-->

Saturday, October 6, 2018

Psikoanalisa-semiotik Jacques Lacan



Ada semacam kerumitan tersendiri untuk menelaah pemikiran Lacan. Tidak mudah untuk menarik benang merah dalam setiap ungkapannya. Tak jarang dia menghidupkan dan mematikan gagasan pendahulunya, meskipun ia tetap melakukan dekonstruksi dengan memimjam istilah yang sama, namun tidak persis sama. Karena itu, pemikiran Lacan adalah persilangan pemikiran psikoanalisa Freud, filsafat eksistensialis Heidegger, semiotik-strukturalis Claude Levi Strauss, Ferdinand de Saussure dan Jacques Derrida. Persilangan tersebut, membangkitkan kembali ghirah kehidupan dunia “subyek” setelah Rasio Descartes dan Immanuel Kant. Jacques Lacan adalah orang itu, ia telah membangkitkan hantu psikoanalisis yang tertimbum arus pemikiran modernisme.

Jacques Lacan (1901-1981), lahir di Paris Perancis 13 april 1901. Dibesarkan oleh psikoanalisis, psikiatris hingga filsafat, membuatnya terkenal sebagai filsuf yang fenomenal pada abad ini. Kenakalannya dalam mencampur dan merombak pemikiran mapan, membuatnya tak mudah untuk ditebak. Namun sebagaimana ciri postmo, Lacan juga tampaknya menikmati permainan parodi yang terkesan “lucu”, sekaligus membuat kita terpaksa mengernyitkan dahi.

Bila mazhab cartesian mengagungkan kesadaran (rasio) sebagai pengetahuan a-priori, maka Lacan lebih genit dengan membahas “ketidaksadaran”. Bila pemikir lain cenderung statis atau dinamis. Lacan bisa memainkan peran keduanya, sehingga untuk menyerdehanakan peristilahan Lacan menjadi pekerjaan rumit. Permainan “hasrat” dalam teks-teksnya menjadi gaya tersendiri, agar pembaca dibuat keder hingga sulit meng-asimilasi idenya. Kegemaran Lacan yang lain adalah merumuskan kosakatanya sendiri, dengan rumus linguistik yang terkesan asing bila diterjemahkan secara harfiah ataupun esensinya. Parahnya lagi Lacan tidak menyukai pubikasi, ceramah-ceramahnya, baru bisa kita kenali diksinya setelah kematiannya.

Konsep Ketidaksadaran

Tak salah lagi, dunia mengenal konsep Psikoanalisis berasal dari Sigmund Freud. Sempat membuat kehebohan, dan mengundang polemik di Eropa dengan mendobrak humanisme. Lacan begitu tertarik dan sangat serius sebagai pembaca Freud, tampak dari diktumnya return of Freud. Konsep psikoanalisis Freud bermula dari apa yang disebutnya sebagai ‘ego’. Freud mengatakan dimana ada id selalu ada ‘aku’-ego (woe es war, sol ich warden). Konsep cartesian tentang tentang imaji subyek rasional, bebas dan tercerahkan, tak lebih dari sekedar ego-cogito. Bila cogito membincang tentang diri yang memiliki "kesadaran" maka ego sebaliknya, membincang "ketidaksadaran". artinya ego mendahului cogito.


Ketidaksadaran itu berupa obsesi dan hasrat yang merepresi kesadaran (id) manusia. Sebagaimana diketahui, konsep “aku ada karena aku berfikir” (cogito ergo sum), menjadi arus utama positivisme. “Aku” disini dipahami sebagai diri yang kuat, absolut dan mandiri berdasarkan logika Des Cartes. Disinilah penolakan Lacan, menurutnya ego adalah produk imajiner dari ketidaksadaran, sehingga ego diri (self) adalah ilusi.

Bersambung....

*) Muhammad Syahudin


NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner