Sejak kehadiran perempuan
itu dirumahku, aku merasakan ada yang lain. Aku merasa getaran hatiku sudah tak
lagi stabil. Nabila namanya. Aku kehilangan selera hidup sejak ia menjejakkan
kakinya, tepat di saat aku ingin menenangkan diri. Harus ku akui senyumnya
memang memesona. Lelaki manapun pasti menaruh hati padanya. Lesung pipit, dan wajah
yang manis memang tak kusangkali, adalah daya pikat paling purba bagi pria
untuk jatuh cinta.
Aku tak pernah bisa begitu
saja menerimanya, tapi aku juga tak kuasa untuk menolaknya dalam hidupku. Dinding
yang memisahkan hati kami terlalu dekat, hati kami terpaut satu sama lain. Itu kusimpulkan
setelah ku ketahui, dia menyukai hampir semua yang aku sukai. Makanan, pakaian,
serta cara mekapnya yang natural, menunjukkan ia pandai memikat seperti
seleraku. Jujur, hatiku tetap membeku. Aku takut menyakitinya.
Nabila memang sosok periang,
dia sudah akrab dengan keluargaku sejak kuliah di kota tempat tinggalku. Menurut
nenekku, dia termasuk keluarga jauh. Hidup di pedesaan dengan kondisi
berkekurangan, nenekku prihatin dan membantu biaya pendidikannya. Sembari membantu
nenek yang sudah sepuh, agar ada yang merawatnya. Nabila tinggal dan menetap
dirumah nenek, sampai ia menyelesaikan studinya. Aku hanya beberapa kali
bertemu dengannya. Saat itu, aku bersikap wajar dan biasa saja. Aku tidak
terlalu detail mengenalnya. Ketika itu, hanya ada pikiran yang melintas
dikepalaku, betapa beruntungnya laki-laki yang mempersuntingmu.
Peristiwa itu terjadi
sebulan yang lalu, subuh sekali aku bangun. Entah mengapa malamnya aku tak bisa
tertidur. Seperti ada tekanan dalam batinku, yang membuatku terus gelisah. Dengan
lesu, kusingkap selimut yang mengkafaniku semalam. Aku beranjak dengan malas,
untuk sekedar menyeka mataku dengan air dingin. Tertegun sejenak, aku mengambil
wudu lalu kuhamparkan tikar salat untuk menyembah-Nya. Selesai salat,
kulantunkan beberapa bait Al-Quran kemudian tenggelam dalam asma-Nya.
“Tok..tok..tok..”
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam” jawabku
terbangun. Kulirik jam di dinding, ternyata sudah pukul 08.15. Ternyata aku
tertidur dalam hamparan sajadah.
“Tunggu sebentar”. Sembari
kurapikan pakaianku.
“Kreeekkkkk” suara pintu
kubuka, dan kulihat seorang pria dan wanita paruh baya.
“Ada yang bisa saya bantu,
pak?”
“Tidak ingat sama saya?”
“Maaf pak, rasanya saya
pernah melihat, tapi kapan ya?”
“Boleh saya masuk?”
“Oh...iya, silahkan pak!”
Setelah duduk, dan berbasa
basi sejenak. Aku pamit untuk mengambil beberapa panganan dan minum
alakadarnya. Sembari meletakkan toples,
dan gelas minuman. Aku mempersilakan mereka mencicipinya.
“Begini nak” katanya
memulai pembicaraan, namun terlihat ragu. Seperti ada bongkahan yang mengganjal
tenggorokannya.
“Iya..pak, silahkan”
“Hmmmm....,begini nak, saya
ini pak Muchtar dan ini istri saya Ayu. Saya orangtuanya Nabila”, lalu berhenti
sejenak. “Kamu mungkin sudah lupa, karena kita hanya sekali bertemu di rumah
nenekmu, kalau tidak salah enam tahun yang lalu saat saya mengantar Nabila.”
“Oh...Om Muchtar” kataku
agak ketus, dengan suara kutekan agar terlihat wajar.
“Tadi..kami sempat singgah
dirumah nenekmu, maaf aku baru tahu kalau tante sudah tidak ada. Kusempatkan ke
makamnya, sebelum ke sini setelah ditunjukkan jalan oleh tetangga disekitar
rumah nenekmu. Tujuanku sebenarnya memang untuk bertemu denganmu” katanya
melanjutkan.
“Ah..tidak apa-apa om,
sudah takdir”. Sambil kubendung air dari mataku.
“Kalau boleh tahu, penyebab
kematian tante apa ya?” kata bu Ayu menyela.
“Nenek hanya punya satu
anak, ayahku. Ayah dan Ibuku meninggal dalam kecelakan bis, saat usiaku masih
belia. Sejak saat itu, nenek adalah orang terdekat dalam hidupku. Setelah aku
bekerja, aku kesulitan merawatnya. Beruntung saat itu, Nabila mau merawatnya. Nenek
meninggal saat saya lagi ada kegiatan di Luar Kota. Beliau terjatuh saat
dikamar mandi...” kataku tertahan. “Dua hari kemudian, tetangga baru
menyadarinya”.
“Maafkan saya...nak, saya
tidak sempat menghadiri pemakamannya”. Timpal om Muchtar terlihat sedih.
“Ah..sudahlah, mungkin
memang ini sudah ditakdirkan” kataku membesarkan hati.
“Kalau begitu..,mungkin ini
saat yang belum tepat” kata om Muchtar sambil berpandangan dengan istrinya.
“Apa maksud om, tak usah
sungkan” aku penasaran.
“Baiklah, kalau begitu”
katanya sedikit ragu.
“Begini nak, Nabila sudah
menikah”.
Aku sedikit kaget dan
gugup, lalu bereaksi agak keras, “Ah...kapan?”
“Setahun yang lalu. Nenekmu
yang menjodohkan mereka”.
“Lalu, apa hubungannya
denganku.” Penasaran.
“Kami berharap, engkau mau
menerima Nabila dirumahmu, dan menganggapnya sebagai keluargamu. Seperti permintaan
nenekmu”
Rumah nenek memang sudah ku
sumbangkan untuk panti asuhan, harapannya dapat sebagai catatan amal jariyah. Mungkin
juga sebagai bentuk baktiku yang hilang saat beliau membutuhkanku. Teringat Nabila
pernah merawat nenek, ada perasaan canggung untuk menolaknya. Meskipun aku
sebenarnya ragu, nenek melakukan sesuatu tanpa memberitahuku.
“Baiklah...aku terima, tapi
dimana Nabila dan suaminya?”
“Mereka ada diluar di depan
pagar, mereka akan masuk setelah diperbolehkan olehmu.”
“panggillah kalau begitu”
Berdiri dan berjalan keluar
rumah, dari jauh kulihat om Mucthar memanggil mereka.
Setelah mendekat dan
memasuki pintu rumah. Bagai terkena badai, aku tak percaya akan sepasang suami
istri di hadapanku. Lidahku kelu, dan hanya memastikan sosok yang akrab
dimataku, “ini suami Nabila”.
“Iya...” kata Lelaki itu datar.
***
Meskipun sudah sebulan
Nabila dan suaminya menetap dirumahku, aku merasa seakan aku tidak menetap di
dalamnya. Hatiku begitu terbakar api cemburu. Tak percaya rasanya, saat aku
menginginkan ketenangan batin, justru kehampaan yang mendera. Saat ini yang ada
dalam pikiranku adalah berlari dari kehidupan ini. Meninggalkan semua kenangan
manis yang telah berubah jadi pahit. Aku sudah tak tahan. Tak ada lagi
kebahagiaan di dunia ini. Semua hanya klise. Palsu dan palsu.
Di satu malam yang pekat. Kuputuskan
untuk meninggalkan rumah ini. Kukumpulkan pakaian seadanya. Tak ada minat,
meski hanya untuk merapikan diri. Kuambil foto nenek, lalu kudekap erat hingga
air mata membasahinya. Kubatalkan membawa pakaian. Kurasa aku tidak membutuhkan
pakaian lagi. Aku ingin meninggalkan dunia, cukup foto nenek yang menemaniku. Kuambil
secarik kertas, lalu kutulis sebait kata terakhir.
“Mas, Aku menceraikanmu
dengan kematianku, semoga engkau bahagia hidup bersama Nabila”.
-----
*) Muhammad Syahudin (Peminat Literasi)
