Ada
semacam kerumitan tersendiri untuk menelaah pemikiran Lacan. Tidak mudah untuk
menarik benang merah dalam setiap ungkapannya. Tak jarang dia menghidupkan dan
mematikan gagasan pendahulunya, meskipun ia tetap melakukan dekonstruksi dengan
memimjam istilah yang sama, namun tidak persis sama. Karena itu, pemikiran
Lacan adalah persilangan pemikiran psikoanalisa Freud, filsafat eksistensialis
Heidegger, semiotik-strukturalis Claude Levi Strauss, Ferdinand de Saussure dan
Jacques Derrida. Persilangan tersebut, membangkitkan kembali ghirah kehidupan
dunia “subyek” setelah Rasio Descartes dan Immanuel Kant. Jacques Lacan adalah
orang itu, ia telah membangkitkan hantu psikoanalisis yang tertimbum arus
pemikiran modernisme.
Jacques
Lacan (1901-1981), lahir di Paris Perancis 13 april 1901. Dibesarkan oleh
psikoanalisis, psikiatris hingga filsafat, membuatnya terkenal sebagai filsuf
yang fenomenal pada abad ini. Kenakalannya dalam mencampur dan merombak
pemikiran mapan, membuatnya tak mudah untuk ditebak. Namun sebagaimana ciri
postmo, Lacan juga tampaknya menikmati permainan parodi yang terkesan “lucu”,
sekaligus membuat kita terpaksa mengernyitkan dahi.
Bila
mazhab cartesian mengagungkan kesadaran (rasio) sebagai pengetahuan a-priori, maka Lacan lebih genit dengan
membahas “ketidaksadaran”. Bila pemikir lain cenderung statis atau dinamis.
Lacan bisa memainkan peran keduanya, sehingga untuk menyerdehanakan peristilahan
Lacan menjadi pekerjaan rumit. Permainan “hasrat” dalam teks-teksnya menjadi
gaya tersendiri, agar pembaca dibuat keder hingga sulit meng-asimilasi idenya.
Kegemaran Lacan yang lain adalah merumuskan kosakatanya sendiri, dengan rumus
linguistik yang terkesan asing bila diterjemahkan secara harfiah ataupun
esensinya. Parahnya lagi Lacan tidak menyukai pubikasi, ceramah-ceramahnya,
baru bisa kita kenali diksinya setelah kematiannya.
Konsep Ketidaksadaran
Tak
salah lagi, dunia mengenal konsep Psikoanalisis
berasal dari Sigmund Freud. Sempat membuat kehebohan, dan mengundang polemik di
Eropa dengan mendobrak humanisme. Lacan begitu tertarik dan sangat serius
sebagai pembaca Freud, tampak dari diktumnya return of Freud. Konsep psikoanalisis
Freud bermula dari apa yang disebutnya sebagai ‘ego’. Freud mengatakan dimana
ada id selalu ada ‘aku’-ego (woe es war, sol ich warden). Konsep
cartesian tentang tentang imaji subyek rasional, bebas dan tercerahkan, tak
lebih dari sekedar ego-cogito. Bila cogito membincang tentang diri yang memiliki "kesadaran" maka ego sebaliknya, membincang "ketidaksadaran". artinya ego mendahului cogito.
Ketidaksadaran
itu berupa obsesi dan hasrat yang merepresi kesadaran (id) manusia. Sebagaimana diketahui, konsep “aku ada karena aku
berfikir” (cogito ergo sum), menjadi
arus utama positivisme. “Aku” disini
dipahami sebagai diri yang kuat, absolut dan mandiri berdasarkan logika Des
Cartes. Disinilah penolakan Lacan, menurutnya ego adalah produk imajiner
dari ketidaksadaran, sehingga ego diri (self)
adalah ilusi.
Bersambung....
*) Muhammad Syahudin
