Benarkah sepakbola sudah menjadi agama. Ataukah agama tak ubahnya seperti sepakbola beserta seluruh identitas yang melekat di dalamnya. Ketika menyebut sebuah agama, maka pikiran kita akan tergiring kedalam suatu sistem praktek kepercayaan dan simbolitas yang melekat padanya. Tak jauh berbeda dengan sepakbola, saat menyebut nama tim sepakbola maka identitas yang ada beserta “rumah peribadatannya” pun diketahui.
Emile Durkheim mengatakan
bahwa agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan
praktik yang berhubungan dengan hal suci
(baca; disucikan). Karena
itu, setiap agama memiliki jalan ritus, untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Melalui agama, manusia mengenal dan menjalankan keyakinannya. Dengan agama
pula, manusia menata hubungan sosial dan interaksi sesama. Kehadirannya,
menjadi kontrol bagi manusia. Sehingga wajar, ketika dari sudut tertentu agama
menjadi hal yang sangat sensitif bagi manusia.
Dalam sepakbola,
pemain idola dipuja laiknya seorang nabi. Segala gerak geriknya diikuti dan
diteladani oleh fans. Apapun yang menimpa sang idola dengan segala atributnya
akan dibela. Bila tim kalah, ricuh antar pemain bisa terjadi. Perkelahian antara
para pendukung, terkadang tak dapat dielakkan. Tak peduli benar ataukah salah,
bila tim sepakbola tidak dapat memenuhi ekspektasi publik biasanya berujung
chaos antara pendukung.
Dewasa ini, ada
kemiripan penganut agama dengan fans sebakbola. Dimana beragama berdasarkan
kecendrungan kelompok. Apapun yang dilakukan sang tokoh, akan dibela
mati-matian. Sehingga tidak jarang, kelompok yang merasa benar melakukan
persekusi bahkan anarki terhadap kelompok yang dituduh bersalah. Bentrok pendukung
saling klaim benar mengingatkan akan militansi fans sepakbola.
Meskipun kadang
ricuh, dibeberapa negara di Eropa. Sikap respect terhadap tim lawan patut kita
apresiasi. Kedewasaan dalam bermain sepakbola, mungkin terkait dengan kualitas
mental mereka yang bisa dibilang sudah profesional. Berbanding terbalik pada
negara-negara di Asia, kebanyakan negara berkembang, mental mereka belum
teruji. Tensi tinggi dan mudah emosi seperti sudah menjadi ciri khas. Berkaca pada
liga-liga yang ada di Indonesia, wasit kadang dianiaya, pemain baku pukul dan
tawuran antara fans masih sering terjadi. Tak jarang, ada yang mati.
Walhasil, bila
mental beragama tidak profesional. Kita akan sangat mudah tersulut untuk
melakukan tindakan kejam. Karena itu, banyaklah membaca buku, agar pengetahuan
bertambah. Bertanyalah tentang sesuatu kepada ahlinya, agar kita dapat
meningkatkan kualitas diri.
*) Muhammad
Syahudin (Peminat Literasi)
