-->

Friday, July 21, 2017

Menimbang Gagasan Hassan Hanafi


Kenalkah anda dengan Hassan Hanafi? Seorang pemikir asal Kairo, memiliki garis darah Maroko, yang dengan “pedas” melalukan kritik terhadap fenomena umat Islam, sekaligus membuat “gerah” para ilmuan Barat. Ia bukanlah seorang yang mudah didoktrin, pemikirannya bebas. Namun, lahir dari rahim Islam yang paling fundamental. Keresahan Hassan Hanafi, dipicu oleh massifnya dominasi pemikiran Barat dalam bidang ilmu pengetahuan, tak terkecuali dunia Islam. Ada semacam cambuk tersendiri baginya, untuk menjawab tantangan tersebut. Disisi lain, umat Islam cenderung “alergi” untuk mengenal keilmuan Barat. Tak ayal, hal tersebut menciptakan polarisasi di dalam tubuh umat Islam. Keberaniannya untuk membangun arus baru, membuat ia tak jarang mendapat label “kafir”. Ia tidak hanya melakukan kritik, tetapi juga mengadaptasi pemikiran Barat, lalu membangun teorinya sendiri.

Masyarakat Islam notabene masih tertinggal, bergelut dengan keterbelakangan ekonomi dan tertinggal dalam bidang pengetahuan. Membuat Hassan Hanafi, menyeru pembaharuan dan reformasi penafsiran agama. Dalama beberapa hal menafsir ulang pemahanan keagamaan yang disebut-sebut rekonstruksi pemikiran dalam dunia Islam. Walaupun kata rekonstruksi, sering menuai protes dari sebagian ilmuan muslim, terkadang cendikiawan muslim lainnya justru bergelut dengan pemikiran barat. Berpijak pada dasar epistomologi Islam, mereka ber-evolusi membentuk cara pandangnya sendiri.

Hassan Hanafi adalah salah satu dari cendikiawan muslim, yang pemikirannya dianggap berani menantang penafsiran agama, yang sejak lama akrab dalam dunia Islam. Beliau mencoba untuk memberikan beberapa alternatif  pemikiran, bagi perkembangan dunia Islam yang lebih sering terlibat konflik, hanya karena penafsiran-penafsiran terhadap teks yang dianggap mapan.

Dengan menggugat penafsiran atas teks kitab suci dan kondisi umat Islam, Hassan hanafi ingin menunjukkan sebuah proyek, bagi kerangka mendasar dalam menata masyarakat, sebuah penafsiran baru terhadap Islam. Bagi Hanafi mengarungi pemikiran yang rekonstruktif, dapat membuat kesadaran pengetahuan umat Islam berkembang mengikuti gerak zaman.

Hermeunetik fenomenologi adalah bagian dari metode yang ingin ditawarkan oleh Hanafi, sebagai bagian dari epistemologi oksidentalisme-nya. Ide Hanafi cukup beralasan mengingat cara barat menilai dan memproyeksikan dunia timur terkhusus Islam. Walaupun dalam ranah pendekatan yang kental metode hermeneutik, namun Hanafi menambahkan dengan ide fenomenologi dari Hustler untuk menguatkan landasan cara pandang beliau, bahwa hermenutik tidak semata kaku digunakan untuk mengkritik makna teks dalam kitab suci. Tapi lebih tepatnya penafsiran teks terhadap realitas umat Islam kekinian.

Dengan menggunakan metode yang dikembangkan oleh barat sendiri, Hanafi ingin membangun epistemologi kritis terhadap cara barat menilai Islam. Tampaknya ketertarikan Hanafi tentang konsep hermenutik lebih cenderung kepada pemikiran Heideggar. Pemikiran Heidegar dan Hustler inilah yang membuat Hanafi menggunakan kedua metode tersebut sebagai bagian metode pendekatan dalam memahami realitas.

Menurut Hanafi, makna dilahirkan oleh konteks sosial dan politis dimana teks dihasilkan, dibaca dan dipergunakan. Tampaknya, beliau menambahkan penafsiran baru atas teks untuk menguatkan pendekatan tafsir klasik. Baginya, tafsir bukanlah sesuatu yang lahir di ruang hampa. Karena itu, seorang mufassir bukan hanya menerima, tapi memberi makna. Meletakkannya dalam struktur rasional dan nyata, dengan berusaha menemukan identitas sejati antara wahyu, kesadaran dan alam.[1] Terjadinya kesenjangan antara teks dengan realitas, dikarenakan tafsir-tafsir klasik hanya bertumpu kepada teks semata.[2] Setiap teks berangkat dari pra-pemahaman tertentu, berupa pemahaman dan kepentingan penafsir dalam teks. Menafsir haruslah produktif, bukan sekedar reproduksi makna. Bila makna sulit ditemukan, dengan sendirinya telah kehilangan konteks eksistensialnya.

Tak cukup sampai disitu saja, Hassan Hanafi memiliki gagasan tentang Kiri Islam. Sebuah idiom yang gugup difahami sebagian orang. Ide kiri-nya tentu diperoleh dengan persentuhannya dengan sosialisme. Abdurrahman Wahid dalam pengantar buku Kazuo Shimogaki, mengatakan; bahwa pemikiran Hanafi jelas-jelas mengacu pada analisis kelas, yang mendominasi sosialisme sebagai faham (Shimogaki, 1994). Pada tahun 1981, melalui jurnal al-Yasar al-Islami, Hanafi menegaskan manifesto gerakannya yang berbau ideologi  kiri Islam. Diantara yang mendasari pemikirannya, terjadinya revolusi Islam Iran atas kepemimpinan Imam Khomeini, dan arsiteknya Ali Syari’ati (Ibid; xiv). Pun juga kebangkitan modern dunia Islam. Diantara faktor pemicunya; pertama, menguatnya feodalisme dan kapitalisme  kesukuan, akibat kecendrungan terhadap kekuasaan. Sehingga, praktek agama tak lebih dari sekedar ritus semata. Kedua, rakyat muslim mengalami ekploitasi ekonomi, akibat dari ulah kolonialisme.  Ketiga, terjadi perubahan fundamental terhadap sosio-kultural dunia Islam-Barat. Penyebabnya kecendrungan nasional-revolusioner (Hanafi, al-Yasar al-Islami. 1981:9-10).




[1] Ilham B. Saenong. Hermeneutika Pembebasan, Metodologi tafsir Al-Qur’an Menurut Hassan Hanafi (Jakarta: Teraju, 2002) hal. 146
[2] Hassan Hanafi. Metode Tafsir dan Kemaslahatan Umat, diterjemahkan Dedi Wahyudi dari buku Manhij al-Tafsir wa masalih al-ummah. (yogyakarta: Nawesea, 2007) hal. 130

*) Muhammad Syahudin
(Direktur Lembaga Kajian Filsafat dan Ilmu Sosial)
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner