Adakah diantara kita yang suka
didusta? Mungkinkah ada dusta yang memesona. Dusta yang terbungkus dengan janji
indah dan terus berulang menjejal kesadaran kita. Mungkin dusta seperti inilah
yang sering dirindukan. Tak heran, Hitler sang mentor Nazi mengatakan: “Dusta
yang terus dilakukan secara berulang dan terus menerus akan menjadi kebenaran”.
Kita mungkin akan mengatakan mustahil ada dusta yang jadi kebenaran. Bukankah
kebenaran tidak akan pernah bisa dinegasikan kepada selainnya.
Bila ada kebenaran yang
menempati ruang objektif, maka persepsi kita terhadap realitas objektif
tersebut tentulah subjektif. Dusta dapat bersembunyi dibalik subjektifitas
manusia. Umpama seseorang menolong tidak dengan maksud menolong yang
sesungguhnya, tapi ada motif dan tendensi terselubung. Dibalik selubung
tendensi, setiap tanda-makna menemukan bentuk permainannya. Segala bentuk frasa
indah, terkadang melambungkan angan-angan, hingga tanpa tersadar kita bermimpi
dalam keadaan melek.
Dunia politik kita, nyata ada
permainan “dusta”. Kita sibuk meributi asap yang keluar dari cerobong, tapi
abai dari tungku yang membakar kayu. Kita tahu ada kebenaran yang tergadai,
namun kata-kata untuk mengungkapnya telah istirahat. Ada akrobat kata ahli,
puisi akademisi, narasi indah politisi, bahkan mimpi yang tergadai. Tapi apalah
daya, setiap orang bisa menikung demokrasi, berlindung dibalik HAM, mengebiri
hukum dan memerdayai keyakinan. Setiap yang terikat dengan citra diri tertentu,
memosisikan diri seolah Tuhan yang maha Kuasa.
Citra diri – Pencitraan, dua
model identitas kekinian. Citra diri merupakan bentukan frasa diri sebagai
“sesuatu”, membingkai dan memosisikan diri dalam identitas bentukan. Adapun
Pencitraan adalah penerjemahan citra diri dalam bentuk praxis, seseorang yang
membentuk citra diri akan berusaha melakukan pencitraan untuk menarik simpati
oranglain berupa kekaguman dan ketakjuban. Setelah era diktum “kematian Tuhan”
ala Nietzshe, dan kematian pengarang model postmodernisme. Dunia terkesima
dengan munculnya kematian “tanda”. Kita sedang menempati ruang zaman, dimana tanda
– makna di non-objektifkan. Ada dusta dibalik sebuah kebenaran.
Umberto Eco menampar ketakjuban
kita dengan semiotika. Ia mengenalkan Semiotika tidak sekedar sebagai sebuah
tanda, melainkan teori untuk berdusta. Sebagaimana semiotika digunakan berdusta,
dapat pula mengungkap kebenaran. Ia berujar : “...Pada prinsipnya, semiotika
merupakan disiplin untuk mempelajari segala sesuatu yang bisa digunakan
berdusta. Jika sesuatu gagal digunakan untuk menceritakan kedustaan, sebaliknya
ia gagal untuk menceritakan kebenaran-bahkan tentu mustahil ia bisa digunakan
bercerita apapun.”
Kita mengenal citra melalui
tanda yang dikenalkan kepada kita, tanyalah kepada para pembuat citra itu,
apakah ada dusta di dalamnya? Bila jawabannya tidak ada dusta, percayalah itu
sebuah kebenaran, yaitu kebenaran yang disembunyikan.
*) Muhammad Syahudin (Peminat Literasi)
