Pada
suatu minggu pagi, dalam kereta bawah tanah di New York. Para penumpang sedang
duduk dengan tenang—sebagian sedang membaca surat kabar, duduk tenang dan
sebagian yang lain sedang beristirahat dengan mata terpejam. Suasana tenang dan
damai.
Tak
lama berselang, seorang pria dan anak-anaknya masuk dalam gerbong. Anak-anak
tersebut begitu berisik dan ribut tak terkendali sehingga segera saja keseluruhan
suasana berubah. Pria tersebut duduk di sebelah saya dan memejamkan matanya.
Agaknya tidak peduli akan situasi saat ini. Anak-anaknya berteriak-teriak,
melemparkan barang-barang, bahkan merenggut koran yang sedang dibaca orang.
Namun, pria yang duduk di sebelah saya tidak berbuat apapun.
Sulit
untuk tidak merasa jengkel. Saya tidak mengerti, ia dapat begitu tenang
membiarkan anak-anaknya berlarian liar seperti itu dan tidak berbuat apapun
untuk mencegah mereka. Terlihat semua orang dalam gerbong sangat terganggu.
Akhirnya,
dengan rasa sabar dan pengekangan diri yang luar biasa. Saya menoleh kearahnya
dan berkata, “Tuan, anak-anak anda benar-benar mengganggu banyak orang.
Dapatkah anda mengendalikan mereka sedikit?” pria tersebut mengangkat dagunya
seolah tersadar akan situasi disekitarnya, lalu berkata dengan sedih, “Oh, anda
benar. Saya kira saya harus berbuat sesuatu. Kami baru saja dari rumah sakit,
dimana ibu mereka meninggal satu jam yang lalu. Saya tidak tahu harus berfikir
apa, dan saya kira mereka juga tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.”
Bisa
dibayangkan perasaan saya saat itu, paradigma saya berubah. Tiba-tiba saya melihat segalanya berbeda, karena saya melihat dengan cara berbeda, saya berfikir dengan cara berbeda, saya merasa dengan cara berbeda, saya berprilaku dengan cara berbeda.
Cerita
di atas saya kutip dari buku The 7 Habits
of Highly Effective People, yang ditulis oleh Stephen R Covey pada halaman
19. Sebuah peristiwa, betapa paradigma bekerja dengan cara berbeda maka akan
menghasilkan akibat yang berbeda pula. Seringkali kita melihat suatu kejadian,
lalu membentuk cara pandang kita terhadap peristiwa tersebut. Namun kita lupa,
bahwa sudut tempat kita memandang, bisa jadi adalah sudut yang jauh dari sudut
si pelaku kejadian. Hingga, saat kita tahu bahwa kita salah.
Baru-baru
ini kita dikejutkan dengan dibakarnya seorang pria, karena diduga mencuri amplifier mesjid. Zoya namanya. Tukang
servis alat elektronik tersebut, harus meregang nyawa dengan dibakar setelah
dikeroyok beramai-ramai oleh warga. Warga berdalih, bahwa mereka tidak tahu
kalau ia pencuri ampli, dikiranya dia adalah pencuri motor. Apakah sudah begitu
parah, cara pandang kita terhadap sesama sehingga begitu mudah kita memvonis
oranglain tanpa persidangan. Meskipun ia pencuri motor, apakah secara serta
merta membenarkan perilaku barbar dengan cara membakar. Apakah ketidaktahuan
warga, tentang salahnya mereka mengira tersangka pencurian amplifier dengan pencuri motor, lantas perbuatan mereka dimaafkan.
Ataukah kita menyamakan dengan kekeliruan yang dimaklumi.
Banyak
orang mengalami perubahan fundamental dalam cara berfikir. Setelah mengalami
suatu proses penempaan panjang. Namun terkadang sebuah kejutan peristiwa, dapat
merubah cara pandang. Paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas S. Khun,
lalu dipopulerkan oleh Robert Friedrichs. Biasa diartikan basic point of view atau dasar perpektif ilmu, gugusan pikir,
model, pola terkadang juga disebut konteks. Zumri, mengartikan paradigma
sebagai jalinan ide dasar beserta asumsi dengan variabel-variabel idenya. Khun
sendiri menggunakan istilah paradigma melalui gagasannya tentang revolusi sains
dalam The structure of scientific revolution. Selanjutnya, paradigma
digunakan sebagai cara pandang dalam menakar sudut pandang manusia terhadap
realitas sosial.
Sudut
pandang manusia mengikuti pola-pola tertentu. Terkadang sulit untuk keluar dari
pola tersebut. Karena itu manusia membutuhkan ilmu pengetahuan untuk
mengembangkan pola pemikirannya agar tidak menyempit. Sempitnya sudut pandang
memungkinkan seseorang untuk tidak memeroleh pengetahuan secara utuh.
Pengetahuan yang tidak dilandasi dengan pemahaman membuat hubungan dengan orang
lain sebagai posisi berlawanan. Stephen R Covey, menawarkan kepada kita konsep win win solution dan interdependent. Konsep menang-menang,
mengajak kita untuk menganggap selain kita adalah sama-sama sebagai subjek
terhadap setiap persoalan, sehingga memungkinkan kita untuk bekerjasama dalam
mencari penyelesaian. Sedangkan interdependent
adalah konsep saling tergantung, antar sesama sebagai makhluk sosial.
Sehingga kita tidak meremehkan apalagi merendahkan orang lain hanya karena ide
dan pemikirannya terdengar asing di telinga kita. Dengan itu, paradigma kita
dapat berubah.
*)
Muhammad Syahudin (Peminat Literasi)
