Satu lagi, yang membuat saya
kagum dengan sosok buya Syafi’i Ma’rif. Daya jangkau pemikirannya sudah lintas
sektoral, kalau boleh dibilang mendunia. Berawal dari sebuah media The Palestine Chronicle online, ia
mengenal Gilad Atzmon, berlanjut dengan korespondensi via email. Hasilnya,
terbitlah buku dengan catatan kritikal tentang Palestina dan masa depan
Zionisme. Abdillah Toha, turut memberikan pengantar. Menurutnya, “dapat
dimengerti bila Israel sangat khawatir terhadap makin banyaknya keturunan
Yahudi yang kritis” (2012: 25). Gilad Atzmon memberikan komentarnya, “the liberation of Palestine will also
emancipate the Israelis, the Zionists and Jews who were hijacked by a racist
and expantionist ideology” (2012: 21). Gilad memang menyebut adanya suatu
bentuk kejahatan kemanusiaan, berupa perampasan dan rasisme oleh Zionis.
Gilad Atzmon, satu diantara
keturunan Yahudi yang akan membahayakan hari depan dan eksistensi Israel. Turut
pula George Steinner, seorang kritikus sastra terkenal. Eric Hobsbawm,
sejarawan terkemuka pendukung Intifada.
Profesor Norman Finkelstein, sejarawan Amerika yang membela Palestina dan
terang-terangan mendukung perjuangan Hizbullah di Lebanon. Richard Falk,
Profesor bidang hukum di Princeton
University bahkan menganggap Zionis tak ubahnya Nazi. Dan terakhir, Noam
Chomsky disebut-sebut intellectual
godfather dari pemikiran anti Israel.
Selama ini dunia seakan tak
berdaya. Negara-negara berkuasa seakan tunduk pada kekejaman Israel. Kita hanya bisa mengutuk kekejaman dan
pembantaian tersebut. Kalau kita memandang secara sempit, mmungkin kita akan
sepakat dengan solusi dua negara bertetangga. Nyatanya, Israel memang ingin
menguasai penuh Palestina. Dalih Holocaust oleh Nazi pada perang dunia II,
tidak bisa menjadi pembenaran untuk melakukan genosida terhadap bangsa lain.
Inilah yang pernah disentil Ahmadi Nejad, “Mengapa rakyat Palestina harus
menanggung penderitaan dari kekejaman yang tidak pernah mereka lakukan.”
Lahir di Tel Aviv, 9 Juni
1963. Gilad hidup dalam lingkungan keluarga sekuler. Kakeknya seorang Zionis tulen, yang beranggapan bahwa
tribalisme (doktrin kesukuan Yahudi) tidak akan pernah bisa berdamai dengan
humanisme dan universalisme. Pada usia 17 tahun, Gilad yang dibekali dengan
rasisme Zionis, memasuki wajib militer. Namun, ketertarikannya justru ada pada
musik Jazz. Setelah sebulan bergelut dengan saksofon, antusiasmenya terhadap
Zionis menjadi punah sama sekali. Ia,
lalu mencari cara untuk tidak terlibat dalam aktivitas militer dengan bergabung
dalam IAFO (the Israel Air Force
Orchestra). Kesaksiannya melihat tawanan di perlakukan di Lebanon Selatan, menggetarkan
jiwanya. Ia berkata; “pemimpin Israel semuanya Pembohong.” Meski Noam Chomsky
sebagai pengritik Israel sebagai Negara Zionis yang rasis. Tetapi kualitas
bidiknya jauh dibawah Gilad, yang menurut Syafii Ma’rif sebagai si “gila”.
(2012: 67)
Isu sejarah tentang
anti-semitisme oleh Hitler dengan memberangus kaum Yahudi Eropa, adalah
hipnotis paling ampuh membenarkan tindakan Zionis. Demi suatu pembenaran
sejarah atas rampokan tanah Palestina. Gilad dalam bukunya The Wandering Who? A Study of Jewish Identity Politics, mengupas
spekulasi anti semitisme sebagai tindakan penipuan atas tanah rampasan. Dr.
Kevin Barrett berkomentar;
“Gilad Atzmon adalah Musa
pada era kita, menghimbau kita semua untuk keluar dari Mesir, dari nasionalisme
dan rasialisme kita yang bodoh, dari paham eksepsionisme, dan perasaan manusia
terpilih menuju suatu bentuk universalisme humanistik.” (2012: 107)
Pendirian Gilad Jelas, Palestina
harus merdeka dengan solusi negara tunggal. Adapun Israel dengan Zionisme harus
angkat kaki dari tanah curian itu. Dengan lantang, dia meramalkan bahwa sekali
lagi orang yahudi harus mengembara menuju sebuah nasib yang tak terpetakan (to wander into an unknown fate).
Dengan berkeliling dunia,
melalui musik jazz dan menulis buku. Gilad berkampanye untuk terus menyurakan
kemerdekaan palestina. Membuka kedok Zionis pada dunia. Sebuah pilihan sulit,
karena dia sendiri dibesarkan dikalangan Zionis. Namun kemerdekaan berfikir dan
kebesaran jiwanya membuatnya lebih lantang menyuarakan kemerdekaan Palestina
dibanding yang lain. Pernah Buya Syafii Ma’rif mengingatkan Gilad akan bahaya
yang mengancam terutama dari Mossad. Jawaban Gilad:
“There is not Much I can do about it...I may as well be a shaid (syhahid)”
Daftar Pustaka
Maarif,
Ahmad Syafii. Gilad Atzmon; Catatan
Kritikal tentang Palestina dan Masa Depan Zionisme. Bandung: Penerbit
Mizan, 2012.
*) Muhammad Syahudin
(Penggiat Literasi)
