Secara
garis besar, faktor yang melatarbelakangi timbulnya sosiologi pendidikan
adalah, kenyataan kehidupan manusia yang selalu ingin mengenal, mengetahui
lebih mendalam tentang dirinya sendiri dalam berhubungan dengan dunia luar
beserta isinya. Salah satu hal yang dapat membantu manusia memahami, mengetahui
tentang dirinya sendiri adalah melalui interaksi. Melalui kegiatan tersebut
individu dapat saling membutuhkan, melengkapi kekurangan, dan memperbaiki
sesuatu dalam kehidupannya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut bagi kehidupan
manusia tidak ada batas yang pasti. Manusia selalu merasa tidak puas dan selalu
akan mencarinya. Hal ini disebabkan kondisi masyarakat selalu mengalami
perubahan (dinamis). Perubahan sosial selalu akan terjadi. Faktor inilah yang menimbulkan
cultural lag atau kemandekan
kebudayaan.[1]
Akibat
cultural lag timbullah gejolak sosial
yang dapat menimbulkan masalah sosial dalam kehidupan masyarakat dan pada
gilirannya mempengaruhi proses pendidikan. Atas dasar pertimbangan tersebut John Dewey bermaksud untuk memperbaiki,
dengan mendirikan sekolah percobaan di Chicago. Diharapkan, melalui sekolah
tersebut John Dewey dapat berupaya
mengembangkan pengalaman belajar di kelas dan di sekolah sebagai suatu bentuk
kehidupan yang bisa menumbuhkan semangat sosial, saling membantu, dan
“bergotong royong”. Beberapa upaya harus dilakukan sekolah agar hubungan antara
sekolah dengan lingkungan “rumah” anak-anak maupun lingkungan masyarakat
sekitar menjadi lebih baik. Menurut John
Dewey sekolah merupakan miniatur masyarakat, suatu masyarakat mikro. Ia
yang merupakan: (a) cerminan masyarakat sekitarnya, dan (b) menjadi pengilham
perbaikan bagi masyarakat sekitarnya.[2]
Di
Indonesia, pada tahun 1967, mata kuliah Sosiologi Pendidikan untuk pertama
kalinya dicantumkan dalam kurikulum Jurusan didaktik dan Kurikulum, Fakultas
Ilmu Pendidikan IKIP. Ditinjau dari sudut usia, lapangan penelitiannya, maupun
dari sudut kristalisasi struktur dan prosesnya, sosiologi pendidikan merupakan
disiplin yang masih muda. Beberapa penulis berpendapat, bahwa sosiologi
pendidikan sedikit demi sedikit berkembang, yaitu menjadi disiplin yang otonom
yang memiliki lapangan penelitian khusus. Dalam hal ini, ia masih mengalami
proses akulturasi.[3]
Fenomena
sosiologi pendidikan yang berkembang di Indonesia sangat diperlukan dalam
menganalisis kondisi pelaku pendidikan dalam menciptakan kondisi sosial yang
terjadi. Tetapi seringkali orang melupakan makna dan hakikat pendidikan itu
sendiri. Layaknya hal lain yang sudah menjadi rutinitas, cenderung terlupakan
makna dasar dan hakikatnya. Karena itu benarlah kalau dikatakan bahwa setiap
orang yang terlihat dalam dunia pendidikan sepatutnyalah selalu merenungkan
makna dan hakikat pendidikan, merefleksikannya di tengah-tengah tindakan dan
aksi sebagai buah refleksinya.[4]
Pengertian Esensi
Sosiologi Pendidikan
Kata “esensi” berasal dari bahasa latin yang
berarti essence yang bermakna
hakikat.[5]
Esensi adalah asal, substansi dan dasar sesuatu, wujud tanpa esensi adalah
tidak ada. Esensi terdiri dari esensi sederhana (tidak tersusun) dan esensi
sempurna (tersusun).[6] Dengan
menempatkan kata esensi dalam pendidikan terkhusus pendidikan Islam,
menunjukkan kata inti, hakikat dan perbedaan dengan yang lain. Dengan menggarisbawahi
pada aspek “keterjelasan dan pemaknaan” yang lebih dalam.[7]
Sosiologi
pendidikan terdiri dari dua kata, sosiologi dan pendidikan. Dilihat dari
istilah etimologi kedua kata ini tentu berbeda makna, namun dalam sejarah hidup
dan kehidupan serta budaya manusia, keduanya menjadi satu kesatuan yang tak
terpisahkan, terutama dalam sistem memberdayakan manusia dimana sampai saat ini
memanfaatkan pendidikan sebagai instrumen pemberdayaan tersebut.
Secara
etimologis sosiologi berasal dari kata latin socius dan kata Yunani logos.
Socius berarti kawan, sahabat,
sekutu, rekan, masyarakat. logos
berarti ilmu. Jadi sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat.[8]
W.F. Ogburn dan M.F. Nimkoff memberikan
definisi sosology is the scientific of
social life; yang maksudnya : sosiologi adalah studi secara ilmiah terhadap
kehidupan sosial. Sementara Roucek dan
Wafren mendefenisikan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan
antara manusia dalam kelompok-kelompok. Sedangkan menurut Ibnu Chaldun, sosiologi adalah mempelajari tentang masyarakat
manusia dalam bentuknya yang bermacam-macam, watak dan ciri-ciri dari pada
tiap-tiap bentuk itu dan hukum yang menguasai perkembangannya.[9]
Pendidikan
bersumber dari kata Paedegogic
berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari kata pais, artinya anak, dan again
diterjemahkan membimbing, jadi paedagogic
yaitu bimbingan yang diberikan kepada anak. Dalam bahasa Inggris dikenal
istilah educare atau educate, yang artinya menghasilkan,
mengembangkan dari kepribadian yang tersembunyi atau potensial, yang berarti
terkandung makna “menghasilkan dan mengembangkan”.[10]
Dalam Islam pendidikan disebut tarbiyah.
Kata tarbiyah adalah bentuk dari akar
kata rabba, yarubbu, dan rabban, yang
bermakna memberi makan, memelihara, mengasuh; dari akar kata Ghadza dan Ghadzw.[11]
Makna ini mengacu pada sesuatu yang tumbuh.
Selanjutnya,
R.J. Stalcup mengemukakan bahwa sociology of education merupakan suatu
analisis terhadap proses-proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga
pendidikan. Tekanan dan wilayah telaahnya pada lembaga pendidikan itu sendiri.[12]
Menurut George Payne, yang kerap
disebut bapak Sosiologi pendidikan, secara spesifik memandang sosiologi
pendidikan sebagai studi yang komprehensif tentang segala aspek pendidikan dari
segala segi ilmu yang dterapkan. Baginya, sosiologi pendidikan tidak hanya
meliputi segala sesuatu dalam bidang sosiologi yang dapat dikenakan sosiologis.
Adapun menurutnya adalah memberikan guru-guru, para peneliti yang efektif dalam
sosiologi yang dapat memberikan sumbangannya kepada pemahaman yang lebih
mendalam tentang pendidikan.[13]
Dari
beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah
ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika,
masalah-masalah pendidikan ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui
analisis atau pendekatan sosiologis. Sedangkan esensi sosiologi pendidikan
adalah hakikat atau inti dari proses mempelajari seluruh aspek pendidikan
dengan landasan dan azas-azasnya melalui analisis dan pendekatan secara
sosiologis.
Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan
Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan
Pendidikan
menurut Ngalim Purwanto ialah segala
usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan
jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan. Esensi dari pendidikan itu sendiri
ialah pengalihan (transmisi) kebudayaan (ilmu pengetahuan, ide-ide dan
nilai-nilai spiritual serta estetika) dari generasi yang lebih tua kepada
generasi yang lebih muda setiap masyarakat atau bangsa.[14]
Sifat
dan hakikat sosiologi yang di terapkan dalam pendidikan pada dasarnya merupakan
pengetahuan yang empiris dan rasional. Dengan mempelajari gejala-gejala umum
yang ada pada setiap interaksi dalam masyarakat,[15]
serta pola dan peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. yang selanjutnya diterjemahkan
dalam ranah pendidikan dalam menentukan arah serta tujuan pendidikan.
Dalam
sistem pendidikan, ruang lingkup sosiologi pendidikan meliputi empat bidang,
yaitu :
1.
Hubungan sistem pendidikan dengan
aspek masyarakat lain, meliputi :
a.
Fungsi kebudayaan dalam pendidikan
b. Hubungan sistem pendidikan dan
proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan
c. Fungsi sistem pendidikan dalam
memelihara dan mendorong proses sosial dan perubahan kebudayaan.
d. Hubungan pendidikan dengan kelas
sosial atau system status.
2.
Hubungan kemanusiaan di sekolah,
meliputi :
a. Sifat kebudayaan sekolah khususnya
yang berbeda dengan kebudayaan di luar sekolah.
b.
Pola interaksi sosial dan struktur
masyarakat sekolah
3.
Pengaruh sekolah pada perilaku
anggotanya, meliputi :
a.
Peran sosial guru
b.
Sifat kepribadian guru
c.
Pengaruh kepribadian guru terhadap
tingkah laku siswa
d.
Fungsi sekolah dalam sosialisasi
4.
Sekolah dalam komunitas yang
mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain dalam
komunitasnya, meliputi :
a.
Pelukisan tentang komunitas seperti
tampak dalam pengaruhnya terhadap organisasi sekolah
b. Analisis tentang proses pendidikan
c. Hubungan antara sekolah dan
komunitas dalam fungsi kependidikan
d.
Faktor-faktor demografi dan ekologi
dalam hubungannya dengan organisasi sekolah.[16]
Landasan Sosiologi Pendidikan
Dalam
kehidupan masyarakat dibedakan tiga macam norma yang dianut oleh pengikutnya,
yaitu : (1) individualisme, (2) Kolektivisme dan (3) integralistik. Berdasarkan
karakter budaya Indonesia, metode norma individualisme tidak bisa diterapkan
karena tidak sesuai dengan semangat gotong-royong. Adapun kolektivisme mengarah
ke suatu bentuk homogenitas kelompok sosial, itupun tidak sesuai dengan kondisi
masyarakat Indonesia yang heterogen. Sedangkan norma integralistik yang
sifatnya asimilasi lebih tepat dengan kondisi masyarakat Indonesia.[17]
Dari
landasan tersebut, sosiologi Pendidikan memberikan gagasannya tentang tujuan
yang ingin dicapai sebagai berikut :
1.
Sosiologi Pendidikan sebagai proses
analisisi sosialisasi.
2.
Sosiologi Pendidikan sebagai analisis kedudukan
pendidikan dalam masyarakat.
3. Sosiologi pendidikan sebagai analisis
interaksi sosial disekolah dan antara sekolah dan masyarakat.
4.
Sosiologi pendidikan sebagai alat
kemajuan dan perkembangan sosial
5.
Sosiologi pendidikan sebagai dasar
untuk menentukan tujuan pendidikan.
6.
Sosiologi pendidikan sebagai
sosiologi terapan.
7.
Sosiologi pendidikan sebagai
latiahan sebagai petugas pendidikan.[18]
Di
Indonesia dengan pengaruh masyarakat yang heterogen dan menganut norma
integralistik, sosiologi pendidikan diarahkan ke dalam tujuan sebagai berikut :
1.
Berusaha memahami peranan sosiologi
daripada kegiatan sekolah terhadap masyarakat, terutama apabila sekolah
ditinjau dari segi kegiatan intelektual. Dengan begitu, sekolah harus bisa
menjadi suri teladan di dalam masyarakat sekitarnya dan lebih luas lagi, atau
dengan singkat mengadakan sosialisasi inttelektual untuk memajukan kehidupan
didalam masyarakat.
2.
Untuk memahami seberapa jauhkah guru
dapat membina kegiatan sosial anak didiknya untuk mengembangkan keperibadian
anak.
3. Untuk mengetahui pembinaan ideologi
pancasila dan kebudayaan nasional indonesia dilingkungan pendidikan dan
pengajaran.
4. Untuk mengadakan integrasi kurikulum
pendidikan dengan masyarakat disekitarnya agar pendidikan mempunyai kegunaan
praktis didalam masyarakat dan negara seluruhnya.
5. Untuk menyelidiki faktor-faktor
kekuatan masyarakat, yang bisa menstimulus pertumbuhan dan perkembangan
kepribadian anak.
6.
Memberi sumbangan yang positif
terhadap perkembangan ilmu pendidikan.
7. Memberi pegangan terhadap penggunaan
prinsip-prinsip sosiologi untuk mengadakan sosiologi prilaku dan kepribadian
anak didik.[19]
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Attas, Muh.
al-Naquid. Konsep Pendidikan dalam Islam.
(Bandung: Mizan. Cet. VIII, 1996).
Ahmadi, Abu. Sosiologi
Pendidikan. (Jakarta : PT Rineka Cipta. 2007).
Chaerudin, dkk., Materi Pokok Pendidikan. (Jakarta:
Universitas Terbuka, 1995).
Gie, The Liang. Kamus Logika. (Yogyakarta: Karya
Kencana. Cet. I, 1979).
Hanafi, Hassan. Dari Akidah ke Revolusi. (Jakarta: Paramadina. Cet. I, 2003).
Idi,
Abdullah. Sosiologi Pendidikan, (Jakarta:
Rajawali Pers, 2011).
Maryatun, Anggit. Pengertian dan hakikat Sosiologi, http://anggiitmar.blogspot.com/2012/12/.
Diakses tanggal 05 Mei 2013
Nasution.
2004. Sosiologi Pendidikan. (Jakarta:
Bumi Aksara, 2004).
Purwanto, Ngalim. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1995).
Soekanto, Soerjono. Sosiologi
Suatu Pengantar. (Jakarta: Raja Grafindo Persada.1989).
Sukosusilo, Sejarah Sosiologi
Pendidikan. http://sukosusilo.blogspot.com/2011/03/sosiologi-pendidikan.html.
di akses tanggal 05 Mei 2013
Uhbiyati, Nur. Abu Ahmadi. Ilmu
Pendidikan. (Jakarta:Rineka Cipta.2001).
Yunus, Mahmud. Kamus Arab-Indonesia. (Jakarta: PT
Hidakarya Agung, tt).
Yasik, Nur. Sanapiah Faisal. Sosiologi
Pendidikan. (Surayaba: Usaha Nasional, tt).
[1]Sukosusilo,
Sejarah Sosiologi Pendidikan. http://sukosusilo.blogspot.com/2011/03/sosiologi-pendidikan.html.
di akses tanggal 05 Mei 2013
[5]
The Liang Gie, Kamus Logika.
(Yogyakarta: Karya Kencana. Cet. I, 1979). h. 82
[6]
Hassan Hanafi, Dari Akidah ke Revolusi.
(Jakarta: Paramadina. Cet. I, 2003). h. 214
[7]
Muh. al-Naquid al-Attas, Konsep
Pendidikan dalam Islam. (Bandung: Mizan. Cet. VIII, 1996). h. 39
[10]
Muh. al-Naquid al-Attas, op.cit., h. 64
[14]
Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. (Bandung: Remaja Rosda Karya,
1995). h. 11
[15]
Anggit Maryatun, Pengertian dan hakikat Sosiologi, http://anggiitmar.blogspot.com/2012/12/. Diakses tanggal 05 Mei 2013
[18] Nasution, Op.cit., h. 4
[19] Abdullah Idi, op.cit., h. 22-23
