-->

Monday, September 18, 2017

Rohingnya, Konflik kekerasan dan Kemanusiaan Kita


Sudahkah kita merenungkan kembali makna menjadi manusia. Jangan-jangan kita sebenarnya bukanlah manusia. Melainkan sekelompok hewan yang memangsa selainnya demi memenuhi ambisi. Suatu kejadian memang tidak berdiri sendiri. Ada semacam relasi sebab akibat. Karena itu kita mengenal sebuah rangkaian peristiwa yang membentuk opini. Namun terkadang kita sulit untuk menelusuri sebab-sebab dari suatu kejadian, setelah kita tahu fakta yang sesungguhnya.

Kekerasan, penipuan dan fitnah adalah pemicu dari masalah pertikaian. Bila kita tidak mampu mengendalikan diri, bisa-bisa kita pun akan tergerus menjadi bagian tindakan tersebut. Agama bisa berubah bentuk, bila dipolitisasi. Apalagi bila merefresentasikan wilayah profan ke ranah sempit bernama politik praktis. Manusia yang “berbeda” pun tak layak diperlakukan secara manusiawi.

Rohingnya, hampir memenuhi pemberitaan media diseluruh dunia. Gelombang pengungsi yang mencoba mencari suaka ke negara tetangga membuat hati kita terenyuh. Etnis “terbuang” dan tidak diakui sebagai warga negara oleh Myanmar. Sebuah petaka kemanusiaan, dikorbankan demi ambisi kekuasaan. Kekerasan dan kekuasaan tidak memandang agama, ia dapat merasuki siapapun dan menjadikan agama sebagai justifikasi. Ketika etnisitas mayoritas diklaim sebagai kebenaran, selainnya akan menjadi pesakitan. Kecuali bila di dalam suatu masyarakat hukum dan keadilan benar-benar ditegakkan. Memandang manusia dengan hak hidup dan kelayakan untuk mendapatkan penghidupan.

Penyakit merasa benar sendiri, adalah suatu penyakit kejiwaan akut. Memandang yang lain sebagai posisi berlawanan, tanpa ada usaha untuk saling mempelajari. Bukankah perbedaan itu fitrah. Bahkan tak ada sesuatu yang benar-benar sama, melainkan identik. Keidentikkan itu dapat ditemukan dari semua hal yang berbeda. Walaupun setiap agama punya tata cara ibadah yang berbeda. Tapi, kesamaan dari itu adalah bahwa setiap agama mengajarkan kasih sayang dan cinta kasih terhadap sesama. Islam bahkan memerintahkan bagi penganutnya menjadi rahmatan lil-‘alamin.

Rohingya Tidak sendiri. Suriah, Irak, Yaman, Afganistan dan Palestina. Adalah kenyataan yang kita liat, betapa nyawa manusia lebih murah dari apapun. Pada masyarakat Rohingya, eksploitasi kemanusiaan mereka dipengaruhi oleh biksu ekstrim, melakukan tindakan genosida terhadap muslim minoritas Myanmar. Suriah dan Irak, mengalami kehancuran setelah radikalisme ISIS mengklaim sebagai Islam yang paling benar. Membunuh siapa saja, yang tidak mau tunduk kepada pemahaman negara Islam ala mereka. Kepala dipenggal, bom bunuh diri, dan propaganda media adalah sebagian besar kenyataan itu.

Yaman pun tak lebih baik. Kenyataannya, politik yaman yang dikuasai Houthi, diklaim sebagai alasan dari negara tetangganya Arab untuk membunuh warga Yaman. Sebagaimana kita tahu, yang paling banyak terkena dampak adalah warga sipil yang tak paham politik. Dan yang terkesan mengada-ada, tindakan politik ini dibumbui sebagai perseteruan mazhab antara Sunni melawan Syiah. Media asingpun gembira untuk mengembosi bumbu yang tak sedap itu menjadi sedap. Alhasil, banyaklah orang termakan. Setelah jaringan Saracen di Indonesia terbongkar, barulah banyak yang sadar bahwa mereka selama ini telah mencerna makanan hoax.

Palestina yang terjajah di tanah sendiri, adalah ulah dari ekstrimis semitis yahudi yang menganggap ras mereka paling mulia. Dan dengan dalih mengambil hak tanah moyang mereka. Orang-orang Palestina puluhan tahun hidup dalam cengkraman teror. Di bombardir dan diusir dari tanah kelahirannya. Dunia mengutuk dan mengecam tindakan agresor Israel. Ini bukan lagi masalah agama tapi kejahatan kemanusiaan yang terpampang di depan mata.  Di India yang mayoritas hindu, terkadang juga mengalami konflik yang dibumbui dengan perseteruan agama. Adu domba mayoritas dan minoritas dewasa ini memang menjadi jualan yang paling laku, untuk menghancurkan sebuah peradaban.

Kita patut mengapresiasi pemerintah Indonesia. Menempuh jalur diplomasi untuk membantu mengatasi krisis Rohingya. Dengan dikirimnya bantuan pengungsi, Indonesia menggunakan kanal diplomasi untuk melakukan lobi ke pemerintah Myanmar agar solusi 4 + 1 yang ditawarkan dapat disepakati. Kita tentu mengutuk keras, setiap kekejaman kemanusiaan apapun dalilnya. Dan siapapun pelakunya. Karena itulah yang disebut kemanusiaan yang adil dan beradab.

Kita tidak dapat membenarkan tindakan kekerasan, lalu mencari-cari pembenaran dengan dalil. Dikarenakan sang pelaku seagama dengan kita. Atau se-mazhab bahkan se ideologi politik dengan kita. Mengintimidasi, membunuh, menyiksa dan segala tindakan barbar lainnya harus dengan tegas ditolak, apapun bentuknya.


*) Muhammad Syahudin (Peminat Literasi) 
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner