-->

Wednesday, October 31, 2018

HOAK’S SOKAL BUKAN HOAKS RATNA



Hoaks diprediksi sudah dikenal sejak era industri di Inggris, sekitar medio 1808. Disebut hocus pocus, semacam mantra “sim salabim” dalam sulap. Penipuan dibalik trik sulap ini disamakan dengan hoaks. Adalah Lynda Walsh, yang menyebut istilah ini pertama kali dalam bukunya; Sins Against sience

Curtis Daniel MacDougall dalam kitab klasiknya Hoaxes, mendefenisikan hoaks sebagai kebohongan yang sengaja dibuat sebagai sebuah kebenaran. Berbeda dengan kebohongan yang dibuat sebagai lelucon (humor). Menurut Jan Harold Brunvand, hoaks  diyakini secara sadar dan dapat dibuktikan kebohongannya kemudian diyakini kebenarannya. Sedangkan humor, sudah diketahui ada unsur fiksi. Jelas perbedaannya terletak pada keyakinan. Harold selanjutnya menyimpulkan, Hoaks termasuk penipuan yang melampaui “main-main”, menyebabkan kerugian dan membahayakan korban. Tidak heran bila seorang Alexander Boese mendirikan Museum of Hoaxes, untuk membuka mata publik tentang andil hoaks dalam peradaban manusia.

Untuk memahami informasi bohong, digunakan dua kategorisasi. Pertama, Mis-informasi. Yaitu penyebaran berita secara sengaja atau tidak disengaja terhadap berita bohong (baca; palsu). Kedua, Dis-informasi. Yaitu penyampaian informasi (berita) bohong dengan sengaja, untuk membohongi dan membingungkan oranglain. Dari dua model tersebut, baik pelaku Dis-informasi maupun mis-informasi, sama melakukan hoaks. Bedanya hanya  terletak pada kesadaran pelaku dalam membagi konten.

Musim panas, 1996. Alan David Sokal, seorang profesor di University College of London dan New York University, menulis sebuah jurnal akademik yang terkesan ambisius ‘Transgressing the Boundaries: Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity’. Jurnal tersebut dipublikasi oleh sebuah media kajian budaya ternama di Amerika, Social Text. Sontak saja, dunia akademisi dibuat heboh. Ide Sokal tentang Melampaui Batas(an) hermeneutics dan teori gravitasi quantum jelas membuat dunia akademisi terguncang. Dengan kecerdikannya, Sokal memakai teori budaya sebagai pembenaran teori sains, begitu pula sebaliknya. Sokal bahkan menyebut pemikirannya sebagai sains ‘postmodern’ pembebasan.

Sokal mengaduk pemikiran potmodern kenamaan sekelas Jacques Derrida dan Jacques Lacan, dengan teori fisika terbarukan oleh Einsten, Heisenberg dan Niels Bohr. Ia menyebut, spekulasi psikoanalisis Lacan, telah terkonfirmasi kebenarannya melalui teori Medan Kuantum. Teori himpunan matematika sejalan dengan konsep homonim kaum feminis. Dalam gagasan liberalisme sains, Sokal memberi tawaran pendekatan demokratis terhadap sains. Isi dan metodologinya pun harus mendukung kaum intelektual dalam membangun proyek politik progresif. Dijurnal tersebut, Sokal menyebut teori konstanta Einsten bukanlah pusat (sesuatu—dari suatu pusat dimana seorang pengamat menguasai medannya). Melainkan apa yang disebut Derrida sebagai Variabilitas, hanya permainan. Keren kan?

Beberapa minggu setelah Jurnalnya terpublikasi, Sokal berulah lagi. Pasalnya, esai yang ia tulis di jurnal Lingua Franca ‘physicist Experiments with Cultural Studies’. Ia mengaku, jurnal yang dimuat Social Text hanya parodi, Satire belaka. Ia sengaja membuat hoaks dari fiksi yang dikarangnya untuk menguji standar intelektual akademisi humaniora Amerika Serikat. Sokal mendaku, Ia mengkhawatirkan penyebaran cara berfikir omong kosong dan ceroboh, yang menolak (menyangkal) realitas objektif. Yang membuat para editor Social text terkecoh, karena isinya bagus dan sesuai dengan pra-konsepsi mereka. Tentang konten dan metodologi sains postmodern yang mendukung proyek politik progresif. Kejadian ini menyebar, dikenal dengan istilah hoak’s Sokal.

Setelah pengakuan Sokal. Dua editor Social Text Bruce Robbins dan Andrew Ross menyampaikan permintaan maaf ke publik. Mereka mengatakan bahwa sudah meminta Sokal membuang spekulasi filosofis dan menghilangkan catatan kaki yang panjang. Pihak editor sebenarnya menilai bahwa artikel Sokal terlalu banyak masalah untuk dipublikasi, tapi isinya menarik untuk dibaca. Menutupi malu, pihak editor menyebut Sokal; “penulis yang sulit dan tidak kooperatif”. Klarifikasi editor Social Text lalu mengundang polemik. Tahun 2008, Sokal menulis buku; Beyond the Hoax: Science, Philoshophy and Culture. Di dalamnya merangkum pemikiran filsafat, sains dan kajian budaya. Sokal membongkar hoak yang diciptakannya sendiri, satu-persatu.

Jakarta, 3 oktober 2018. Artis panggung dan aktivis perempuan, Ratna Sarumpaet mengaku menciptakan hoak. Dengan tersedu dan berlinang air mata, ia membeberkan kronologi hoak yang dibuatnya. sedikit tangguh, ia mengklaim sebagai pencipta hoak terbaik. Ia mengaku dipukuli oleh tiga orang di Bandung, lalu ditelantarkan di bandara untuk menutupi efek operasi plastik. Cerita itu pertama kali dipublikasi Fadli Zon melalui cuitan Twitter. Bak gayung bersambut, jagad maya sempat heboh dengan perdebatan. Ada yang membela dan meragukan keterangan tersebut. Tak tanggung-tanggung, kubu oposisi Prabowo-Sandi menggelar dua konfrensi pers. Pertama saat Prabowo mengutuk kekerasan kepada Ratna Sarumpaet, lalu keterangan permohonan maaf karena dibohongi dan percaya atas kebohongan cerita Ratna.

Tak cukup dengan pengakuan Ratna, dua kubu capres saling tuding berada dibalik skenario kebohongan Ratna. Kubu pemerintah, menganggap skenario kebohongan Ratna sengaja diciptakan oposisi untuk merusak kredibilitas pemerintah. Sedangkan kubu oposisi, menuding Ratna adalah penyusup yang sengaja dimasukkan ke dalam kubu oposisi untuk menjatuhkan elektabilitas Prabowo. Ironis memang, saat masyarakat Indonesia berduka atas musibah gempa di Palu dan Donggala. Dramatis, setelah pengakuan kebohongan itu, Ratna terbuang. Bahkan salahsatu tokoh penting oposisi, memberi cap “sampah” kepadanya. 

Sokal berbohong dengan sengaja, dan semua percaya. Lalu ia sendiri yang menjelaskan kritik atas kebohongannya. Disitu Sokal tidak pernah meminta maaf, karena tendensinya menguji kualitas akademisi. Malah, pihak editor dan majalah Social Text yang meminta maaf. Ratna berbohong, dan minta maaf. Berikut diikuti dengan rentetan permintaan maaf yang terlanjur percaya, Akibat kebohongan Ratna, yang dipercaya oleh ilmuan, akademisi, tenaga profesi, politisi dan tentu nitizen buzzer. Sokal membongkar motif kebohongan, sedangkan Ratna bungkam. Ia malah menyalahkan setan dan mempertanyakan skenario Tuhan kepadanya. Dengan Sokal kita dapat menangkap pesan, tapi Ratna hanya tanda tanya. Sulit untuk bertanya kepada setan, apalagi Tuhan.

*) Muhammad Syahudin.

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner