-->

Saturday, November 4, 2017

Pemilu Dan Politik Transaksional


Dalam perkembangan politik di Indonesia, berbagai pergumulan telah menjadi konsumsi yang kurang menguntungkan bagi masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari perubahan terma politik dan isu-isu yang berkembang disekitarnya. Pemilu sejatinya adalah upaya dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menentukan nasib bangsa lima tahun kedepan.

Dalam sistem demokrasi yang menganut sistem three as politica, pemilu merupakan sebuah keniscayaan untuk menjamin demokrasi masih berjalan pada relnya. Kehadiran  partai politik menjadi bagian yang juga dimestikan perannya dalam membangun pondasi demokrasi tersebut, meskipun bukanlah sebuah keharusan untuk berafiliasi dengan salah satu partai politik, keengganan masyarakat untuk tidak percaya terhadap salah satu partai poltik pun juga menjadi suatu hal yang dijamin oleh demokrasi.

Hasrat kekuasaan dalam bingkai politik disamarkan dengan bahasa rakyat. Kebanyakan dari yang diwakili tidak lagi peduli, mereka tahu dibaliknya ada transaksi elit. Parpol hanya alat untuk menggapai hasrat tadi. Bila bercermin pada citra diri  para politikus, kekuasaan telah berubah menjadi dinasti politik. Rentetan kamuflase ideologi tersemat dalam janji politik tanpa makna.  Bahasa baliho dengan diksi amburadul, terkadang hanya menjadi guyonan. Ketidakjelasan orientasi tersebut, mungkin lahir dari apa yang dikatakan Lacan dan Zizek sebagai fenomena “ketidaksadaran”.  Kalkulasi materi menjadi dominan dibandingkan dengan kemampuan mengelola dan membangun. Dalam ruang kompetisi politik, lawan dan kawan tidak jelas. Yang menghimpun hanyalah kepentingan dan keuntungan politik.

Transaksi dalam istilah ekonomi, bermakna kesepakatan dua orang atau lebih dalam suatu hal terkait proses ekonomi, biasa disebut persetujuan jual beli antara dua belah pihak. Namun dalam politik, transaksi bisa bermakna keuntungan segelintir elit terhadap massa dalam bentuk “janji”. Dalam agama disebutkan, janganlah berjanji bila tidak bisa menepati. Ini bermaksud, kemampuan kita diukur dari janji politik, semakin ideal janji politik maka semakin sulit pula untuk diwujudkan. Semakin absurd idiom politik, maka semakin kuat alasan untuk tidak diwujudkan.

Mungkinkah politik bisa lepas dari transaksi? Melihat kenyataan saat ini, saya rasa amat sulit. Hal ini terkait syarat pencalonan kepala negara dan kepala daerah, selain syarat untuk para legislator. Transaksi masih dibutuhkan, paling tidak dengan dua modal utama, yaitu; modal materi (money) dan modal sosial (social). Urusan kecakapan, ah.. itu urusan belakangan.


*) Muhammad Syahudin (Peminat Literasi)
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner