Sebagai
sebuah pengetahuan, filsafat menerapkan metode berpikir analitis dan kritis.
Ditangan Socrates, filsafat menjelma menjadi kekuatan caunter attack terhadap pandangan kaum sofis, yang berjaya masa itu. Disanalah kita menemukan kata
“kebijaksanaan” sebagai titik penerangan. Pada abad ke-5 SM, sofis menguasai panggung ilmu dan
politik Yunani. Menjadikan argumentasi sebagai tolak ukur kebenaran, dan
mengukuhkan sebarang klaim dengan menolak klaim tandingan. Socrates memberikan
batasan dengan tegas sehubungan tolak ukur kebenaran sofis, sebagai tindakan spekulatif. Baginya, seorang ilmuan harus
juga pecinta kebijaksanaan (Philosophus).[1]
Kepercayaan
terhadap unsur mistis dan metafisik, pada masyarakat Yunani. Turut memengaruhi
nilai pengetahuan. Sofis menggunakan
kepercayaan itu untuk menularkan konsep pemikirannya. Ditangan sofis, kebenaran
menjadi relatif spekulatif. Di era Plato dan Aristoteles, nilai pengetahuan
adalah obyektif rasional. Disana kita berjumpa dengan kitab logika dan filsafat
yang disebut organon, karya
monumental Aristoteles.
Perkembangan
pengetahuan di Eropa, ditandai pada zaman skolastik. Dipelopori oleh kaum
gerajawan, kesulitan terbesar mereka terletak pada perbedaan filsafat
Aristoteles dengan teologi gereja. Dalam kerumitan itu, seorang Santo Thomas Aquinas
mampu mendamaikan konsep tersebut, dan menjadikan filsafat aristoteles cukup berterima
dalam kalangan gereja,[2] untuk
sementara waktu.
Setelah
Santo Thomas Aquinas, dapat meredam perbedaan filsafat dengan doktrin gereja.
Fase berikutnya malah terjadi pertentangan antara ilmuwan dengan gerejawan. Dibakarnya
Copernicus dan Galileo, menjadi catatan kelam dalam sejarah pengetahuan. Kematian
tersebut melahirkan perseteruan sepanjang masa.
Dalam
fase kegelapan yang melanda Eropa, pemikiran filsuf muslim dianggap sebagai pelecut
kebangkitan sains. Tercatat nama-nama seperti Ibn Zina (Avecenna) dan Ibn Ruyd
(Averroes) berkontribusi besar dalam perubahan pola pikir dan pengetahuan, yang
dikenal dengan renaisance. Ditandai
dengan perkembangan filsafat ilmu. Puncaknya, positivisme yang digagas oleh Auguste Compte pada awal abad ke-19
melahirkan revolusi sains. Pandangan sains Compte, bersifat mandiri dan
terpisah dari nilai-nilai normatif.
Paradigma Bebas Nilai dalam Sains
Dalam bahasa Inggris, bebas nilai disebut free value. Standar bebas nilai ada pada
ilmu dan tekhnologi yang bersifat mandiri (otonom), tanpa perlu memerhatikan
kaidah atau nilai-nilai di luar pengetahuan ilmiah.[3]
Karena ilmu tak memiliki keterikatan nilai, pembatasan-pembatasan etis hanya
akan menghalangi eksplorasi ilmu pengetahuan. Bebas nilai harus diartikan
sepenuhnya bebas, agar ilmu pengetahuan dapat berkembang. Demikian hakikat ilmu
menurut August Compte.
Suatu kajian dapat disebut ilmiah atau tidak, tidak
semata bergantung dari kemampuan seorang peneliti dalam menyajikan data
informasi secara obyektif. Melainkan dari kegiatan ilmiah dengan prinsip bebas
nilai dalam ilmu pengetahuan itu sendiri. Tidak dibenarkan ada campur tangan
eksternal di luar struktur obyektif ilmiah. Obyektifas hanya dapat diperoleh
melalui proses bebas nilai mutlak (free
value-netral).[4]
Positivisme membangun paradigmanya sendiri dalam menentukan alur
sejarah ilmu pengetahuan. Mazhab pengetahuan ini, membuat klaim sebagai gerakan
pemurnian ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang benar, hanya diperoleh dengan
proses kontemplasi bebas kepentingan sebagai sikap teoritis murni. Pelibatan
kepentingan dalam suatu kegiatan ilmiah, dapat mencederai hasil.
Jauh sebelum Positivisme
melakukan penetrasi dijantung ilmu pengetahuan. Kebutuhan untuk memeroleh nilai
pengetahuan, telah dirintis sejak zaman Yunani. Untuk memahami suatu
pengetahuan yang benar (obyektif), dilakukan dengan mempertatutkan teori dengan
perbuatan (praxis) manusia. Senantiasa
mengacu pada tindakan etis, seperti kebaikan, kebijaksanaan dan kehidupan
sejati. Melalui teori (baca; ilmu), manusia menemukan orientasi untuk bertindak
tepat. Melalui tindakan (praxis),
teori itu direalisasikan untuk kebaikan. Sejatinya pada masyarakat Yunani,
pengetahuan tidak dilepaskan dengan kehidupan nyata. Pemahaman tersebut
tertuang dalam istilah bios theoretikos.[5]
Suatu jalan untuk mengolah dan mendidik jiwa, membebaskan manusia dari
perbudakan (doxa),[6]
membantu manusia mencapai otonomi dan kebijaksanaan hidup.
Positivisme tidak lahir begitu saja. Terjadi perkawinan pemikiran
yang melahirkannya. Diantaranya; pertama, Rasionalisme
yang dicetuskan oleh René
Descartes, diikuti oleh
Malebrache, Spinoza, Leibniz, dan Wolf. Bagi pendukung
rasionalisme, pengetahuan sejati dapat diperoleh dengan akal (rasio) murni dan
bersifat a-priori.[7]
Bersifat pernyataan logis dan matematis. Pengetahuan murni disebut-sebut
sebagai pengetahuan transendental, karena mampu mengatasi pengamatan empiris
yang berubah-ubah dan inkonsisten.
Kedua, empirisme yang ditukangi oleh pemikir seperti Hobbes, Locke, Berkeley, dan Hume. Titik tolak pengetahuan sejati hanya
diperoleh melalui pengamatan inderawi (empiris) dan karena itu bersifat a-posteriori. Teori ilmiah yang bermula
dari evidensi pengamatan inderawi. Meskipun berbeda perspektif, baik
rasionalisme maupun empirisme meyakini bahwa ilmu hanya bisa diperoleh dengan
membersihkannya dari kepentingan manusia.[8]
Menurut Bacon, hakikat
pengetahuan sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima melalui persentuhan
inderawi (pengalaman). Bersifat partikular sebagai sumber pengetahuan sejati,
yang kemudian diklaimnya sebagai metode induktif modern. Dengan menggunakan
metode induksi, seorang ilmuan dapat melakukan penelitian secara khusus
terhadap data-data partikular, lalu menggerakkan rasio menuju penafsiran
terhadap alam (interpretatio natura).
Adapun fakta-fakta yang dapat terungkap hanyalah positif-ilmiah. Hal-hal yang
terkait metafisis, tidak akan terungkap karena ketiadaan fakta-fakta empiris. Di
titik ini, Bacon memaksa pengetahuan untuk mengikuti metodologi positivisme.
Penetrasi
Compte, membuat Reneisance membuat
manusia menjadi bebas. Tak ada lagi memiliki keterikatan terhadap otoritas
manapun, kecuali otoritas individu dalam mengungkap fakta. Kebebasan tersebut
membuat ego manusia modern mampu mengeksploitasi alam. Dorongan akan kemampuan
manusia tersebut, menajdikan tekhnologi berkembang pesat hingga mampu
menjelajah ruang angkasa.[9]
Netral adalah
watak sains modern. Tidak memberi ruang bagi prasangka, penilaian baik atau
buruk, serta bebas dari kepentingan manusia. Berbeda dengan konsep etika yang
memiliki ciri preskriptif dan menilai tindakan, watak sains diklaim membawa
nilai-nilai modern seperti toleran, tidak memihak, rasional dan demokratis. Asumsi
seperti inilah yang disebut oleh Tom Sorrel sebagai saintisme, atau menjadi ideologi sains seperti yang diungkap oleh
Herbert Marcuse.[10]
Ada semacam perubahan dari positivisme
ke arah saintisme (ideologi sains).
Penyebabnya adalah bergesernya pendulum epistemologi subyek Cartesian menjadi
obyek pengetahuan, yang pada akhirnya menyebabkan terjadi fragmentasi pandangan
tentang manusia.[11]
Menurut catatan
Herbert Marcuse, Sains dan tekhnologi bukan lagi sekedar teori pengetahuan,
tapi telah merubah menjadi cara berpikir masyarakat. Dianutnya ideologi sains
dan teknologi karena telah menjadi sistem total yang melegitimasi keadaan
masyarakat. Implikasinya, sains ditempatkan sebagai satu-satunya penafsir
realitas kebenaran, lalu menjadikannya sebagai sistem pandangan dunia yang
menyeluruh.
Kritik atas Pandangan Bebas Nilai dalam
Pengetahuan
Obyektifas
dalam pengetahuan, tentunya tetap terikat dengan kaidah metodologinya. Selama
ada keterikatan tersebut, dapatkah pengetahuan dikatakan bebas Nilai? Disinilah
letaknya kita perlu melihat akar persoalan sains sebagai basis ideologi positivisme. Bagaimanapun juga,
keberadaan subyek (yang mengamati) dan Obyek (yang diamati) menempati ruang
yang berbeda, meskipun dalam kesimpulan keduanya ber-korespondensi. Dalam
proses mengumpulkan data-data yang sifatnya partikular, lalu menarik kesimpulan
universal merupakan kekeliruan standar obyektif sains. Sesuatu yang sifatnya
partikular tidaklah menggambarkan ke-universalan-nya. Oleh karena itu,
menjadikan metodologi sains sebagai ideologi adalah kesalahan fatal bagi positivisme.
Prinsip nilai
dalam diri manusia, adalah sesuatu yang melekat dalam identitasnya. Secara
fitrawi, manusia menakar setiap gerak kehidupan yang dijalani. Karena itu
dibutuhkan aturan (nilai) dalam menata masyarakat, agar tidak terjadi dehumanisasi
dan matinya peradaban manusia. Netralitas nilai sebenarnya bisa diterima
terhadap hal-hal yang sifatnya metafisik. Namun dalam proses kegiatan keilmuan
tidak dapat melepaskan diri dari asas-asas moral (etika), yaitu untuk kebaikan
manusia tanpa merusak martabat serta hakikat kemanusiaan. Pandangan ini terkait
dengan pertimbangan; (1) ilmu dan teknologi telah dipergunakan secara
destruktif, seperti dalam perang dunia; (2) pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan ke arah esoteris, sehinga dapat mengetahui bila terjadi
penyimpangan; (3) kemungkinan ilmu pengetahuan dapat merubah hakikat
kemanusiaan, dibuktikan dengan adanya penemuan revolusi genetik dan tekhnik
perubahan sosial.[12]
Untuk mengatasi
pandangan bebas nilai, setidaknya ada dua pandangan yang terkait dengan itu,
yaitu; (a) Context of Discovery
(konteks ditemukan). Bahwa ilmu pengetahuan tidaklah berlangsung dalam
kevakuman. Selalu ada penemuan dan pengembangan dalam konteks ruang dan waktu
tertentu. Dengan begitu akan sangat berpengaruh terhadap nilai obyektifnya dan
sejauhmana dapat mengungkap realitas (kebenaran).[13]
(b) Context of Justification (konteks
kegiatan ilmiah). Menyangkut kegiatan, hasil, kategori dan kriteria murni
ilmiah. Satu-satunya pertimbangan adalah bukti empiris dan penalaran
logis-rasional dalam membuktikan suatu teori. Sehingga kebenaran hanya
ditentukan melalui observasi ilmiah.[14]
Dari sintesa
ini, disimpulkan bahwa dalam context of
discovery ilmu pengetahuan tidak bebas nilai, tapi dalam context of justification ilmu harus
bebas nilai. Ilmu pengetahuan terpaksa harus peduli dengan nilai lain di luar
pengetahuan, meskipun dalam prosesnya bergantung kepada hipotesis dan penalaran
logis
KEPUSTAKAAN
Ash-Shadr,
Muhammad Baqir. Falsafatuna; Pandangan Muhammad Baqir ash-Shadr terhadap
Pelbagai Aliran Filsafat Dunia. diterjemahkan
dari Falsafatuna: Dirasah Mawdhu’iyyah fi Mu’tarak al-Shira’ al-Fikriy
al-Qaim baina Mukhtalaf al-Thayarat al-Falsafiyyah wa al-Falsafah al-Islamiyyah
wa al-Maddiyah al-Diyaliktikiyyah (al-Marksiyyah), oleh M. Nur Mufid bin Ali. Bandung : Penerbit Mizan, cet. VII,
1999.
Gharawiyan,
Mohsen. Pengantar Memahami Buku Daras
Filsafat Islam, diterjemahkan dari Dar Amadi Bar Amuzesye Falsafe,
terbitan Instisyarat-e Syefq, Qum.Iran, oleh Muhammad Nur Djabir. Jakarta: Sadra Press, Cet. I, 2012.
Hardiman, F. Budiman. Melampaui
Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan
Problem Modernitas, Yogyarakta : Penerbit Kanisius. 2003.
____________________, Kritik
Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen
Habermas, Yogyarakta : Penerbit Kanisius, 2009.
Keraf, A. Sonny & Mikhael Dua. 2001. Ilmu Pengetahuan
Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta : Kanisius
Situmorang, Joseph MMT. “Ilmu Pengetahuan dan Nilai-nilai”,
dalam Majalah Driyarkara, Tahun XXII, No.4.
Suriasumantri,
Jujun S., Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2002.
Wartaya, W.Y., Ilmu dan Teknologi
sebagai Kerangka Budaya Modern, Majalah Basis. Agustus. 1987.
Wibisono, Koento. Dampak Teknologi Terhadap Kebudayaan, dalam
Karim, Rusli, M. & Ridjal Fauzi (Ed.). Dinamika Ekonomi dan Iptek dalam
Pembangunan. Yogyakarta : Tiara Wacana, 1992.
Yazdi,
M.T. Misbah. Philosophichal Instructions: an Introductions to Contemporary
Islamic Philosophy, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Musa
Kazhim dan Saleh Baqir dengan judul “Buku Daras Filsafat Islam”,
Jakarta: Shadra Press. Cet. I. 2010.
---
*) Muhammad Syahudin (Peminat Literasi)
[1] M.T.
Misbah Yazdi, Philosophichal Instructions: an Introductions to Contemporary
Islamic Philosophy, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Musa
Kazhim dan Saleh Baqir dengan judul “Buku Daras Filsafat Islam”,
2010. Jakarta: Shadra Press. Cet. I. h. 2
[3] A. Sonny Keraf & Mikhael Dua. Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan
Filosofis. (Yogyakarta
: Kanisius. 2001), h. 149
[4] Joseph MMT
Situmorang, “Ilmu Pengetahuan dan Nilai-nilai”, dalam Majalah Driyarkara,
Tahun XXII, No.4, h. 13.
[5] F. Budiman
Hardiman, Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan
Bersama Jürgen Habermas, Yogyarakta : Penerbit Kanisius, 2009. h. 21-22
[6] Anis Chariri. Critical Theory, http://74.125.153.132/ search?, Semarang : Fakultas Ekonomi UNDIP, h. 15
[7] A-priori adalah pengetahuan yang ada sebelum bertemu pengalaman. Istilah apriori
(sebelum) dalam filsafat ilmu, adalah pembenaran yang independen dari
pengalaman, kadang juga digunakan untuk nomina yang lain yaitu kebenaran. https://id.wikipedia.org/wiki/Apriori.
[9] Koento Wibisono,
Dampak Teknologi Terhadap Kebudayaan, dalam Karim, Rusli, M. &
Ridjal Fauzi (Ed.). Dinamika Ekonomi dan Iptek dalam Pembangunan.
Yogyakarta : Tiara Wacana, 1992, h. 104.
[10] W.Y.
Wartaya, Ilmu dan Teknologi sebagai Kerangka Budaya Modern, Majalah
Basis. Agustus. 1987, h. 308.
[11] F.
Budiman Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosois
tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas, Yogyarakta : Penerbit
Kanisius. 2003., h. 53.
[12]
Jujun S, Suriasumantri , Filsafat
Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2002. h. 234
[13]
Muhammad Baqir Ash-Shadr, Falsafatuna; Pandangan Muhammad Baqir ash-Shadr
terhadap Pelbagai Aliran Filsafat Dunia.
diterjemahkan dari Falsafatuna: Dirasah Mawdhu’iyyah fi Mu’tarak
al-Shira’ al-Fikriy al-Qaim baina Mukhtalaf al-Thayarat al-Falsafiyyah wa
al-Falsafah al-Islamiyyah wa al-Maddiyah al-Diyaliktikiyyah (al-Marksiyyah),
oleh M. Nur Mufid bin Ali. Bandung :
Penerbit Mizan, cet. VII, 1999. h. 64
[14]
Mohsen Gharawiyan, Pengantar Memahami Buku Daras Filsafat Islam,
diterjemahkan dari Dar Amadi Bar Amuzesye Falsafe, terbitan Instisyarat-e
Syefq, Qum.Iran, oleh Muhammad Nur Djabir. Jakarta: Sadra Press, Cet. I, 2012. h. 67
