Opera Richard Wagner yang menggunakan bahasa ekspresi dramatis, berisi
puisi dan anasir teatrikal memuja
mitologi Jerman kuno, serta tendensi sastranya yang anti semitis begitu memengaruhi
Hitler. Sejak berusia 12 Tahun, menyaksikan opera Wagner kesannya begitu membekas
dalam pandangan politik Hitler tentang ras dan epos kepahlawanan. Begitu terpesona
dengan Wagner, Hitler berkata : “Wagner’s
line of thought is intimately familiar to me, at every stage of my life i come back
to him”.[1]
Selanjutnya bisa ditebak, opera Wagner yang berbau fiksi membuat Hitler
memunculkan perang dunia II. Meskipun tidak terpengaruh seutuhnya, tapi
pernyataan Hitler yang mengatakan bahwa dalam setiap tahapan hidupnya, ia
selalu kembali kepada Wagner sudah cukup menggambarkan betapa fiksi begitu kuat
mempengaruhinya.
Fiksi sepertinya tidak bisa berpisah dari imajinasi, sebab ruhnya adalah
itu. Kenyataan sejarah membuktikan imajinasi dalam fiksi dapat diwujudkan. Fiksi
ilmiah seringkali dianggap menantang hukum pengetahuan dan hanya berupa
khayalan masa depan. Tapi sadarkah kita, bahwa beberapa teknologi yang sekarang
kita nikmati terinspirasi dari fiksi.
Martin Cooper, penemu ponsel genggam pertama mengatakan bahwa; Gadged Kapten Kirk’s
dalam film Stark Strek (1966) menginspirasi seluruh konsep telepon portabel.
Kapal selam dikenal mulai diproduksi pada perang dunia II, para Insinyur
terispirasi dari seorang Jules Verne
yang menulis kisah klasik “20.000 Leagues Under the Sea” tahun
1870, yang berkisah tentang tekhnologi perang bawah laut. Jack Cover, yang mengembangkan prototipe senjata mematikan, mengaku
terinspirasi dari novel Victor Appleton
(1911) “Thomas A. Swift’s Electric Rifle” yang bercerita tentang
senapan listrik untuk berburu. Edward
Everett Hale, penulis ide satelit “The Brick Moon” terinspirasi dari
fiksi ilmiah Arthur C. Clarke
tentang satelit sebagai komunikasi Massal. Internet yang sudah menjadi
kebutuhan manusia abad ini, terinspirasi dari novel William Gibson “Neuromancer” yang bercerita tentang world wide web, yang memungkinkan
manusia di dunia bertukar informasi dengan cepat.[2]
Soekarno
pada tahun 1940, pernah meramalkan terjadi Perang Asia Timur Raya atau Asia
Pasifik. Saat itu terjadi, Indonesia akan merdeka dari penjajahan. Ramalan tersebut
seringkali disangkut pautkan dengan ramalan Prabu Jayabaya yang berbau mistik. Namun
ditengarai bahwa Soekarno terinspirasi dari Novel “The Great Pacific War” yang
ditulis oleh Charles Hector Bywater
pada tahun 1925.[3]
Enam belas tahun sebelum meletus perang pasifik, melalui novelnya tersebut ia
menceritakan skenario perang Pasifik. Sebelum menjadi wartawan, Bywater pernah
bekerja sebagai analis data dan dokumen angkatan laut Inggris.
Saya
perlu menjelaskan tentang peran fiksi dalam beberapa kejadian sejarah, sebelum
menulis apa yang dimaksudkan dalam tulisan ini. Bahwa fiksi bersifat ramalan
dan prediksi bahkan imajinasi memang benar adanya. Tetapi fiksi itu tidak
berangkat dari kekosongan, ada realitas yang menjadi pengamatan kemudian di
narasikan dalam bentuk fiksi. Meskipun fiksi, tidak sedikit yang menjadikannya
inspirasi.
Dalam
acara bedah buku, Nasionalisme Sosialisme Pragmatisme: Pemikiran ekonomi politik
Sumitro Djojohadikusumo, yang diselenggarakan oleh FEB UI. Probowo Subianto,
dalam sambutannya mengatakan Indonesia terancam bubar di tahun 2030. Ia menunjukkan
novel Ghost Fleet yang ditulis oleh dua ahli strategi dan intelejen
Amerika tentang skenario perang Amerika-Cina di tahun 2030.[4]
Novel Ghost Fleet bercerita tentang perang masa depan yang terjadi di
darat, laut, udara dan perang siber. Secara umum memang tidak menyebutkan kata
Indonesia bubar, tapi menyebut “bekas Indonesia” menyiratkan Indonesia pernah
ada.[5]
Pernyataan
Prabowo tersebut lalu mengundang polemik, pro kontra saling sindir di jagad
maya. Prabowo dianggap mengada-ada karena membaca novel fiksi, tapi ada juga
yang menganggap Prabowo sedang mengingatkan kita, akan kemungkinan perang
dimasa akan datang.
Saya
menduga, Prabowo menjadikan novel fiksi Ghost Fleet sebagai bahan literasi,
tidak semata karena isinya tapi lebih kepada siapa penulisnya. Dalam jurnal Studi
Intelejen yang diterbitkan oleh Intellegence in Public Media,
menyebutkan: “P.W. Singer and August Cole expertise in the defense world has pundits
and strategists alike lauding Ghost Fleet’s accuracy in incorporating
real-world emerging trends and technologies into a fictional story”.[6] Sebuah
analisa yang sangat realistis, bahwa keahlian Singer dan Cole menggabungkan
aspek nyata dengan dunia fiksi menarasikan perang masa depan, antara Amerika
Serikat dengan China dan Rusia disisi lain. P.W. Singer sendiri merupakan seorang
ahli strategi dalam bidang pertahanan. Sebelum menulis novel fiksi, Singer
telah menulis buku ilmiah terkait perang. Diantaranya mendapat penghargaan
seperti Corporate Warriors: The Rise of the Privatized
Military Industry, Children at War, Wired for War: The Robotics Revolution and
Conflict in the 21st Century; and Cybersecurity and Cyberwar: What Everyone Needs to Know.[7]
Terlepas
dari kontroversi dan momentum tahun politik, pernyataan Prabowo menurut saya
patut menjadi bahan diskusi. Prabowo mungkin terburu-buru menyatakan Indonesia
bubar di tahun 2030, tapi perang masa depan adalah sesuatu yang sangat mungkin
terjadi. Berkaca dengan kebangkitan ekonomi dan tekhnologi China, sebagai
penantang Amerika. Sementara Rusia di sisi yang berbeda memiliki kemajuan di
bidang tekhnologi militer, serta prediksi Samuel
P. Hungtington yang ditengarai sebagai pendorong lahirnya konspirasi perang
Amerika atas negara teluk. Bukan mustahil, perang masa depan bisa lebih cepat
terjadi. Meskipun Singer membantah novel Armada Hantu bukan prediksi tapi
Fiksi, bukankah fiksi senada pernah terbukti ketika Charles Bywater menulis The great Pacific War.
Fiksi
itu seperti hantu, sesuatu yang sulit untuk dibuktikan tapi keberadaannya
dianggap nyata dan diyakini oleh banyak orang. Kita boleh tak percaya fiksi
sebagaimana tak percaya terhadap hantu, tapi tidak sedikit orang yang takut
bila berhadapan dengannya. Sampai disini, Ghost Fleet adalah hantu masa depan,
yang tidak seorangpun diantara kita ingin menyaksikannya.
*) Muhammad Syahudin (Peminat Literasi)
[1]
The Telegraph. Wagner and Hitler: Hitler’s
Obsession With Wagner began aged 12. The composer Would became hugely
influential on the German Dictator (https://www.telegraph.co.uk.
)
[6]
Darby Stratford. Ghost Fleet-A Novel of
the Next World War. Intelligence in Public Media; Studies in Intelligence Vol.
60, No. 1 (Extract, March 2016).
