-->

Tuesday, September 12, 2017

Sebuah Paradigma


Pada suatu minggu pagi, dalam kereta bawah tanah di New York. Para penumpang sedang duduk dengan tenang—sebagian sedang membaca surat kabar, duduk tenang dan sebagian yang lain sedang beristirahat dengan mata terpejam. Suasana tenang dan damai.

Tak lama berselang, seorang pria dan anak-anaknya masuk dalam gerbong. Anak-anak tersebut begitu berisik dan ribut tak terkendali sehingga segera saja keseluruhan suasana berubah. Pria tersebut duduk di sebelah saya dan memejamkan matanya. Agaknya tidak peduli akan situasi saat ini. Anak-anaknya berteriak-teriak, melemparkan barang-barang, bahkan merenggut koran yang sedang dibaca orang. Namun, pria yang duduk di sebelah saya tidak berbuat apapun.

Sulit untuk tidak merasa jengkel. Saya tidak mengerti, ia dapat begitu tenang membiarkan anak-anaknya berlarian liar seperti itu dan tidak berbuat apapun untuk mencegah mereka. Terlihat semua orang dalam gerbong sangat terganggu.

Akhirnya, dengan rasa sabar dan pengekangan diri yang luar biasa. Saya menoleh kearahnya dan berkata, “Tuan, anak-anak anda benar-benar mengganggu banyak orang. Dapatkah anda mengendalikan mereka sedikit?” pria tersebut mengangkat dagunya seolah tersadar akan situasi disekitarnya, lalu berkata dengan sedih, “Oh, anda benar. Saya kira saya harus berbuat sesuatu. Kami baru saja dari rumah sakit, dimana ibu mereka meninggal satu jam yang lalu. Saya tidak tahu harus berfikir apa, dan saya kira mereka juga tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.”

Bisa dibayangkan perasaan saya saat itu, paradigma saya berubah. Tiba-tiba saya melihat segalanya berbeda, karena saya melihat dengan cara berbeda, saya berfikir dengan cara berbeda, saya merasa dengan cara berbeda, saya berprilaku dengan cara berbeda.

Cerita di atas saya kutip dari buku The 7 Habits of Highly Effective People, yang ditulis oleh Stephen R Covey pada halaman 19. Sebuah peristiwa, betapa paradigma bekerja dengan cara berbeda maka akan menghasilkan akibat yang berbeda pula. Seringkali kita melihat suatu kejadian, lalu membentuk cara pandang kita terhadap peristiwa tersebut. Namun kita lupa, bahwa sudut tempat kita memandang, bisa jadi adalah sudut yang jauh dari sudut si pelaku kejadian. Hingga, saat kita tahu bahwa kita salah.

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan dibakarnya seorang pria, karena diduga mencuri amplifier mesjid. Zoya namanya. Tukang servis alat elektronik tersebut, harus meregang nyawa dengan dibakar setelah dikeroyok beramai-ramai oleh warga. Warga berdalih, bahwa mereka tidak tahu kalau ia pencuri ampli, dikiranya dia adalah pencuri motor. Apakah sudah begitu parah, cara pandang kita terhadap sesama sehingga begitu mudah kita memvonis oranglain tanpa persidangan. Meskipun ia pencuri motor, apakah secara serta merta membenarkan perilaku barbar dengan cara membakar. Apakah ketidaktahuan warga, tentang salahnya mereka mengira tersangka pencurian amplifier dengan pencuri motor, lantas perbuatan mereka dimaafkan. Ataukah kita menyamakan dengan kekeliruan yang dimaklumi.

Banyak orang mengalami perubahan fundamental dalam cara berfikir. Setelah mengalami suatu proses penempaan panjang. Namun terkadang sebuah kejutan peristiwa, dapat merubah cara pandang. Paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas S. Khun, lalu dipopulerkan oleh Robert Friedrichs. Biasa diartikan basic point of view atau dasar perpektif ilmu, gugusan pikir, model, pola terkadang juga disebut konteks. Zumri, mengartikan paradigma sebagai jalinan ide dasar beserta asumsi dengan variabel-variabel idenya. Khun sendiri menggunakan istilah paradigma melalui gagasannya tentang revolusi sains dalam  The structure of scientific revolution. Selanjutnya, paradigma digunakan sebagai cara pandang dalam menakar sudut pandang manusia terhadap realitas sosial.

Sudut pandang manusia mengikuti pola-pola tertentu. Terkadang sulit untuk keluar dari pola tersebut. Karena itu manusia membutuhkan ilmu pengetahuan untuk mengembangkan pola pemikirannya agar tidak menyempit. Sempitnya sudut pandang memungkinkan seseorang untuk tidak memeroleh pengetahuan secara utuh. Pengetahuan yang tidak dilandasi dengan pemahaman membuat hubungan dengan orang lain sebagai posisi berlawanan. Stephen R Covey, menawarkan kepada kita konsep win win solution dan interdependent. Konsep menang-menang, mengajak kita untuk menganggap selain kita adalah sama-sama sebagai subjek terhadap setiap persoalan, sehingga memungkinkan kita untuk bekerjasama dalam mencari penyelesaian. Sedangkan interdependent adalah konsep saling tergantung, antar sesama sebagai makhluk sosial. Sehingga kita tidak meremehkan apalagi merendahkan orang lain hanya karena ide dan pemikirannya terdengar asing di telinga kita. Dengan itu, paradigma kita dapat berubah.


*) Muhammad Syahudin (Peminat Literasi) 
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner