dan konstitusi yang sudah ada dalam konsep negara. Konsep khilafah harus mampu menawarkan sistem yang tidak sekedar ideal dalam pikiran tapi memiiki rumusan dan tata kelola yang jelas dan terukur. Di Kompas TV (https://www.youtube.com/watch?v=4Cm-b9lkyec), saya menyaksikan pengakuan korban ISIS yang melarikan diri. Mereka mengaku, daulah Islam ala ISIS adalah kebohongan besar. Bahkan menurut pengalaman mereka, Islam yang Rahmatan lil-‘alamin tidak mereka dapatkan. Berharap hidup layak dibawah daulah Islam. Mereka justru mengalami intimidasi. Lalu perang atas nama kepepimpinan ini dikendalikan siapa?

Tidak dapat disalahkan, bila NU dan Muhammadiyah di Indonesia beranggapan konsep dasar Pancasila adalah daulah Islami secara maknawi. Bila lima dasar pancasila dilaksanakan secara konstitusional, Islam yang rahmatan lil-‘alamin dapat kita rasakan. Karena keadilan adalah untuk semua manusia, Islam dapat menerjemahkan dalam konsep bernegara. Mahfud MD, mengatakan; "Tidak ada dalam sumber primer Islam seperti Alquran dan Hadits yang memerintah untuk membentuk sistem negara khilafah. Kalau hasil ijtihad dari ulama tentang khilafah memang ada," lebih lanjut, beliau mengatakan; "Makanya, konsep ulama Islam terdahulu tentang khilafah itu berbeda, antara Al-Maududi dengan Al-Afagani," (http://news.liputan6.com/read/3073720/mahfud-md-tidak-ada-sistem-khilafah-dalam-islam

Dalam konteks PILKADA, tak ada salahnya memilih calon yang se-Iman. Namun, menjadikan agama sebagai kedok, untuk menjatuhkan lawan politik tentunya tidak elok. Menghalalkan segala cara yang tidak halal secara konstitusional, hanya akan melahirkan penguasa daerah, bukan pemimpin. Apalagi melakukan propaganda berdasarkan pesanan seperti jaringan Saracen. Sudah banyak kepala daerah, yang ditangkap tangan KPK. Untuk mempertahankan kekuasaan hingga periode kedua, modal politik yang besar membuat mereka menjual martabat. Mengumpulkan pundi-pundi uang untuk membeli suara.

Allah memperingati kita dalam Al-Quran;
“Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.” (QS. At-Taubah, 9: 9).
“Janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah. Dan bertaqwalah hanya kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah, 2: 41).


*) Muhammad Syahudin ( Peminat Literasi)
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner