-->

Wednesday, September 27, 2017

Seni Memahami Schleiermacher



Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher, dilahirkan pada tanggal 21 november 1768 di Breslau, Polandia. Minatnya yang besar terhadap studi filsafat, teologi dan filologi[1] mengantarnya ke Universitas Halle, Berlin. Di tempat itulah, pertama kali ia berkenalan dengan filsafat kritis Kant.[2] Di bawah bimbingan Johann August Eberhard , dia mempelajari buku Kant “Kritik atas akal Murni” lalu mendarasnya.[3] Perkenalannya dengan filsuf Friedrich Schlegel, mendorongnya menerjemahkan karya-karya Plato. Aktifitas itu, membuatnya bersentuhan dengan Romantisme.[4] Merupakan gerakan kritis terhadap pencerahan abad ke-18. Sebuah kerinduan filosofis akan keseluruhan organis yang hilang oleh modernisasi. Terpengaruh begitu dalam dengan Romantisme, membuat pandangan Schleiermacher sangat diperhitungkan dalam filsafat agama.

Pada masa itu, pandangan Kant dan Hegel dianggap paling populer. Bila Kant menyempitkan agama dalam ruang moralitas, Hegel menempatkan agama pada rasionalitas semata. Schleiermacher, justru menganggap agama adalah perasaan ketergantungan mutlak di hadapan alam semesta.[5] Karena itu, Schleiermacher cenderung dikenal sebagai seorang teolog ketimbang filsuf. Kemampuannya menerapkan metode-metode filologi dan metode hermeunetik teologis untuk teks-teks yang tidak berhubungan dengan Bible, diyakini sebagai pencapaian pemahaman atas makna teks.[6] Namun manuscripnya tentang hermeneutik, membuatnya lebih dikenal sebagai pendiri hermeneutik Romantik.

Istilah memahami (Verstehen) dalam hermeneutik, memang diperkenalkan oleh Schleiermacher. Mengacu pada proses, yaitu kegiatan menangkap makna dalam bahasa terhadap struktur-struktur simbol atau teks. Obyek memahami tidak lain daripada bahasa, tetapi bahasa tidak dapat dilepaskankan dari pikiran penuturnya. Karena itu, perlu dibedakan antara “memahami” dalam konteks bahasa dengan “memahami” sebagai sebuah fakta di alam pikiran penutur.[7] Cara memahami ada yang secara spontan dan dengan upaya. Memahami secara spontan, dikarenakan kita tidak berhadapan dengan diksi problematis. Karena berangkat dari kesepahaman. sedangkan memahami dengan upaya, ditimbulkan karena adanya diksi yang bersifat problematis. Biasanya menimbulkan kesalahpahaman. Dikarenakan adanya ketidaksepahaman dalam “memahami”.

Schleiermacher bertolak dari kesalahpahaman. Lazim terjadi karena adanya perbedaan kultur, bahasa maupun kelompok. Mengapa ada kesalahpahaman? Menurut Schleiermacher, karena adanya prasangka. Bila kita mementingkan persfektif kita sendiri, lalu salah dalam memahami maksud pembicara atau penulis, kita telah berprasangka kepadanya.[8] Pada titik ini, hermeneutik disebut sebagai “seni”. Karena bertolak dari situasi tanpa pemahaman bersama, atau kesalahpahaman secara umum, dan praktik untuk mengatasi kesalahpahaman umum dilakukan dengan kaidah-kaidah tertentu.

Hermeneutik Schleiermacher agaknya membatasi diri, pada seni memahami saja. Seni berbicara dan menulis, merupakan presentasi atas apa yang telah dikatakan. Sementara, hermeneutik memusatkan diri antara apa yang dikatakan dengan apa yang dipikirkan. Dalam berbicara, terjadi gerakan dari dalam pikiran ke luar, yakni ungkapannya. Dalam memahami terjadi sebaliknya, gerak dari luar ke dalam pikiran, ungkapan bahasa menuju ke pemikiran. Bisa juga dikatakan mencari pemikiran di belakang ungkapan. Dengan demikian, hermeneutik merupakan bagian dari seni berfikir, dan bersifat filosofis. Kesenjangan yang terjadi antara kata dan pikiran, diatasi dengan upaya rasional yang disebut “interpretasi”.

Pendasaran hermeneutik Schleiermacher, tidak bisa dilepaskan dari pendahulunya. Terkhusus dalam bidang filologi. Adalah Friedrich Ast (1778-1841) dan Friedrich August Wolf (1759-1824), turut memengaruhinya. Menurut Ast, tugas filologi adalah menangkap “ruh” (mental) dalam kebudayaan Yunani dan Romawi kuno. Seperti tata nilai, moralitas dan alam pikir. Untuk memahami kebudayaan kuno, penafsir harus mengerti karya-karya individu dengan pendekatan gramatikal. Merupakan tugas hermeneutik, membawa keluar makna internal teks beserta situasinya menuju zamannya.[9] Adapun wolf berpendapat, teks kuno adalah alat untuk menangkap makna. Penafsir harus mampu menangkap pikiran penulis, dengan cara menempatkan diri dalam situasi si penulis. Keduanya memiliki kesamaan, yaitu perlunya memasuki dunia mental si penulis.

Ada banyak teks-teks yang membutuhkan pemahaman atas maknanya. Seperti kitab suci, teks-teks sastra, dokumen, dst. Karena itu, Schleiermacher meski sependapat dengan pendahulunya, tentang perlunya memasuki dunia mental si penulis. Tapi, tidak membatasi semata hanya pada teks-teks kuno. Baginya, menghubungkan semua teks dengan gramatik berlaku untuk semua teks. Tidak ada keharusan menempatkan hermeneutik hanya pada disiplin spesifik, seperti teologi, filologi dst. Langkah berfikir Schleiermacher ini, menjadikannya sebagai bapak hermeneutik modern. Karena ia melepaskan keterikatan hermeneutik dari disiplin sfesifik ke disiplin yang bersifat universal.

Memahami dengan Interpretasi
kita mungkin sudah mengenal kitab (Sureq) I lagaligo, karya sastra terpanjang di dunia dengan tulisan pada lontara. Kitab aslinya sekarang ada di Belanda. Manuskrip bersejarah yang berasal dari luwu ini, telah ditulis ulang dan dikumpulkan oleh Datuk Colliq Pujie, atas permintaan missionaris belanda B.F. Matthes. Bagi kita yang hidup sekarang, ada beberapa kesulitan untuk memahami teks saat membacanya. Seperti kesenjangan waktu, antara kita dan penulisnya, bahasa yang dipakai penulis, konteks kebudayaan penulis, dan terutama pengalaman-pengalaman subyektifnya. Tidak ada kalimat-kalimat secara tertulis, yang menggambarkan penghayatan batin (dunia mental) penulis.

Schleiermacher membuat sebuah tawaran, yaitu memahami dengan interpretasi. Untuk memasuki dunia mental (pikiran) si penulis, interpretasi perlu dibedakan antara “interpretasi gramatikal” dengan ‘interpretasi psikologis”. Pada interpretasi gramatikal, proses memahami teks bermula dari bahasa, struktur kalimat serta hubungannya dengan teks-teks dengan genre yang sama. Sedangkan pada interpretasi psikologis, proses memahami dengan rekonstruksi pengalaman mental pengarang teks. Yang dicari adalah indiviudualisme pengarang. Bila interpretasi gramatikal bertumpu pada sisi obyektif, maka interpretasi psikologis bertolak pada sisi subyektif penulis, atau bisa juga disebut interpretasi “tekhnik”.[10] Penafsir, harus menempatkan dirinya baik secara obyektif maupun subyektif dalam posisi penulis. Schleiermacher lalu menyebutnya sebagai lingkaran hermeneutik. Dimana kedudukan keduanya adalah setara, dan tidak saling menegasikan. Kita dapat menangkap maksud penulis melalui pilihan gramatikal, sekaligus sisi subyektifitas penulis. Kekuatan akal kita mampu untuk melakukan proses itu secara divinatoris (intuitif) dan komparatif, dengan cara mengambil alih posisi penulis agar dapat menangkap kepribadiannya secara langsung.

Dalam sebuah interpretasi, Schleiermacher menganggap bahwa pembaca dapat melampaui penulis teks. Bahkan, pembaca dapat memahami teks lebih baik dari penulisnya. Tidak ada pemahaman yang berjarak (understanding at a distance), penafsir dapat menempatkan diri dalam “pengarang”, memahami suatu teks sebaik dan bahkan lebih baik dari pengarangnya.[11] Pernyataan ini tentu mengundang polemik.  Bagaimana mungkin pembaca lebih memahami makna teks, ketimbang penulisnya sendiri. Schleiermacher mengungkapkan alasannya, dengan menjelaskan lebih rinci tentang maksud kedua bentuk interpretasi yang disebutkan sebelumnya.

Dalam menggunakan interpretasi gamatikal, pertama-tama kita perlu memahami konteks hidup penulis. Schleiermacher menyebutnya lingkup (Sphare). Dalam memilih sebuah “kata” seorang penulis tidak bisa dilepaskan dari lingkup kehidupannya. Pembaca dapat membandingkan pemakaian kata tersebut dalam konteks yang lebih luas. Sebuah kata tidak pernah terisolasi, bahkan ketika berada sendiri, melainkan dari konteksnya. Kita tidak dapat sepenuhnya menjelaskan arti sebuah kata, yang diungkapkan penulis pada masa lalu karena bahasa bisa mati. Sedangkan makna bahasa yang masih hidup, juga sulit untuk dimaknai seutuhnya karena bisa saja berubah. Tapi seorang pembaca dapat mengakses lingkup penulis, dari berbagai sumber dan data yang tidak diketahui penulis itu sendiri. Kita dapat berhubungan dengan rasionalisme, metafisika, dan moralitas, serta menguji hal-hal yang kongkret dan aktual.[12] Pada tahap inilah, interpretasi psikologis dibutuhkan.

Lawrence K. Schmidt mendeskripsikan empat tahap interpretasi psikologis Schleiermacher. Pertama, menangkap keutuhan dan arah tulisan untuk menemukan “ide sentral” yang menggerakkan penulis. Kedua, mengidentifikasi tulisan dalam kontek obyektif, misalnya dengan menentukan tulisan dalam jenis yang sama. Ketiga, menemukan cara bagaimana penulis menata isi pikirannya. Dan keempat, menemukan pikiran-pikiran sekunder yang berkesinambungan dengan kehidupan penulis.[13] Untuk melampaui makna teks lebih baik dari pengarangnya, tahap interpretasi psikologis mesti dilakukan. Dengan itu kita dapat menemukan konteksnya.





DAFTAR PUSTAKA

Adian, Donny Gahral. 2006. Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra
Hardiman, F. Budi. 2015. Seni Memahami, Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Cet. IV. Yogyakarta: Kanisius
Muzir, Inyiak Ridwan. 2008. Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer. Jogjakarta; Ar-Ruzz Media
Palmer, Richard E. 2005. Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi. Yogyakarta; Pustaka Pelajar
Raharjo, Mudjia. 2008. Dasar-dasar Hermeneutika, Antara Intensionalisme dan Gadamer. Jogjakarta; Ar-Ruzz Media
Sumaryono, E. 1995. Hermeneutika Sebuah Metode Filsafat. Cet. II. Yogyakarta: Kanisius
Syamsuddin, Sahiron, dkk,. 2003.  Hermeneutika Al-Qur’an Mazhab Yogya, Yogyakarta: Islamika

----------------------------------
*) Muhammad Syahudin (Direktur Kajian Filsafat dan Imu Sosial)




[1] Mudjia Rahardjo. Dasar-dasar Hermeneutika antara intensionalisme dan Gadamer. (Jogjakarta; Ar-Ruzz Media, 2008), hal. 37

[2] Kritisisme adalah sistem filsafat yang dibangun oleh Immanuel Kant. Dalam sistem pemikirannya, Kant membedakan realitas menjadi fenomena dan noumena. Fenomena menurut Kant adalah dunia penampakan yang ditangkap secara khusus oleh manusia melalui kategori-kategori dengan gerbang terdepan berupa kategori ruang dan waktu. Fenomena adalah dunia objek-objek alam yang ditentukan oleh hukum-hukum mekanis Newtonian. Dunia noumena adalah dunia di balik penampakan ketika akal budi harus menyerah dan memberi tempat pada yang transenden, unik, individual berupa kekayaan batin yang misterius. Kant memang tidak menempatkan gagasan-gagasan transendental seperti jiwa, dunia dan Tuhan sebagai gagasan-gagasan yang konstitutif, tetapi ia menempatkannya sebagai gagasan-gagasan regulatif yang penting bagi manusia untuk menghindari jebakan materialisme (segala sesuatu adalah materi), naturalisme (alam adalah abadi, tak diciptakan, dan mencukupi dirinya sendiri), dan fatalisme (segala sesuatu di dunia telah ditentukan oleh Tuhan sehingga menihilkan kebebasan manusia)

[3] Dalam sumber lain disebutkan selain tulisan Kant, Schleiermacher juga mempelajari tulisan Heinrich Jacobi, yaitu seorang nihilis kelahiran Dusseldorf, meninggal pada 10 March 1819, dalam usia 76 tahun di Munich, Bavaria, German. Diantara karyanya yang penting adalah David Hume über den Glauben,Oder Idealismus und Realismus (1787) dan masih banyak karyanya yang lain.

[4]  Romantisisme adalah gerakan kultural yang melanda Eropa dan Amerika antara kurang lebih 1775 dan 1830. Romantisisme adalah reaksi terhadap supremasi rasio di abad pencerahan yang menjadi kaku dan cenderung rasionalistk: mereduksi segala sesuatu menjadi apa yang ditangkap rasio saja dan memarjinalisasikan emosi, kehendak, libido, nafsu, spontanitas sebagai suatu yang subjektif-distortif dan dapat menurunkan derajat kebenaran ilmiah

[5] F. Budi Hardiman, Seni Memahami, Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Cet. IV. (Yogyakarta; Kanisius, 2015), hal. 29

[6] Menurut E. Palmer paling tidak ada enam fungsi hermeneutika sebagai wacana: pertama, hermeneutika sebagai teori penafsiran kitab suci, kedua, hermeneutika sebagai sebuah metode filologi,ketiga, hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistik (science of linguistic understanding), keempat, hermeneutika sebagai fondasi ilmu kemanusiaan, kelima, hermeneutika sebagai fenomena das sein dan pemahaman eksistensial, keenam, hermeneutika sebagai sistem penafsiran. Lain halnya dengan Jose Bleicherhanya membagi hermeneutika menjadi tiga bagian, pertama, hermeneutika sebagai sebuah metodologi, kedua, hermeneutika sebagai filsafat, ketiga, hermeneutika sebagai kritik. Untuk lebih detailnya baca tulisan Muzairi dalam Sahiron Syamsuddin, dkk, Hermeneutika Al-Qur’an Mazhab Yogya, (Yogyakarta: Islamika, 2003), 54-58.

[7] F. Budi Hardiman, Seni Memahami, Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida....op.cit, hal. 31

[8] Ibid,.
[9] E. Sumaryono, Hermeneutika Sebuah Metode Filsafat. Cet. II. (Yogyakarta: Kanisius, 1995), hal. 37
[10] Inyiak Ridwan Muzir.Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer.(Jogjakarta; Ar-Ruzz Media, 2008), hal. 72

[11] Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer, (Yogyakarta: Jalasutra, 2005),  hal. 205

[12] Richard E. Palmer. 2005. Hermeneutika, Teori baru mengenai interpretasi. (Yogyakarta; Pustaka Pelajar), hal. 95

[13] F. Budi Hardiman, Seni Memahami, Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida....op.cit., hal. 60
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner