Friedrich
Daniel Ernst Schleiermacher, dilahirkan pada tanggal 21 november
1768 di Breslau, Polandia. Minatnya yang besar terhadap studi filsafat, teologi
dan filologi[1] mengantarnya ke
Universitas Halle, Berlin. Di tempat itulah, pertama kali ia berkenalan dengan
filsafat kritis Kant.[2]
Di bawah bimbingan Johann August Eberhard , dia mempelajari buku Kant “Kritik
atas akal Murni” lalu mendarasnya.[3]
Perkenalannya dengan filsuf Friedrich Schlegel, mendorongnya menerjemahkan karya-karya
Plato. Aktifitas itu, membuatnya bersentuhan dengan Romantisme.[4] Merupakan gerakan
kritis terhadap pencerahan abad ke-18. Sebuah kerinduan filosofis akan
keseluruhan organis yang hilang oleh modernisasi. Terpengaruh begitu dalam
dengan Romantisme, membuat pandangan Schleiermacher sangat diperhitungkan dalam
filsafat agama.
Pada masa itu, pandangan
Kant dan Hegel dianggap paling populer. Bila Kant menyempitkan agama dalam
ruang moralitas, Hegel menempatkan agama pada rasionalitas semata. Schleiermacher,
justru menganggap agama adalah perasaan ketergantungan mutlak di hadapan alam
semesta.[5] Karena itu, Schleiermacher
cenderung dikenal sebagai seorang teolog ketimbang filsuf. Kemampuannya
menerapkan metode-metode filologi dan metode hermeunetik teologis untuk
teks-teks yang tidak berhubungan dengan Bible, diyakini sebagai pencapaian
pemahaman atas makna teks.[6]
Namun manuscripnya tentang hermeneutik, membuatnya lebih dikenal sebagai
pendiri hermeneutik Romantik.
Istilah memahami (Verstehen) dalam hermeneutik, memang
diperkenalkan oleh Schleiermacher. Mengacu pada proses, yaitu kegiatan
menangkap makna dalam bahasa terhadap struktur-struktur simbol atau teks. Obyek
memahami tidak lain daripada bahasa, tetapi bahasa tidak dapat dilepaskankan
dari pikiran penuturnya. Karena itu, perlu dibedakan antara “memahami” dalam
konteks bahasa dengan “memahami” sebagai sebuah fakta di alam pikiran penutur.[7] Cara memahami ada
yang secara spontan dan dengan upaya. Memahami secara spontan, dikarenakan kita
tidak berhadapan dengan diksi problematis. Karena berangkat dari kesepahaman.
sedangkan memahami dengan upaya, ditimbulkan karena adanya diksi yang bersifat
problematis. Biasanya menimbulkan kesalahpahaman. Dikarenakan adanya
ketidaksepahaman dalam “memahami”.
Schleiermacher bertolak
dari kesalahpahaman. Lazim terjadi karena adanya perbedaan kultur, bahasa
maupun kelompok. Mengapa ada kesalahpahaman? Menurut Schleiermacher, karena
adanya prasangka. Bila kita mementingkan persfektif kita sendiri, lalu salah
dalam memahami maksud pembicara atau penulis, kita telah berprasangka
kepadanya.[8] Pada titik ini,
hermeneutik disebut sebagai “seni”. Karena bertolak dari situasi tanpa
pemahaman bersama, atau kesalahpahaman secara umum, dan praktik untuk mengatasi
kesalahpahaman umum dilakukan dengan kaidah-kaidah tertentu.
Hermeneutik Schleiermacher agaknya
membatasi diri, pada seni memahami saja. Seni berbicara dan menulis, merupakan
presentasi atas apa yang telah dikatakan. Sementara, hermeneutik memusatkan
diri antara apa yang dikatakan dengan apa yang dipikirkan. Dalam berbicara,
terjadi gerakan dari dalam pikiran ke luar, yakni ungkapannya. Dalam memahami
terjadi sebaliknya, gerak dari luar ke dalam pikiran, ungkapan bahasa menuju ke
pemikiran. Bisa juga dikatakan mencari pemikiran di belakang ungkapan. Dengan
demikian, hermeneutik merupakan bagian dari seni berfikir, dan bersifat
filosofis. Kesenjangan yang terjadi antara kata dan pikiran, diatasi dengan
upaya rasional yang disebut “interpretasi”.
Pendasaran hermeneutik Schleiermacher,
tidak bisa dilepaskan dari pendahulunya. Terkhusus dalam bidang filologi. Adalah
Friedrich Ast (1778-1841) dan Friedrich August Wolf (1759-1824),
turut memengaruhinya. Menurut Ast, tugas filologi adalah menangkap “ruh”
(mental) dalam kebudayaan Yunani dan Romawi kuno. Seperti tata nilai, moralitas
dan alam pikir. Untuk memahami kebudayaan kuno, penafsir harus mengerti
karya-karya individu dengan pendekatan gramatikal. Merupakan tugas hermeneutik,
membawa keluar makna internal teks beserta situasinya menuju zamannya.[9] Adapun wolf berpendapat,
teks kuno adalah alat untuk menangkap makna. Penafsir harus mampu menangkap
pikiran penulis, dengan cara menempatkan diri dalam situasi si penulis. Keduanya
memiliki kesamaan, yaitu perlunya memasuki dunia mental si penulis.
Ada banyak teks-teks yang
membutuhkan pemahaman atas maknanya. Seperti kitab suci, teks-teks sastra,
dokumen, dst. Karena itu, Schleiermacher meski sependapat dengan pendahulunya, tentang
perlunya memasuki dunia mental si penulis. Tapi, tidak membatasi semata hanya
pada teks-teks kuno. Baginya, menghubungkan semua teks dengan gramatik berlaku
untuk semua teks. Tidak ada keharusan menempatkan hermeneutik hanya pada
disiplin spesifik, seperti teologi, filologi dst. Langkah berfikir Schleiermacher
ini, menjadikannya sebagai bapak hermeneutik modern. Karena ia melepaskan
keterikatan hermeneutik dari disiplin sfesifik ke disiplin yang bersifat
universal.
Memahami
dengan Interpretasi
kita mungkin sudah mengenal
kitab (Sureq) I lagaligo, karya
sastra terpanjang di dunia dengan tulisan pada lontara. Kitab aslinya sekarang
ada di Belanda. Manuskrip bersejarah yang berasal dari luwu ini, telah ditulis
ulang dan dikumpulkan oleh Datuk Colliq Pujie, atas permintaan missionaris belanda B.F. Matthes. Bagi kita yang hidup sekarang,
ada beberapa kesulitan untuk memahami teks saat membacanya. Seperti kesenjangan
waktu, antara kita dan penulisnya, bahasa yang dipakai penulis, konteks
kebudayaan penulis, dan terutama pengalaman-pengalaman subyektifnya. Tidak ada
kalimat-kalimat secara tertulis, yang menggambarkan penghayatan batin (dunia
mental) penulis.
Schleiermacher membuat
sebuah tawaran, yaitu memahami dengan interpretasi. Untuk memasuki dunia mental
(pikiran) si penulis, interpretasi perlu dibedakan antara “interpretasi
gramatikal” dengan ‘interpretasi psikologis”. Pada interpretasi gramatikal,
proses memahami teks bermula dari bahasa, struktur kalimat serta hubungannya
dengan teks-teks dengan genre yang sama. Sedangkan pada interpretasi psikologis,
proses memahami dengan rekonstruksi pengalaman mental pengarang teks. Yang
dicari adalah indiviudualisme pengarang. Bila interpretasi gramatikal bertumpu
pada sisi obyektif, maka interpretasi psikologis bertolak pada sisi subyektif
penulis, atau bisa juga disebut interpretasi “tekhnik”.[10] Penafsir, harus
menempatkan dirinya baik secara obyektif maupun subyektif dalam posisi penulis.
Schleiermacher lalu menyebutnya sebagai lingkaran hermeneutik. Dimana kedudukan
keduanya adalah setara, dan tidak saling menegasikan. Kita dapat menangkap
maksud penulis melalui pilihan gramatikal, sekaligus sisi subyektifitas
penulis. Kekuatan akal kita mampu untuk melakukan proses itu secara divinatoris (intuitif) dan komparatif, dengan cara mengambil alih
posisi penulis agar dapat menangkap kepribadiannya secara langsung.
Dalam sebuah interpretasi, Schleiermacher
menganggap bahwa pembaca dapat melampaui penulis teks. Bahkan, pembaca dapat
memahami teks lebih baik dari penulisnya. Tidak ada pemahaman yang berjarak (understanding at a distance), penafsir
dapat menempatkan diri dalam “pengarang”, memahami suatu teks sebaik dan bahkan
lebih baik dari pengarangnya.[11]
Pernyataan ini tentu mengundang polemik.
Bagaimana mungkin pembaca lebih memahami makna teks, ketimbang
penulisnya sendiri. Schleiermacher mengungkapkan alasannya, dengan menjelaskan lebih
rinci tentang maksud kedua bentuk interpretasi yang disebutkan sebelumnya.
Dalam menggunakan
interpretasi gamatikal, pertama-tama kita perlu memahami konteks hidup penulis.
Schleiermacher menyebutnya lingkup (Sphare).
Dalam memilih sebuah “kata” seorang penulis tidak bisa dilepaskan dari lingkup
kehidupannya. Pembaca dapat membandingkan pemakaian kata tersebut dalam konteks
yang lebih luas. Sebuah kata tidak pernah terisolasi, bahkan ketika berada
sendiri, melainkan dari konteksnya. Kita tidak dapat sepenuhnya menjelaskan arti
sebuah kata, yang diungkapkan penulis pada masa lalu karena bahasa bisa mati.
Sedangkan makna bahasa yang masih hidup, juga sulit untuk dimaknai seutuhnya
karena bisa saja berubah. Tapi seorang pembaca dapat mengakses lingkup penulis,
dari berbagai sumber dan data yang tidak diketahui penulis itu sendiri. Kita
dapat berhubungan dengan rasionalisme, metafisika, dan moralitas, serta menguji
hal-hal yang kongkret dan aktual.[12]
Pada tahap inilah, interpretasi psikologis dibutuhkan.
Lawrence K. Schmidt
mendeskripsikan empat tahap interpretasi psikologis Schleiermacher. Pertama, menangkap keutuhan dan arah
tulisan untuk menemukan “ide sentral” yang menggerakkan penulis. Kedua, mengidentifikasi tulisan dalam
kontek obyektif, misalnya dengan menentukan tulisan dalam jenis yang sama. Ketiga, menemukan cara bagaimana penulis
menata isi pikirannya. Dan keempat,
menemukan pikiran-pikiran sekunder yang berkesinambungan dengan kehidupan
penulis.[13] Untuk melampaui
makna teks lebih baik dari pengarangnya, tahap interpretasi psikologis mesti
dilakukan. Dengan itu kita dapat menemukan konteksnya.
DAFTAR PUSTAKA
Adian,
Donny Gahral. 2006. Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta:
Jalasutra
Hardiman,
F. Budi. 2015. Seni Memahami, Hermeneutik
dari Schleiermacher sampai Derrida. Cet. IV. Yogyakarta: Kanisius
Muzir,
Inyiak Ridwan. 2008. Hermeneutika
Filosofis Hans-Georg Gadamer. Jogjakarta; Ar-Ruzz Media
Palmer,
Richard E. 2005. Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi. Yogyakarta;
Pustaka Pelajar
Raharjo,
Mudjia. 2008. Dasar-dasar Hermeneutika, Antara Intensionalisme dan Gadamer.
Jogjakarta; Ar-Ruzz Media
Sumaryono,
E. 1995. Hermeneutika Sebuah Metode
Filsafat. Cet. II. Yogyakarta: Kanisius
Syamsuddin,
Sahiron, dkk,. 2003. Hermeneutika
Al-Qur’an Mazhab Yogya, Yogyakarta:
Islamika
----------------------------------
*)
Muhammad Syahudin (Direktur Kajian Filsafat dan Imu Sosial)
[1] Mudjia
Rahardjo. Dasar-dasar Hermeneutika antara
intensionalisme dan Gadamer. (Jogjakarta; Ar-Ruzz Media, 2008), hal. 37
[2]
Kritisisme
adalah
sistem filsafat yang dibangun oleh Immanuel Kant. Dalam sistem pemikirannya,
Kant membedakan realitas menjadi fenomena dan noumena. Fenomena menurut Kant
adalah dunia penampakan yang ditangkap secara khusus oleh manusia melalui
kategori-kategori dengan gerbang terdepan berupa kategori ruang dan waktu.
Fenomena adalah dunia objek-objek alam yang ditentukan oleh hukum-hukum mekanis
Newtonian. Dunia noumena adalah dunia di balik penampakan ketika akal budi
harus menyerah dan memberi tempat pada yang transenden, unik, individual berupa
kekayaan batin yang misterius. Kant memang tidak menempatkan gagasan-gagasan
transendental seperti jiwa, dunia dan Tuhan sebagai gagasan-gagasan yang
konstitutif, tetapi ia menempatkannya sebagai gagasan-gagasan regulatif yang
penting bagi manusia untuk menghindari jebakan materialisme (segala sesuatu
adalah materi), naturalisme (alam adalah abadi, tak diciptakan, dan mencukupi
dirinya sendiri), dan fatalisme (segala sesuatu di dunia telah ditentukan oleh
Tuhan sehingga menihilkan kebebasan manusia)
[3]
Dalam
sumber lain disebutkan selain tulisan Kant, Schleiermacher juga mempelajari
tulisan Heinrich Jacobi, yaitu seorang nihilis kelahiran Dusseldorf, meninggal
pada 10 March 1819, dalam usia 76 tahun di Munich, Bavaria, German. Diantara
karyanya yang penting adalah David Hume über den Glauben,Oder Idealismus und
Realismus (1787) dan masih banyak karyanya yang lain.
[4] Romantisisme adalah
gerakan kultural yang melanda Eropa dan Amerika antara kurang lebih 1775 dan
1830. Romantisisme adalah reaksi terhadap supremasi rasio di abad pencerahan
yang menjadi kaku dan cenderung rasionalistk: mereduksi segala sesuatu menjadi
apa yang ditangkap rasio saja dan memarjinalisasikan emosi, kehendak, libido,
nafsu, spontanitas sebagai suatu yang subjektif-distortif dan dapat menurunkan
derajat kebenaran ilmiah
[5]
F. Budi Hardiman, Seni Memahami,
Hermeneutik dari Schleiermacher
sampai Derrida. Cet. IV. (Yogyakarta; Kanisius, 2015), hal. 29
[6]
Menurut E. Palmer paling tidak ada enam fungsi hermeneutika
sebagai wacana: pertama, hermeneutika sebagai teori penafsiran kitab suci,
kedua, hermeneutika sebagai sebuah metode filologi,ketiga, hermeneutika sebagai
ilmu pemahaman linguistik (science of
linguistic understanding), keempat, hermeneutika sebagai fondasi ilmu
kemanusiaan, kelima, hermeneutika sebagai fenomena das sein dan pemahaman
eksistensial, keenam, hermeneutika sebagai sistem penafsiran. Lain halnya
dengan Jose Bleicherhanya membagi hermeneutika menjadi tiga bagian, pertama,
hermeneutika sebagai sebuah metodologi, kedua, hermeneutika sebagai filsafat,
ketiga, hermeneutika sebagai kritik. Untuk lebih detailnya baca tulisan Muzairi
dalam Sahiron Syamsuddin, dkk, Hermeneutika Al-Qur’an Mazhab Yogya,
(Yogyakarta: Islamika, 2003), 54-58.
[7]
F. Budi Hardiman, Seni Memahami,
Hermeneutik dari Schleiermacher
sampai Derrida....op.cit, hal. 31
[8]
Ibid,.
[9]
E. Sumaryono, Hermeneutika Sebuah Metode
Filsafat. Cet. II. (Yogyakarta: Kanisius, 1995), hal. 37
[10]
Inyiak
Ridwan Muzir.Hermeneutika Filosofis
Hans-Georg Gadamer.(Jogjakarta; Ar-Ruzz Media, 2008), hal. 72
[11]
Donny
Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer, (Yogyakarta: Jalasutra,
2005), hal. 205
[12]
Richard
E. Palmer. 2005. Hermeneutika, Teori baru
mengenai interpretasi. (Yogyakarta; Pustaka Pelajar), hal. 95
[13]
F. Budi Hardiman, Seni Memahami,
Hermeneutik dari Schleiermacher
sampai Derrida....op.cit., hal. 60
