Sudahkah kita merenungkan
kembali makna menjadi manusia. Jangan-jangan kita sebenarnya bukanlah manusia. Melainkan
sekelompok hewan yang memangsa selainnya demi memenuhi ambisi. Suatu kejadian
memang tidak berdiri sendiri. Ada semacam relasi sebab akibat. Karena itu kita
mengenal sebuah rangkaian peristiwa yang membentuk opini. Namun terkadang kita
sulit untuk menelusuri sebab-sebab dari suatu kejadian, setelah kita tahu fakta
yang sesungguhnya.
Kekerasan, penipuan dan
fitnah adalah pemicu dari masalah pertikaian. Bila kita tidak mampu
mengendalikan diri, bisa-bisa kita pun akan tergerus menjadi bagian tindakan
tersebut. Agama bisa berubah bentuk, bila dipolitisasi. Apalagi bila
merefresentasikan wilayah profan ke ranah sempit bernama politik praktis. Manusia
yang “berbeda” pun tak layak diperlakukan secara manusiawi.
Rohingnya, hampir memenuhi
pemberitaan media diseluruh dunia. Gelombang pengungsi yang mencoba mencari
suaka ke negara tetangga membuat hati kita terenyuh. Etnis “terbuang” dan tidak
diakui sebagai warga negara oleh Myanmar. Sebuah petaka kemanusiaan,
dikorbankan demi ambisi kekuasaan. Kekerasan dan kekuasaan tidak memandang
agama, ia dapat merasuki siapapun dan menjadikan agama sebagai justifikasi. Ketika
etnisitas mayoritas diklaim sebagai kebenaran, selainnya akan menjadi
pesakitan. Kecuali bila di dalam suatu masyarakat hukum dan keadilan
benar-benar ditegakkan. Memandang manusia dengan hak hidup dan kelayakan untuk
mendapatkan penghidupan.
Penyakit merasa benar
sendiri, adalah suatu penyakit kejiwaan akut. Memandang yang lain sebagai
posisi berlawanan, tanpa ada usaha untuk saling mempelajari. Bukankah perbedaan
itu fitrah. Bahkan tak ada sesuatu yang benar-benar sama, melainkan identik.
Keidentikkan itu dapat ditemukan dari semua hal yang berbeda. Walaupun setiap
agama punya tata cara ibadah yang berbeda. Tapi, kesamaan dari itu adalah bahwa
setiap agama mengajarkan kasih sayang dan cinta kasih terhadap sesama. Islam
bahkan memerintahkan bagi penganutnya menjadi rahmatan lil-‘alamin.
Rohingya Tidak sendiri.
Suriah, Irak, Yaman, Afganistan dan Palestina. Adalah kenyataan yang kita liat,
betapa nyawa manusia lebih murah dari apapun. Pada masyarakat Rohingya,
eksploitasi kemanusiaan mereka dipengaruhi oleh biksu ekstrim, melakukan
tindakan genosida terhadap muslim minoritas Myanmar. Suriah dan Irak, mengalami
kehancuran setelah radikalisme ISIS mengklaim sebagai Islam yang paling benar.
Membunuh siapa saja, yang tidak mau tunduk kepada pemahaman negara Islam ala
mereka. Kepala dipenggal, bom bunuh diri, dan propaganda media adalah sebagian
besar kenyataan itu.
Yaman pun tak lebih baik.
Kenyataannya, politik yaman yang dikuasai Houthi, diklaim sebagai alasan dari
negara tetangganya Arab untuk membunuh warga Yaman. Sebagaimana kita tahu, yang
paling banyak terkena dampak adalah warga sipil yang tak paham politik. Dan
yang terkesan mengada-ada, tindakan politik ini dibumbui sebagai perseteruan
mazhab antara Sunni melawan Syiah. Media asingpun gembira untuk mengembosi
bumbu yang tak sedap itu menjadi sedap. Alhasil, banyaklah orang termakan.
Setelah jaringan Saracen di Indonesia terbongkar, barulah banyak yang sadar
bahwa mereka selama ini telah mencerna makanan hoax.
Palestina yang terjajah di
tanah sendiri, adalah ulah dari ekstrimis semitis yahudi yang menganggap ras
mereka paling mulia. Dan dengan dalih mengambil hak tanah moyang mereka.
Orang-orang Palestina puluhan tahun hidup dalam cengkraman teror. Di bombardir
dan diusir dari tanah kelahirannya. Dunia mengutuk dan mengecam tindakan
agresor Israel. Ini bukan lagi masalah agama tapi kejahatan kemanusiaan yang
terpampang di depan mata. Di India yang
mayoritas hindu, terkadang juga mengalami konflik yang dibumbui dengan
perseteruan agama. Adu domba mayoritas dan minoritas dewasa ini memang menjadi
jualan yang paling laku, untuk menghancurkan sebuah peradaban.
Kita patut mengapresiasi
pemerintah Indonesia. Menempuh jalur diplomasi untuk membantu mengatasi krisis
Rohingya. Dengan dikirimnya bantuan pengungsi, Indonesia menggunakan kanal
diplomasi untuk melakukan lobi ke pemerintah Myanmar agar solusi 4 + 1 yang
ditawarkan dapat disepakati. Kita tentu mengutuk keras, setiap kekejaman
kemanusiaan apapun dalilnya. Dan siapapun pelakunya. Karena itulah yang disebut
kemanusiaan yang adil dan beradab.
Kita tidak dapat
membenarkan tindakan kekerasan, lalu mencari-cari pembenaran dengan dalil.
Dikarenakan sang pelaku seagama dengan kita. Atau se-mazhab bahkan se ideologi
politik dengan kita. Mengintimidasi, membunuh, menyiksa dan segala tindakan
barbar lainnya harus dengan tegas ditolak, apapun bentuknya.
*) Muhammad Syahudin
(Peminat Literasi)
