-->

Wednesday, September 20, 2017

Kuasa Simbol dalam Masyarakat Konsumtif


Modernisasi dan kemajuan tekhnologi industri yang diagung-agungkan, telah menjadi biang banyak persoalan kemanusiaan. Segelintir manusia, mampu membuat teknologi. Namun ribuan bahkan jutaan manusia menanggung akibatnya. Sedikit manusia mengembangkan sains untuk kemajuan, tapi begitu banyak manusia yang harus menanggung beban penderitaan.

Mudahnya akses informasi via tekhnologi cyber, perlahan nan pasti menggiring manusia ke dalam budaya baru, yaitu budaya simbol. Saking kuatnya, simbol-simbol menggerakkan dan memengaruhi tindakan. Ernst Cassirer, bahkan menyebut manusia sebagai makhluk simbol (animal symbolicium). Keterjebakan terhadap simbol, telah membentuk suatu karaktek split personality (kepribadian ganda) pada manusia.

Media memiliki andil paling besar dalam pembentukan karakter ini. Pola pikir kita diarahkan kepada suatu pola konsumtif. Dimana ketergantungan kita akan suatu produk/barang, tidak semata karena kebutuhan. Tetapi ada sebuah tanda simbolis, yang ingin kita raih. Marx mengatakan bahwa, suatu produk tergantung pada; nilai guna (use value) dan nilai tukar (exchange value), terhadap kebutuhan dan pasar (Lechte, 2001:352). Tetapi menurut Boudrillard, objek produk juga mengandung; nilai simbol (symbolic value) dan nilai tanda (sign value) yang bersifat abstrak. Bila Marx menganggap produksi sebagai basis ekonomi, maka Boudrillard berpendapat justru konsumsilah yang menjadi intinya (Fadhillah, 2011:1).

Dengan penanda simbol, sebuah makna ingin di paksakan untuk berterima. Tidak cukup dengan sekedar menikung realitas, bahkan mempolitisasi makna juga di lakukan. Asumsikanlah bahwa manusia memang simbolis, tapi bukan berarti bahwa simbol  yang menjadi tolak ukur terhadap realitas. Kita bisa saja terjebak pada kepalsuan yang terus menerus diproduksi di alam pikiran, bahwa kenyataan dari kepalsuan adalah kebenaran. Maka tidak salah, bila ada yang berpikir, bahwa masa depan dari kebenaran adalah kebohongan. Mengapa? Karena simbol tidaklah mewakili makna seutuhnya.

Pola konsumtif tidaklah lahir begitu saja pada masyarakat. Tetapi, ada semacam proses paradigmatik. Sebuah pola merubah cara pandang hidup, lalu menggantinya dengan cara pandang kapital. Bagaimana menggiring opini masyarakat dari pola kebutuhan hidup, menjadi lifestyle. Uniknya, cara seperti itu tidak semata melekat pada konsumsi barang/jasa. Nyatanya, aspek sosial dan agama-pun ikut tergerus dengan norma-norma simbolitas. Tak heran, bila kemudian pengetahuan terhadap simbol-simbol agama membentuk karakter penganutnya. Kita bisa menerima simbol tertentu, pun juga bisa menolaknya. Selama ada titik devinasi atau rasa empati terhadap perbedaan tafsir atas makna simbol.

Kesan yang dimunculkan dalam makna simbolitas, tak bisa dikatakan berdiri sendiri. Ada semacam konteks saat kita memaknainya. Seperti ketika kita makan ayam goreng. Ada kesan yang berbeda, bila dilakukan di KFC. Sebagaimana dikatakan Boudrillard, di dalamnya terkandung nilai simbol (symbolic value) dan nilai tanda (sign value) yang bersifat abstrak. Nilai guna dan manfaat, dikesampingkan demi memenuhinya. Begitupun, bila seseorang meletakkan agama, pada kedua nilai tadi. Kita akan kesulitan memahami makna agama. Keterposanaan terhadap simbolitas, dapat mengalahkan akal sehat.


*) Muhammad Syahudin (Peminat Literasi)
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner