-->

Thursday, August 31, 2017

Gilad Atzmon, Seorang Artis Politik yang Setia


Satu lagi, yang membuat saya kagum dengan sosok buya Syafi’i Ma’rif. Daya jangkau pemikirannya sudah lintas sektoral, kalau boleh dibilang mendunia. Berawal dari sebuah media The Palestine Chronicle online, ia mengenal Gilad Atzmon, berlanjut dengan korespondensi via email. Hasilnya, terbitlah buku dengan catatan kritikal tentang Palestina dan masa depan Zionisme. Abdillah Toha, turut memberikan pengantar. Menurutnya, “dapat dimengerti bila Israel sangat khawatir terhadap makin banyaknya keturunan Yahudi yang kritis” (2012: 25). Gilad Atzmon memberikan komentarnya, “the liberation of Palestine will also emancipate the Israelis, the Zionists and Jews who were hijacked by a racist and expantionist ideology” (2012: 21). Gilad memang menyebut adanya suatu bentuk kejahatan kemanusiaan, berupa perampasan dan rasisme oleh Zionis.

Gilad Atzmon, satu diantara keturunan Yahudi yang akan membahayakan hari depan dan eksistensi Israel. Turut pula George Steinner, seorang kritikus sastra terkenal. Eric Hobsbawm, sejarawan terkemuka pendukung Intifada. Profesor Norman Finkelstein, sejarawan Amerika yang membela Palestina dan terang-terangan mendukung perjuangan Hizbullah di Lebanon. Richard Falk, Profesor bidang hukum di Princeton University bahkan menganggap Zionis tak ubahnya Nazi. Dan terakhir, Noam Chomsky disebut-sebut intellectual godfather dari pemikiran anti Israel.

Selama ini dunia seakan tak berdaya. Negara-negara berkuasa seakan tunduk pada kekejaman Israel.  Kita hanya bisa mengutuk kekejaman dan pembantaian tersebut. Kalau kita memandang secara sempit, mmungkin kita akan sepakat dengan solusi dua negara bertetangga. Nyatanya, Israel memang ingin menguasai penuh Palestina. Dalih Holocaust oleh Nazi pada perang dunia II, tidak bisa menjadi pembenaran untuk melakukan genosida terhadap bangsa lain. Inilah yang pernah disentil Ahmadi Nejad, “Mengapa rakyat Palestina harus menanggung penderitaan dari kekejaman yang tidak pernah mereka lakukan.”

Lahir di Tel Aviv, 9 Juni 1963. Gilad hidup dalam lingkungan keluarga sekuler. Kakeknya seorang  Zionis tulen, yang beranggapan bahwa tribalisme (doktrin kesukuan Yahudi) tidak akan pernah bisa berdamai dengan humanisme dan universalisme. Pada usia 17 tahun, Gilad yang dibekali dengan rasisme Zionis, memasuki wajib militer. Namun, ketertarikannya justru ada pada musik Jazz. Setelah sebulan bergelut dengan saksofon, antusiasmenya terhadap Zionis menjadi punah sama sekali.  Ia, lalu mencari cara untuk tidak terlibat dalam aktivitas militer dengan bergabung dalam IAFO (the Israel Air Force Orchestra). Kesaksiannya melihat tawanan di perlakukan di Lebanon Selatan, menggetarkan jiwanya. Ia berkata; “pemimpin Israel semuanya Pembohong.” Meski Noam Chomsky sebagai pengritik Israel sebagai Negara Zionis yang rasis. Tetapi kualitas bidiknya jauh dibawah Gilad, yang menurut Syafii Ma’rif sebagai si “gila”. (2012: 67)

Isu sejarah tentang anti-semitisme oleh Hitler dengan memberangus kaum Yahudi Eropa, adalah hipnotis paling ampuh membenarkan tindakan Zionis. Demi suatu pembenaran sejarah atas rampokan tanah Palestina. Gilad dalam bukunya The Wandering Who? A Study of Jewish Identity Politics, mengupas spekulasi anti semitisme sebagai tindakan penipuan atas tanah rampasan. Dr. Kevin Barrett berkomentar;

“Gilad Atzmon adalah Musa pada era kita, menghimbau kita semua untuk keluar dari Mesir, dari nasionalisme dan rasialisme kita yang bodoh, dari paham eksepsionisme, dan perasaan manusia terpilih menuju suatu bentuk universalisme humanistik.” (2012: 107)

Pendirian Gilad Jelas, Palestina harus merdeka dengan solusi negara tunggal. Adapun Israel dengan Zionisme harus angkat kaki dari tanah curian itu. Dengan lantang, dia meramalkan bahwa sekali lagi orang yahudi harus mengembara menuju sebuah nasib yang tak terpetakan (to wander into an unknown fate).

Dengan berkeliling dunia, melalui musik jazz dan menulis buku. Gilad berkampanye untuk terus menyurakan kemerdekaan palestina. Membuka kedok Zionis pada dunia. Sebuah pilihan sulit, karena dia sendiri dibesarkan dikalangan Zionis. Namun kemerdekaan berfikir dan kebesaran jiwanya membuatnya lebih lantang menyuarakan kemerdekaan Palestina dibanding yang lain. Pernah Buya Syafii Ma’rif mengingatkan Gilad akan bahaya yang mengancam terutama dari Mossad. Jawaban Gilad:

There is not Much I can do about it...I may as well be a shaid (syhahid)”


Daftar Pustaka
Maarif, Ahmad Syafii. Gilad Atzmon; Catatan Kritikal tentang Palestina dan Masa Depan Zionisme. Bandung: Penerbit Mizan, 2012.


*) Muhammad Syahudin (Penggiat Literasi)
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner