Modernisasi dan kemajuan
tekhnologi industri yang diagung-agungkan, telah menjadi biang banyak persoalan
kemanusiaan. Segelintir manusia, mampu membuat teknologi. Namun ribuan bahkan
jutaan manusia menanggung akibatnya. Sedikit manusia mengembangkan sains untuk
kemajuan, tapi begitu banyak manusia yang harus menanggung beban penderitaan.
Mudahnya akses informasi
via tekhnologi cyber, perlahan nan
pasti menggiring manusia ke dalam budaya baru, yaitu budaya simbol. Saking
kuatnya, simbol-simbol menggerakkan dan memengaruhi tindakan. Ernst Cassirer,
bahkan menyebut manusia sebagai makhluk simbol (animal symbolicium). Keterjebakan terhadap simbol, telah membentuk
suatu karaktek split personality (kepribadian
ganda) pada manusia.
Media memiliki andil paling
besar dalam pembentukan karakter ini. Pola pikir kita diarahkan kepada suatu
pola konsumtif. Dimana ketergantungan kita akan suatu produk/barang, tidak
semata karena kebutuhan. Tetapi ada sebuah tanda simbolis, yang ingin kita
raih. Marx mengatakan bahwa, suatu produk tergantung pada; nilai guna (use value) dan nilai tukar (exchange value), terhadap kebutuhan dan
pasar (Lechte, 2001:352). Tetapi menurut Boudrillard, objek produk juga
mengandung; nilai simbol (symbolic value)
dan nilai tanda (sign value) yang
bersifat abstrak. Bila Marx menganggap produksi sebagai basis ekonomi, maka
Boudrillard berpendapat justru konsumsilah yang menjadi intinya (Fadhillah,
2011:1).
Dengan penanda simbol,
sebuah makna ingin di paksakan untuk berterima. Tidak cukup dengan sekedar
menikung realitas, bahkan mempolitisasi makna juga di lakukan. Asumsikanlah
bahwa manusia memang simbolis, tapi bukan berarti bahwa simbol yang menjadi tolak ukur terhadap realitas.
Kita bisa saja terjebak pada kepalsuan yang terus menerus diproduksi di alam
pikiran, bahwa kenyataan dari kepalsuan adalah kebenaran. Maka tidak salah,
bila ada yang berpikir, bahwa masa depan dari kebenaran adalah kebohongan.
Mengapa? Karena simbol tidaklah mewakili makna seutuhnya.
Pola konsumtif tidaklah
lahir begitu saja pada masyarakat. Tetapi, ada semacam proses paradigmatik.
Sebuah pola merubah cara pandang hidup, lalu menggantinya dengan cara pandang kapital.
Bagaimana menggiring opini masyarakat dari pola kebutuhan hidup, menjadi lifestyle. Uniknya, cara seperti itu
tidak semata melekat pada konsumsi barang/jasa. Nyatanya, aspek sosial dan
agama-pun ikut tergerus dengan norma-norma simbolitas. Tak heran, bila kemudian
pengetahuan terhadap simbol-simbol agama membentuk karakter penganutnya. Kita
bisa menerima simbol tertentu, pun juga bisa menolaknya. Selama ada titik devinasi atau rasa empati terhadap
perbedaan tafsir atas makna simbol.
Kesan yang dimunculkan dalam
makna simbolitas, tak bisa dikatakan berdiri sendiri. Ada semacam konteks saat
kita memaknainya. Seperti ketika kita makan ayam goreng. Ada kesan yang
berbeda, bila dilakukan di KFC. Sebagaimana dikatakan Boudrillard, di dalamnya
terkandung nilai simbol (symbolic value)
dan nilai tanda (sign value) yang
bersifat abstrak. Nilai guna dan manfaat, dikesampingkan demi memenuhinya. Begitupun,
bila seseorang meletakkan agama, pada kedua nilai tadi. Kita akan kesulitan
memahami makna agama. Keterposanaan terhadap simbolitas, dapat mengalahkan akal
sehat.
*) Muhammad Syahudin
(Peminat Literasi)
