Kenalkah anda dengan Hassan Hanafi? Seorang pemikir asal Kairo, memiliki
garis darah Maroko, yang dengan “pedas” melalukan kritik terhadap fenomena umat
Islam, sekaligus membuat “gerah” para ilmuan Barat. Ia bukanlah seorang yang
mudah didoktrin, pemikirannya bebas. Namun, lahir dari rahim Islam yang paling
fundamental. Keresahan Hassan Hanafi, dipicu oleh massifnya dominasi pemikiran
Barat dalam bidang ilmu pengetahuan, tak terkecuali dunia Islam.
Ada semacam cambuk tersendiri baginya, untuk menjawab tantangan tersebut. Disisi
lain, umat Islam cenderung “alergi” untuk mengenal keilmuan Barat. Tak ayal,
hal tersebut menciptakan polarisasi di dalam tubuh umat Islam. Keberaniannya
untuk membangun arus baru, membuat ia tak jarang mendapat label “kafir”. Ia tidak hanya melakukan kritik, tetapi juga mengadaptasi pemikiran Barat,
lalu membangun teorinya sendiri.
Masyarakat Islam notabene masih tertinggal, bergelut dengan keterbelakangan
ekonomi dan tertinggal dalam bidang pengetahuan. Membuat
Hassan Hanafi, menyeru pembaharuan dan reformasi penafsiran agama. Dalama
beberapa hal menafsir ulang pemahanan keagamaan yang disebut-sebut rekonstruksi
pemikiran dalam dunia Islam. Walaupun kata rekonstruksi,
sering menuai protes dari sebagian ilmuan muslim, terkadang cendikiawan muslim
lainnya justru bergelut dengan pemikiran barat. Berpijak pada dasar
epistomologi Islam, mereka ber-evolusi membentuk cara pandangnya sendiri.
Hassan Hanafi
adalah salah satu dari cendikiawan muslim, yang pemikirannya dianggap berani
menantang penafsiran agama, yang sejak
lama akrab dalam dunia Islam. Beliau mencoba untuk memberikan beberapa
alternatif pemikiran,
bagi perkembangan dunia Islam yang lebih sering terlibat konflik,
hanya karena penafsiran-penafsiran terhadap teks yang dianggap mapan.
Dengan menggugat
penafsiran atas teks kitab suci dan kondisi umat Islam, Hassan hanafi ingin
menunjukkan sebuah proyek, bagi kerangka mendasar dalam menata
masyarakat, sebuah
penafsiran baru terhadap Islam. Bagi Hanafi mengarungi
pemikiran yang rekonstruktif, dapat membuat
kesadaran pengetahuan umat Islam berkembang
mengikuti gerak zaman.
Hermeunetik
fenomenologi adalah bagian dari metode yang ingin ditawarkan oleh Hanafi,
sebagai bagian dari epistemologi oksidentalisme-nya.
Ide Hanafi cukup beralasan mengingat cara
barat menilai dan memproyeksikan dunia timur terkhusus Islam. Walaupun dalam
ranah pendekatan yang kental metode hermeneutik,
namun Hanafi menambahkan dengan ide
fenomenologi dari Hustler
untuk menguatkan landasan cara pandang beliau,
bahwa hermenutik tidak semata kaku digunakan untuk mengkritik makna teks dalam
kitab suci. Tapi lebih tepatnya penafsiran teks terhadap realitas umat Islam
kekinian.
Dengan menggunakan
metode yang dikembangkan oleh barat sendiri, Hanafi
ingin membangun epistemologi kritis terhadap
cara barat menilai Islam. Tampaknya ketertarikan Hanafi
tentang konsep hermenutik lebih cenderung kepada pemikiran Heideggar.
Pemikiran Heidegar dan Hustler
inilah yang membuat Hanafi menggunakan kedua metode tersebut
sebagai bagian metode pendekatan dalam memahami realitas.
Menurut Hanafi,
makna dilahirkan oleh konteks sosial dan politis dimana teks dihasilkan, dibaca
dan dipergunakan. Tampaknya, beliau menambahkan penafsiran baru atas teks untuk
menguatkan pendekatan tafsir klasik. Baginya, tafsir bukanlah sesuatu yang
lahir di ruang hampa. Karena itu, seorang mufassir bukan hanya menerima, tapi
memberi makna. Meletakkannya dalam struktur rasional dan nyata, dengan berusaha
menemukan identitas sejati antara wahyu, kesadaran dan alam.[1]
Terjadinya kesenjangan antara teks dengan realitas, dikarenakan tafsir-tafsir
klasik hanya bertumpu kepada teks semata.[2]
Setiap teks berangkat dari pra-pemahaman tertentu, berupa pemahaman dan
kepentingan penafsir dalam teks. Menafsir haruslah produktif, bukan sekedar
reproduksi makna. Bila makna sulit ditemukan, dengan sendirinya telah
kehilangan konteks eksistensialnya.
Tak cukup sampai
disitu saja, Hassan Hanafi memiliki gagasan tentang Kiri Islam. Sebuah idiom
yang gugup difahami sebagian orang. Ide kiri-nya tentu diperoleh dengan
persentuhannya dengan sosialisme. Abdurrahman Wahid dalam pengantar buku Kazuo
Shimogaki, mengatakan; bahwa pemikiran Hanafi jelas-jelas mengacu pada analisis
kelas, yang mendominasi sosialisme sebagai faham (Shimogaki, 1994). Pada tahun
1981, melalui jurnal al-Yasar al-Islami,
Hanafi menegaskan manifesto gerakannya yang berbau ideologi kiri Islam. Diantara yang mendasari
pemikirannya, terjadinya revolusi Islam Iran atas kepemimpinan Imam Khomeini,
dan arsiteknya Ali Syari’ati (Ibid;
xiv). Pun juga kebangkitan modern dunia Islam. Diantara faktor pemicunya; pertama, menguatnya feodalisme dan
kapitalisme kesukuan, akibat
kecendrungan terhadap kekuasaan. Sehingga, praktek agama tak lebih dari sekedar
ritus semata. Kedua, rakyat muslim
mengalami ekploitasi ekonomi, akibat dari ulah kolonialisme. Ketiga,
terjadi perubahan fundamental terhadap sosio-kultural dunia Islam-Barat.
Penyebabnya kecendrungan nasional-revolusioner (Hanafi, al-Yasar al-Islami. 1981:9-10).
[1]
Ilham B. Saenong. Hermeneutika
Pembebasan, Metodologi tafsir Al-Qur’an Menurut Hassan Hanafi (Jakarta:
Teraju, 2002) hal. 146
[2]
Hassan Hanafi. Metode Tafsir dan
Kemaslahatan Umat, diterjemahkan Dedi Wahyudi dari buku Manhij al-Tafsir wa masalih al-ummah. (yogyakarta:
Nawesea, 2007) hal. 130
*) Muhammad Syahudin
(Direktur Lembaga Kajian Filsafat dan Ilmu Sosial)
