-->

Friday, March 23, 2018

HANTU FIKSI ITU BERNAMA GHOST FLEET


Opera Richard Wagner yang menggunakan bahasa ekspresi dramatis, berisi puisi dan anasir teatrikal  memuja mitologi Jerman kuno, serta tendensi sastranya yang anti semitis begitu memengaruhi Hitler. Sejak berusia 12 Tahun, menyaksikan opera Wagner kesannya begitu membekas dalam pandangan politik Hitler tentang ras dan epos kepahlawanan. Begitu terpesona dengan Wagner, Hitler berkata : “Wagner’s line of thought is intimately familiar to me, at every stage of my life i come back to him”.[1] Selanjutnya bisa ditebak, opera Wagner yang berbau fiksi membuat Hitler memunculkan perang dunia II. Meskipun tidak terpengaruh seutuhnya, tapi pernyataan Hitler yang mengatakan bahwa dalam setiap tahapan hidupnya, ia selalu kembali kepada Wagner sudah cukup menggambarkan betapa fiksi begitu kuat mempengaruhinya.

Fiksi sepertinya tidak bisa berpisah dari imajinasi, sebab ruhnya adalah itu. Kenyataan sejarah membuktikan imajinasi dalam fiksi dapat diwujudkan. Fiksi ilmiah seringkali dianggap menantang hukum pengetahuan dan hanya berupa khayalan masa depan. Tapi sadarkah kita, bahwa beberapa teknologi yang sekarang kita nikmati terinspirasi dari fiksi.

Martin Cooper, penemu ponsel genggam pertama mengatakan bahwa; Gadged Kapten Kirk’s dalam film Stark Strek (1966) menginspirasi seluruh konsep telepon portabel. Kapal selam dikenal mulai diproduksi pada perang dunia II, para Insinyur terispirasi dari seorang Jules Verne yang menulis kisah klasik “20.000 Leagues Under the Sea” tahun 1870, yang berkisah tentang tekhnologi perang bawah laut. Jack Cover, yang mengembangkan prototipe senjata mematikan, mengaku terinspirasi dari novel Victor Appleton (1911) “Thomas A. Swift’s Electric Rifle” yang bercerita tentang senapan listrik untuk berburu. Edward Everett Hale, penulis ide satelit “The Brick Moon” terinspirasi dari fiksi ilmiah Arthur C. Clarke tentang satelit sebagai komunikasi Massal. Internet yang sudah menjadi kebutuhan manusia abad ini, terinspirasi dari novel William GibsonNeuromancer” yang bercerita tentang world wide web, yang memungkinkan manusia di dunia bertukar informasi dengan cepat.[2]

Soekarno pada tahun 1940, pernah meramalkan terjadi Perang Asia Timur Raya atau Asia Pasifik. Saat itu terjadi, Indonesia akan merdeka dari penjajahan. Ramalan tersebut seringkali disangkut pautkan dengan ramalan Prabu Jayabaya yang berbau mistik. Namun ditengarai bahwa Soekarno terinspirasi dari Novel “The Great Pacific War” yang ditulis oleh Charles Hector Bywater pada tahun 1925.[3] Enam belas tahun sebelum meletus perang pasifik, melalui novelnya tersebut ia menceritakan skenario perang Pasifik. Sebelum menjadi wartawan, Bywater pernah bekerja sebagai analis data dan dokumen angkatan laut Inggris.

Saya perlu menjelaskan tentang peran fiksi dalam beberapa kejadian sejarah, sebelum menulis apa yang dimaksudkan dalam tulisan ini. Bahwa fiksi bersifat ramalan dan prediksi bahkan imajinasi memang benar adanya. Tetapi fiksi itu tidak berangkat dari kekosongan, ada realitas yang menjadi pengamatan kemudian di narasikan dalam bentuk fiksi. Meskipun fiksi, tidak sedikit yang menjadikannya inspirasi.

Dalam acara bedah buku, Nasionalisme Sosialisme Pragmatisme: Pemikiran ekonomi politik Sumitro Djojohadikusumo, yang diselenggarakan oleh FEB UI. Probowo Subianto, dalam sambutannya mengatakan Indonesia terancam bubar di tahun 2030. Ia menunjukkan novel Ghost Fleet yang ditulis oleh dua ahli strategi dan intelejen Amerika tentang skenario perang Amerika-Cina di tahun 2030.[4] Novel Ghost Fleet bercerita tentang perang masa depan yang terjadi di darat, laut, udara dan perang siber. Secara umum memang tidak menyebutkan kata Indonesia bubar, tapi menyebut “bekas Indonesia” menyiratkan Indonesia pernah ada.[5]

Pernyataan Prabowo tersebut lalu mengundang polemik, pro kontra saling sindir di jagad maya. Prabowo dianggap mengada-ada karena membaca novel fiksi, tapi ada juga yang menganggap Prabowo sedang mengingatkan kita, akan kemungkinan perang dimasa akan datang.

Saya menduga, Prabowo menjadikan novel fiksi Ghost Fleet sebagai bahan literasi, tidak semata karena isinya tapi lebih kepada siapa penulisnya. Dalam jurnal Studi Intelejen yang diterbitkan oleh Intellegence in Public Media, menyebutkan: “P.W. Singer and August Cole expertise in the defense world has pundits and strategists alike lauding Ghost Fleet’s accuracy in incorporating real-world emerging trends and technologies into a fictional story”.[6] Sebuah analisa yang sangat realistis, bahwa keahlian Singer dan Cole menggabungkan aspek nyata dengan dunia fiksi menarasikan perang masa depan, antara Amerika Serikat dengan China dan Rusia disisi lain. P.W. Singer sendiri merupakan seorang ahli strategi dalam bidang pertahanan. Sebelum menulis novel fiksi, Singer telah menulis buku ilmiah terkait perang. Diantaranya mendapat penghargaan seperti Corporate Warriors: The Rise of the Privatized Military Industry, Children at War, Wired for War: The Robotics Revolution and Conflict in the 21st Century; and Cybersecurity and Cyberwar: What Everyone Needs to Know.[7]

Terlepas dari kontroversi dan momentum tahun politik, pernyataan Prabowo menurut saya patut menjadi bahan diskusi. Prabowo mungkin terburu-buru menyatakan Indonesia bubar di tahun 2030, tapi perang masa depan adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Berkaca dengan kebangkitan ekonomi dan tekhnologi China, sebagai penantang Amerika. Sementara Rusia di sisi yang berbeda memiliki kemajuan di bidang tekhnologi militer, serta prediksi Samuel P. Hungtington yang ditengarai sebagai pendorong lahirnya konspirasi perang Amerika atas negara teluk. Bukan mustahil, perang masa depan bisa lebih cepat terjadi. Meskipun Singer membantah novel Armada Hantu bukan prediksi tapi Fiksi, bukankah fiksi senada pernah terbukti ketika Charles Bywater menulis The great Pacific War.

Fiksi itu seperti hantu, sesuatu yang sulit untuk dibuktikan tapi keberadaannya dianggap nyata dan diyakini oleh banyak orang. Kita boleh tak percaya fiksi sebagaimana tak percaya terhadap hantu, tapi tidak sedikit orang yang takut bila berhadapan dengannya. Sampai disini, Ghost Fleet adalah hantu masa depan, yang tidak seorangpun diantara kita ingin menyaksikannya.

*) Muhammad Syahudin (Peminat Literasi)



[1] The Telegraph. Wagner and Hitler: Hitler’s Obsession With Wagner began aged 12. The composer Would became hugely influential on the German Dictator (https://www.telegraph.co.uk. )
[2] Penemu Dunia. 15 Tekhnologi Modern Terisnpirasi oleh Fiksi (https://penemudunia.wordpress.com)
[3] Hendrajit. Bung Karno, Charles Bywater dan The Great Pacific War (http://theglobal-review.com)
[6] Darby Stratford. Ghost Fleet-A Novel of the Next World War. Intelligence in Public Media; Studies in Intelligence Vol. 60, No. 1 (Extract, March 2016).

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner