-->

Wednesday, January 31, 2018

Ada “Dusta” dibalik Pencitraan


Adakah diantara kita yang suka didusta? Mungkinkah ada dusta yang memesona. Dusta yang terbungkus dengan janji indah dan terus berulang menjejal kesadaran kita. Mungkin dusta seperti inilah yang sering dirindukan. Tak heran, Hitler sang mentor Nazi mengatakan: “Dusta yang terus dilakukan secara berulang dan terus menerus akan menjadi kebenaran”. Kita mungkin akan mengatakan mustahil ada dusta yang jadi kebenaran. Bukankah kebenaran tidak akan pernah bisa dinegasikan kepada selainnya.

Bila ada kebenaran yang menempati ruang objektif, maka persepsi kita terhadap realitas objektif tersebut tentulah subjektif. Dusta dapat bersembunyi dibalik subjektifitas manusia. Umpama seseorang menolong tidak dengan maksud menolong yang sesungguhnya, tapi ada motif dan tendensi terselubung. Dibalik selubung tendensi, setiap tanda-makna menemukan bentuk permainannya. Segala bentuk frasa indah, terkadang melambungkan angan-angan, hingga tanpa tersadar kita bermimpi dalam keadaan melek.

Dunia politik kita, nyata ada permainan “dusta”. Kita sibuk meributi asap yang keluar dari cerobong, tapi abai dari tungku yang membakar kayu. Kita tahu ada kebenaran yang tergadai, namun kata-kata untuk mengungkapnya telah istirahat. Ada akrobat kata ahli, puisi akademisi, narasi indah politisi, bahkan mimpi yang tergadai. Tapi apalah daya, setiap orang bisa menikung demokrasi, berlindung dibalik HAM, mengebiri hukum dan memerdayai keyakinan. Setiap yang terikat dengan citra diri tertentu, memosisikan diri seolah Tuhan yang maha Kuasa.

Citra diri – Pencitraan, dua model identitas kekinian. Citra diri merupakan bentukan frasa diri sebagai “sesuatu”, membingkai dan memosisikan diri dalam identitas bentukan. Adapun Pencitraan adalah penerjemahan citra diri dalam bentuk praxis, seseorang yang membentuk citra diri akan berusaha melakukan pencitraan untuk menarik simpati oranglain berupa kekaguman dan ketakjuban. Setelah era diktum “kematian Tuhan” ala Nietzshe, dan kematian pengarang model postmodernisme. Dunia terkesima dengan munculnya kematian “tanda”. Kita sedang menempati ruang zaman, dimana tanda – makna di non-objektifkan. Ada dusta dibalik sebuah kebenaran.

Umberto Eco menampar ketakjuban kita dengan semiotika. Ia mengenalkan Semiotika tidak sekedar sebagai sebuah tanda, melainkan teori untuk berdusta. Sebagaimana semiotika digunakan berdusta, dapat pula mengungkap kebenaran. Ia berujar : “...Pada prinsipnya, semiotika merupakan disiplin untuk mempelajari segala sesuatu yang bisa digunakan berdusta. Jika sesuatu gagal digunakan untuk menceritakan kedustaan, sebaliknya ia gagal untuk menceritakan kebenaran-bahkan tentu mustahil ia bisa digunakan bercerita apapun.”

Kita mengenal citra melalui tanda yang dikenalkan kepada kita, tanyalah kepada para pembuat citra itu, apakah ada dusta di dalamnya? Bila jawabannya tidak ada dusta, percayalah itu sebuah kebenaran, yaitu kebenaran yang disembunyikan.

*) Muhammad Syahudin (Peminat Literasi)
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner