-->

Friday, October 20, 2017

Bebas Nilai dalam Ilmu Pengetahuan


Sebagai sebuah pengetahuan, filsafat menerapkan metode berpikir analitis dan kritis. Ditangan Socrates, filsafat menjelma menjadi kekuatan caunter attack terhadap pandangan kaum sofis, yang berjaya masa itu. Disanalah kita menemukan kata “kebijaksanaan” sebagai titik penerangan. Pada abad ke-5 SM, sofis menguasai panggung ilmu dan politik Yunani. Menjadikan argumentasi sebagai tolak ukur kebenaran, dan mengukuhkan sebarang klaim dengan menolak klaim tandingan. Socrates memberikan batasan dengan tegas sehubungan tolak ukur kebenaran sofis, sebagai tindakan spekulatif. Baginya, seorang ilmuan harus juga pecinta kebijaksanaan (Philosophus).[1]

Kepercayaan terhadap unsur mistis dan metafisik, pada masyarakat Yunani. Turut memengaruhi nilai pengetahuan. Sofis menggunakan kepercayaan itu untuk menularkan konsep pemikirannya. Ditangan sofis, kebenaran menjadi relatif spekulatif. Di era Plato dan Aristoteles, nilai pengetahuan adalah obyektif rasional. Disana kita berjumpa dengan kitab logika dan filsafat yang disebut organon, karya monumental Aristoteles.

Perkembangan pengetahuan di Eropa, ditandai pada zaman skolastik. Dipelopori oleh kaum gerajawan, kesulitan terbesar mereka terletak pada perbedaan filsafat Aristoteles dengan teologi gereja. Dalam kerumitan itu, seorang Santo Thomas Aquinas mampu mendamaikan konsep tersebut, dan menjadikan filsafat aristoteles cukup berterima dalam kalangan gereja,[2] untuk sementara waktu.

Setelah Santo Thomas Aquinas, dapat meredam perbedaan filsafat dengan doktrin gereja. Fase berikutnya malah terjadi pertentangan antara ilmuwan dengan gerejawan. Dibakarnya Copernicus dan Galileo, menjadi catatan kelam dalam sejarah pengetahuan. Kematian tersebut melahirkan perseteruan sepanjang masa.

Dalam fase kegelapan yang melanda Eropa, pemikiran filsuf muslim dianggap sebagai pelecut kebangkitan sains. Tercatat nama-nama seperti Ibn Zina (Avecenna) dan Ibn Ruyd (Averroes) berkontribusi besar dalam perubahan pola pikir dan pengetahuan, yang dikenal dengan renaisance. Ditandai dengan perkembangan filsafat ilmu. Puncaknya, positivisme yang digagas oleh Auguste Compte pada awal abad ke-19 melahirkan revolusi sains. Pandangan sains Compte, bersifat mandiri dan terpisah dari nilai-nilai normatif.

Paradigma Bebas Nilai dalam Sains
Dalam bahasa Inggris, bebas nilai disebut free value. Standar bebas nilai ada pada ilmu dan tekhnologi yang bersifat mandiri (otonom), tanpa perlu memerhatikan kaidah atau nilai-nilai di luar pengetahuan ilmiah.[3] Karena ilmu tak memiliki keterikatan nilai, pembatasan-pembatasan etis hanya akan menghalangi eksplorasi ilmu pengetahuan. Bebas nilai harus diartikan sepenuhnya bebas, agar ilmu pengetahuan dapat berkembang. Demikian hakikat ilmu menurut August Compte.

Suatu kajian dapat disebut ilmiah atau tidak, tidak semata bergantung dari kemampuan seorang peneliti dalam menyajikan data informasi secara obyektif. Melainkan dari kegiatan ilmiah dengan prinsip bebas nilai dalam ilmu pengetahuan itu sendiri. Tidak dibenarkan ada campur tangan eksternal di luar struktur obyektif ilmiah. Obyektifas hanya dapat diperoleh melalui proses bebas nilai mutlak (free value-netral).[4]

Positivisme membangun paradigmanya sendiri dalam menentukan alur sejarah ilmu pengetahuan. Mazhab pengetahuan ini, membuat klaim sebagai gerakan pemurnian ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang benar, hanya diperoleh dengan proses kontemplasi bebas kepentingan sebagai sikap teoritis murni. Pelibatan kepentingan dalam suatu kegiatan ilmiah, dapat mencederai hasil. 

Jauh sebelum Positivisme melakukan penetrasi dijantung ilmu pengetahuan. Kebutuhan untuk memeroleh nilai pengetahuan, telah dirintis sejak zaman Yunani. Untuk memahami suatu pengetahuan yang benar (obyektif), dilakukan dengan mempertatutkan teori dengan perbuatan (praxis) manusia. Senantiasa mengacu pada tindakan etis, seperti kebaikan, kebijaksanaan dan kehidupan sejati. Melalui teori (baca; ilmu), manusia menemukan orientasi untuk bertindak tepat. Melalui tindakan (praxis), teori itu direalisasikan untuk kebaikan. Sejatinya pada masyarakat Yunani, pengetahuan tidak dilepaskan dengan kehidupan nyata. Pemahaman tersebut tertuang dalam istilah bios theoretikos.[5] Suatu jalan untuk mengolah dan mendidik jiwa, membebaskan manusia dari perbudakan (doxa),[6] membantu manusia mencapai otonomi dan kebijaksanaan hidup.

Positivisme tidak lahir begitu saja. Terjadi perkawinan pemikiran yang melahirkannya. Diantaranya; pertama, Rasionalisme yang dicetuskan oleh René Descartes, diikuti oleh Malebrache, Spinoza, Leibniz, dan Wolf. Bagi pendukung rasionalisme, pengetahuan sejati dapat diperoleh dengan akal (rasio) murni dan bersifat a-priori.[7] Bersifat pernyataan logis dan matematis. Pengetahuan murni disebut-sebut sebagai pengetahuan transendental, karena mampu mengatasi pengamatan empiris yang berubah-ubah dan inkonsisten. Kedua, empirisme yang ditukangi oleh pemikir seperti Hobbes, Locke, Berkeley, dan Hume. Titik tolak pengetahuan sejati hanya diperoleh melalui pengamatan inderawi (empiris) dan karena itu bersifat a-posteriori. Teori ilmiah yang bermula dari evidensi pengamatan inderawi. Meskipun berbeda perspektif, baik rasionalisme maupun empirisme meyakini bahwa ilmu hanya bisa diperoleh dengan membersihkannya dari kepentingan manusia.[8]

Menurut Bacon, hakikat pengetahuan sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima melalui persentuhan inderawi (pengalaman). Bersifat partikular sebagai sumber pengetahuan sejati, yang kemudian diklaimnya sebagai metode induktif modern. Dengan menggunakan metode induksi, seorang ilmuan dapat melakukan penelitian secara khusus terhadap data-data partikular, lalu menggerakkan rasio menuju penafsiran terhadap alam (interpretatio natura). Adapun fakta-fakta yang dapat terungkap hanyalah positif-ilmiah. Hal-hal yang terkait metafisis, tidak akan terungkap karena ketiadaan fakta-fakta empiris. Di titik ini, Bacon memaksa pengetahuan untuk mengikuti metodologi positivisme.

Penetrasi Compte, membuat Reneisance membuat manusia menjadi bebas. Tak ada lagi memiliki keterikatan terhadap otoritas manapun, kecuali otoritas individu dalam mengungkap fakta. Kebebasan tersebut membuat ego manusia modern mampu mengeksploitasi alam. Dorongan akan kemampuan manusia tersebut, menajdikan tekhnologi berkembang pesat hingga mampu menjelajah ruang angkasa.[9]

Netral adalah watak sains modern. Tidak memberi ruang bagi prasangka, penilaian baik atau buruk, serta bebas dari kepentingan manusia. Berbeda dengan konsep etika yang memiliki ciri preskriptif dan menilai tindakan, watak sains diklaim membawa nilai-nilai modern seperti toleran, tidak memihak, rasional dan demokratis. Asumsi seperti inilah yang disebut oleh Tom Sorrel sebagai saintisme, atau menjadi ideologi sains seperti yang diungkap oleh Herbert Marcuse.[10] Ada semacam perubahan dari positivisme ke arah saintisme (ideologi sains). Penyebabnya adalah bergesernya pendulum epistemologi subyek Cartesian menjadi obyek pengetahuan, yang pada akhirnya menyebabkan terjadi fragmentasi pandangan tentang manusia.[11]

Menurut catatan Herbert Marcuse, Sains dan tekhnologi bukan lagi sekedar teori pengetahuan, tapi telah merubah menjadi cara berpikir masyarakat. Dianutnya ideologi sains dan teknologi karena telah menjadi sistem total yang melegitimasi keadaan masyarakat. Implikasinya, sains ditempatkan sebagai satu-satunya penafsir realitas kebenaran, lalu menjadikannya sebagai sistem pandangan dunia yang menyeluruh.

Kritik atas Pandangan Bebas Nilai dalam Pengetahuan


Obyektifas dalam pengetahuan, tentunya tetap terikat dengan kaidah metodologinya. Selama ada keterikatan tersebut, dapatkah pengetahuan dikatakan bebas Nilai? Disinilah letaknya kita perlu melihat akar persoalan sains sebagai basis ideologi positivisme. Bagaimanapun juga, keberadaan subyek (yang mengamati) dan Obyek (yang diamati) menempati ruang yang berbeda, meskipun dalam kesimpulan keduanya ber-korespondensi. Dalam proses mengumpulkan data-data yang sifatnya partikular, lalu menarik kesimpulan universal merupakan kekeliruan standar obyektif sains. Sesuatu yang sifatnya partikular tidaklah menggambarkan ke-universalan-nya. Oleh karena itu, menjadikan metodologi sains sebagai ideologi adalah kesalahan fatal bagi positivisme.

Prinsip nilai dalam diri manusia, adalah sesuatu yang melekat dalam identitasnya. Secara fitrawi, manusia menakar setiap gerak kehidupan yang dijalani. Karena itu dibutuhkan aturan (nilai) dalam menata masyarakat, agar tidak terjadi dehumanisasi dan matinya peradaban manusia. Netralitas nilai sebenarnya bisa diterima terhadap hal-hal yang sifatnya metafisik. Namun dalam proses kegiatan keilmuan tidak dapat melepaskan diri dari asas-asas moral (etika), yaitu untuk kebaikan manusia tanpa merusak martabat serta hakikat kemanusiaan. Pandangan ini terkait dengan pertimbangan; (1) ilmu dan teknologi telah dipergunakan secara destruktif, seperti dalam perang dunia; (2) pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan ke arah esoteris, sehinga dapat mengetahui bila terjadi penyimpangan; (3) kemungkinan ilmu pengetahuan dapat merubah hakikat kemanusiaan, dibuktikan dengan adanya penemuan revolusi genetik dan tekhnik perubahan sosial.[12]

Untuk mengatasi pandangan bebas nilai, setidaknya ada dua pandangan yang terkait dengan itu, yaitu; (a) Context of Discovery (konteks ditemukan). Bahwa ilmu pengetahuan tidaklah berlangsung dalam kevakuman. Selalu ada penemuan dan pengembangan dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Dengan begitu akan sangat berpengaruh terhadap nilai obyektifnya dan sejauhmana dapat mengungkap realitas (kebenaran).[13] (b) Context of Justification (konteks kegiatan ilmiah). Menyangkut kegiatan, hasil, kategori dan kriteria murni ilmiah. Satu-satunya pertimbangan adalah bukti empiris dan penalaran logis-rasional dalam membuktikan suatu teori. Sehingga kebenaran hanya ditentukan melalui observasi ilmiah.[14]

Dari sintesa ini, disimpulkan bahwa dalam context of discovery ilmu pengetahuan tidak bebas nilai, tapi dalam context of justification ilmu harus bebas nilai. Ilmu pengetahuan terpaksa harus peduli dengan nilai lain di luar pengetahuan, meskipun dalam prosesnya bergantung kepada hipotesis dan penalaran logis



KEPUSTAKAAN
Ash-Shadr, Muhammad Baqir. Falsafatuna; Pandangan Muhammad Baqir ash-Shadr terhadap Pelbagai Aliran Filsafat Dunia.  diterjemahkan dari Falsafatuna: Dirasah Mawdhu’iyyah fi Mu’tarak al-Shira’ al-Fikriy al-Qaim baina Mukhtalaf al-Thayarat al-Falsafiyyah wa al-Falsafah al-Islamiyyah wa al-Maddiyah al-Diyaliktikiyyah (al-Marksiyyah), oleh M. Nur Mufid bin Ali.  Bandung : Penerbit Mizan, cet. VII, 1999. 

Chariri, Anis. Critical Theory, http://74.125.153.132/ search?, Semarang : Fakultas Ekonomi UNDIP.

Gharawiyan, Mohsen.  Pengantar Memahami Buku Daras Filsafat Islam, diterjemahkan dari Dar Amadi Bar Amuzesye Falsafe, terbitan Instisyarat-e Syefq, Qum.Iran, oleh Muhammad Nur DjabirJakarta: Sadra Press, Cet. I, 2012.

Hardiman, F. Budiman. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas, Yogyarakta : Penerbit Kanisius. 2003.

__________________­­__, Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas, Yogyarakta : Penerbit Kanisius, 2009.

Keraf, A. Sonny  & Mikhael Dua. 2001. Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta : Kanisius

Situmorang, Joseph  MMT. “Ilmu Pengetahuan dan Nilai-nilai”, dalam Majalah Driyarkara, Tahun XXII, No.4.

Suriasumantri, Jujun S.,  Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2002. 

Wartaya, W.Y., Ilmu dan Teknologi sebagai Kerangka Budaya Modern, Majalah Basis. Agustus. 1987.

Wibisono, Koento.  Dampak Teknologi Terhadap Kebudayaan, dalam Karim, Rusli, M. & Ridjal Fauzi (Ed.). Dinamika Ekonomi dan Iptek dalam Pembangunan. Yogyakarta : Tiara Wacana, 1992.

Yazdi, M.T. Misbah. Philosophichal Instructions: an Introductions to Contemporary Islamic Philosophy, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Musa Kazhim dan Saleh Baqir dengan judul “Buku Daras Filsafat Islam”, Jakarta: Shadra Press. Cet. I. 2010.


---
*) Muhammad Syahudin (Peminat Literasi)




[1] M.T. Misbah Yazdi, Philosophichal Instructions: an Introductions to Contemporary Islamic Philosophy, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Musa Kazhim dan Saleh Baqir dengan judul “Buku Daras Filsafat Islam”, 2010. Jakarta: Shadra Press. Cet. I. h. 2

[2] Ibid., h. 12

[3] A. Sonny  Keraf & Mikhael Dua. Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis. (Yogyakarta : Kanisius. 2001), h. 149

[4] Joseph MMT Situmorang, “Ilmu Pengetahuan dan Nilai-nilai”, dalam Majalah Driyarkara, Tahun XXII, No.4, h. 13.

[5] F. Budiman Hardiman, Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas, Yogyarakta : Penerbit Kanisius, 2009. h. 21-22

[6] Anis Chariri. Critical Theory, http://74.125.153.132/ search?, Semarang : Fakultas Ekonomi UNDIP, h. 15

[7] A-priori adalah pengetahuan yang ada sebelum bertemu pengalaman. Istilah apriori (sebelum) dalam filsafat ilmu, adalah pembenaran yang independen dari pengalaman, kadang juga digunakan untuk nomina yang lain yaitu kebenaran.  https://id.wikipedia.org/wiki/Apriori.

[8] Ibid, hal. 24-25

[9] Koento Wibisono, Dampak Teknologi Terhadap Kebudayaan, dalam Karim, Rusli, M. & Ridjal Fauzi (Ed.). Dinamika Ekonomi dan Iptek dalam Pembangunan. Yogyakarta : Tiara Wacana, 1992, h. 104.

[10] W.Y. Wartaya, Ilmu dan Teknologi sebagai Kerangka Budaya Modern, Majalah Basis. Agustus. 1987, h. 308.

[11] F. Budiman Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosois tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas, Yogyarakta : Penerbit Kanisius. 2003., h. 53.

[12] Jujun S, Suriasumantri , Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2002.  h. 234

[13] Muhammad Baqir Ash-Shadr, Falsafatuna; Pandangan Muhammad Baqir ash-Shadr terhadap Pelbagai Aliran Filsafat Dunia.  diterjemahkan dari Falsafatuna: Dirasah Mawdhu’iyyah fi Mu’tarak al-Shira’ al-Fikriy al-Qaim baina Mukhtalaf al-Thayarat al-Falsafiyyah wa al-Falsafah al-Islamiyyah wa al-Maddiyah al-Diyaliktikiyyah (al-Marksiyyah), oleh M. Nur Mufid bin Ali.  Bandung : Penerbit Mizan, cet. VII, 1999.  h. 64

[14] Mohsen Gharawiyan, Pengantar Memahami Buku Daras Filsafat Islam, diterjemahkan dari Dar Amadi Bar Amuzesye Falsafe, terbitan Instisyarat-e Syefq, Qum.Iran, oleh Muhammad Nur DjabirJakarta: Sadra Press, Cet. I, 2012. h. 67


NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner