-->

Wednesday, September 20, 2017

AGAMA SEPAKBOLA


Benarkah sepakbola sudah menjadi agama. Ataukah agama tak ubahnya seperti sepakbola beserta seluruh identitas yang melekat di dalamnya. Ketika menyebut sebuah agama, maka pikiran kita akan tergiring kedalam suatu sistem praktek kepercayaan dan simbolitas yang melekat padanya. Tak jauh berbeda dengan sepakbola, saat menyebut nama tim sepakbola maka identitas yang ada beserta rumah peribadatannya pun diketahui.

Emile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal suci (baca; disucikan). Karena itu, setiap agama memiliki jalan ritus, untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Melalui agama, manusia mengenal dan menjalankan keyakinannya. Dengan agama pula, manusia menata hubungan sosial dan interaksi sesama. Kehadirannya, menjadi kontrol bagi manusia. Sehingga wajar, ketika dari sudut tertentu agama menjadi hal yang sangat sensitif bagi manusia.

Dalam sepakbola, pemain idola dipuja laiknya seorang nabi. Segala gerak geriknya diikuti dan diteladani oleh fans. Apapun yang menimpa sang idola dengan segala atributnya akan dibela. Bila tim kalah, ricuh antar pemain bisa terjadi. Perkelahian antara para pendukung, terkadang tak dapat dielakkan. Tak peduli benar ataukah salah, bila tim sepakbola tidak dapat memenuhi ekspektasi publik biasanya berujung chaos antara pendukung.

Dewasa ini, ada kemiripan penganut agama dengan fans sebakbola. Dimana beragama berdasarkan kecendrungan kelompok. Apapun yang dilakukan sang tokoh, akan dibela mati-matian. Sehingga tidak jarang, kelompok yang merasa benar melakukan persekusi bahkan anarki terhadap kelompok yang dituduh bersalah. Bentrok pendukung saling klaim benar mengingatkan akan militansi fans sepakbola.

Meskipun kadang ricuh, dibeberapa negara di Eropa. Sikap respect terhadap tim lawan patut kita apresiasi. Kedewasaan dalam bermain sepakbola, mungkin terkait dengan kualitas mental mereka yang bisa dibilang sudah profesional. Berbanding terbalik pada negara-negara di Asia, kebanyakan negara berkembang, mental mereka belum teruji. Tensi tinggi dan mudah emosi seperti sudah menjadi ciri khas. Berkaca pada liga-liga yang ada di Indonesia, wasit kadang dianiaya, pemain baku pukul dan tawuran antara fans masih sering terjadi. Tak jarang, ada yang mati.

Walhasil, bila mental beragama tidak profesional. Kita akan sangat mudah tersulut untuk melakukan tindakan kejam. Karena itu, banyaklah membaca buku, agar pengetahuan bertambah. Bertanyalah tentang sesuatu kepada ahlinya, agar kita dapat meningkatkan kualitas diri.


*) Muhammad Syahudin (Peminat Literasi)
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner