-->

Tuesday, October 10, 2017

PEMADUAN YANG KU-AKHIRI



Sejak kehadiran perempuan itu dirumahku, aku merasakan ada yang lain. Aku merasa getaran hatiku sudah tak lagi stabil. Nabila namanya. Aku kehilangan selera hidup sejak ia menjejakkan kakinya, tepat di saat aku ingin menenangkan diri. Harus ku akui senyumnya memang memesona. Lelaki manapun pasti menaruh hati padanya. Lesung pipit, dan wajah yang manis memang tak kusangkali, adalah daya pikat paling purba bagi pria untuk jatuh cinta.

Aku tak pernah bisa begitu saja menerimanya, tapi aku juga tak kuasa untuk menolaknya dalam hidupku. Dinding yang memisahkan hati kami terlalu dekat, hati kami terpaut satu sama lain. Itu kusimpulkan setelah ku ketahui, dia menyukai hampir semua yang aku sukai. Makanan, pakaian, serta cara mekapnya yang natural, menunjukkan ia pandai memikat seperti seleraku. Jujur, hatiku tetap membeku. Aku takut menyakitinya.

Nabila memang sosok periang, dia sudah akrab dengan keluargaku sejak kuliah di kota tempat tinggalku. Menurut nenekku, dia termasuk keluarga jauh. Hidup di pedesaan dengan kondisi berkekurangan, nenekku prihatin dan membantu biaya pendidikannya. Sembari membantu nenek yang sudah sepuh, agar ada yang merawatnya. Nabila tinggal dan menetap dirumah nenek, sampai ia menyelesaikan studinya. Aku hanya beberapa kali bertemu dengannya. Saat itu, aku bersikap wajar dan biasa saja. Aku tidak terlalu detail mengenalnya. Ketika itu, hanya ada pikiran yang melintas dikepalaku, betapa beruntungnya laki-laki yang mempersuntingmu.

Peristiwa itu terjadi sebulan yang lalu, subuh sekali aku bangun. Entah mengapa malamnya aku tak bisa tertidur. Seperti ada tekanan dalam batinku, yang membuatku terus gelisah. Dengan lesu, kusingkap selimut yang mengkafaniku semalam. Aku beranjak dengan malas, untuk sekedar menyeka mataku dengan air dingin. Tertegun sejenak, aku mengambil wudu lalu kuhamparkan tikar salat untuk menyembah-Nya. Selesai salat, kulantunkan beberapa bait Al-Quran kemudian tenggelam dalam asma-Nya.

“Tok..tok..tok..”

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam” jawabku terbangun. Kulirik jam di dinding, ternyata sudah pukul 08.15. Ternyata aku tertidur dalam hamparan sajadah.

“Tunggu sebentar”. Sembari kurapikan pakaianku.

“Kreeekkkkk” suara pintu kubuka, dan kulihat seorang pria dan wanita paruh baya.

“Ada yang bisa saya bantu, pak?”

“Tidak ingat sama saya?”

“Maaf pak, rasanya saya pernah melihat, tapi kapan ya?”

“Boleh saya masuk?”

“Oh...iya, silahkan pak!”

Setelah duduk, dan berbasa basi sejenak. Aku pamit untuk mengambil beberapa panganan dan minum alakadarnya. Sembari meletakkan toples, dan gelas minuman. Aku mempersilakan mereka mencicipinya.

“Begini nak” katanya memulai pembicaraan, namun terlihat ragu. Seperti ada bongkahan yang mengganjal tenggorokannya.

“Iya..pak, silahkan”

“Hmmmm....,begini nak, saya ini pak Muchtar dan ini istri saya Ayu. Saya orangtuanya Nabila”, lalu berhenti sejenak. “Kamu mungkin sudah lupa, karena kita hanya sekali bertemu di rumah nenekmu, kalau tidak salah enam tahun yang lalu saat saya mengantar Nabila.”  

“Oh...Om Muchtar” kataku agak ketus, dengan suara kutekan agar terlihat wajar.

“Tadi..kami sempat singgah dirumah nenekmu, maaf aku baru tahu kalau tante sudah tidak ada. Kusempatkan ke makamnya, sebelum ke sini setelah ditunjukkan jalan oleh tetangga disekitar rumah nenekmu. Tujuanku sebenarnya memang untuk bertemu denganmu” katanya melanjutkan.

“Ah..tidak apa-apa om, sudah takdir”. Sambil kubendung air dari mataku.

“Kalau boleh tahu, penyebab kematian tante apa ya?” kata bu Ayu menyela.

“Nenek hanya punya satu anak, ayahku. Ayah dan Ibuku meninggal dalam kecelakan bis, saat usiaku masih belia. Sejak saat itu, nenek adalah orang terdekat dalam hidupku. Setelah aku bekerja, aku kesulitan merawatnya. Beruntung saat itu, Nabila mau merawatnya. Nenek meninggal saat saya lagi ada kegiatan di Luar Kota. Beliau terjatuh saat dikamar mandi...” kataku tertahan. “Dua hari kemudian, tetangga baru menyadarinya”.

“Maafkan saya...nak, saya tidak sempat menghadiri pemakamannya”. Timpal om Muchtar terlihat sedih.

“Ah..sudahlah, mungkin memang ini sudah ditakdirkan” kataku membesarkan hati.

“Kalau begitu..,mungkin ini saat yang belum tepat” kata om Muchtar sambil berpandangan dengan istrinya.

“Apa maksud om, tak usah sungkan” aku penasaran.

“Baiklah, kalau begitu” katanya sedikit ragu.

“Begini nak, Nabila sudah menikah”.

Aku sedikit kaget dan gugup, lalu bereaksi agak keras, “Ah...kapan?”

“Setahun yang lalu. Nenekmu yang menjodohkan mereka”.

“Lalu, apa hubungannya denganku.” Penasaran.

“Kami berharap, engkau mau menerima Nabila dirumahmu, dan menganggapnya sebagai keluargamu. Seperti permintaan nenekmu”

Rumah nenek memang sudah ku sumbangkan untuk panti asuhan, harapannya dapat sebagai catatan amal jariyah. Mungkin juga sebagai bentuk baktiku yang hilang saat beliau membutuhkanku. Teringat Nabila pernah merawat nenek, ada perasaan canggung untuk menolaknya. Meskipun aku sebenarnya ragu, nenek melakukan sesuatu tanpa memberitahuku.

“Baiklah...aku terima, tapi dimana Nabila dan suaminya?”

“Mereka ada diluar di depan pagar, mereka akan masuk setelah diperbolehkan olehmu.”

“panggillah kalau begitu”

Berdiri dan berjalan keluar rumah, dari jauh kulihat om Mucthar memanggil mereka.

Setelah mendekat dan memasuki pintu rumah. Bagai terkena badai, aku tak percaya akan sepasang suami istri di hadapanku. Lidahku kelu, dan hanya memastikan sosok yang akrab dimataku, “ini suami Nabila”.

“Iya...” kata Lelaki itu datar.

***
Meskipun sudah sebulan Nabila dan suaminya menetap dirumahku, aku merasa seakan aku tidak menetap di dalamnya. Hatiku begitu terbakar api cemburu. Tak percaya rasanya, saat aku menginginkan ketenangan batin, justru kehampaan yang mendera. Saat ini yang ada dalam pikiranku adalah berlari dari kehidupan ini. Meninggalkan semua kenangan manis yang telah berubah jadi pahit. Aku sudah tak tahan. Tak ada lagi kebahagiaan di dunia ini. Semua hanya klise. Palsu dan palsu.

Di satu malam yang pekat. Kuputuskan untuk meninggalkan rumah ini. Kukumpulkan pakaian seadanya. Tak ada minat, meski hanya untuk merapikan diri. Kuambil foto nenek, lalu kudekap erat hingga air mata membasahinya. Kubatalkan membawa pakaian. Kurasa aku tidak membutuhkan pakaian lagi. Aku ingin meninggalkan dunia, cukup foto nenek yang menemaniku. Kuambil secarik kertas, lalu kutulis sebait kata terakhir.

“Mas, Aku menceraikanmu dengan kematianku, semoga engkau bahagia hidup bersama Nabila”.

-----
*) Muhammad Syahudin (Peminat Literasi)




NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner