Langit Makin Mendung (Sastra, 1968), jelas sebuah
fiksi. Bagi yang menyelami aksara sastra, akan
tahu itu imajinatif. Mungkin saja tersirat ๐ ๐ข๐๐๐๐๐๐ ๐๐ – nyata yang disamarkan, atau sesuatu yang berkisah
tentang ๐๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐ – nyata yang
difantasikan. Tentu tak bisa mengukur perkara imani, pun salah tempat
memosisikan dalam ranah rasionalitas. Diksi imajinatif itu hidup dalam jiwa ๐๐๐ก๐๐ – ๐๐ฆ๐กโ – ๐๐๐ ๐ก๐๐ . Yang pilong, tersamarkan
oleh delusi, memusuhi dan mengadili.
Soalan imajinasi itulah yang membuat “Paus” sastra –
H.B. Jassin, diseret ke pengadilan. Dituntut karena tak mau mengungkap
identitas Kipanjikusmin, penulis Langit Makin Mendung. Di tengah para
penggugat, Jassin bersuara lantang : “saya amat yakin, dunia imajinasi dan
kenyataan adalah dua hal yang berbeda. Saya percaya, imajinasi tak layak
diadili dan disetarakan dengan dalil agama. Apakah kita harus memaksa seniman
mendiamkan hati nuraninya, membutakan matanya, menulikan telinganya, mematikan
perasaannya dan melumpuhkan pikirannya”. Tetap saja ia dipenjara 1 tahun. Dan
Langit Makin Mendung di-beredel.
Suatu Saat, Jassin berhasrat menerjemahkan Alquran
dengan bahasa sastra. Kritik dilayangkan padanya. Ia dianggap tak berkompeten. Kadung
memantik polemik, hasratnya tak pernah kesampaian. Dimasa LEKRA dominan,
buku-buku karya Jassin dilarang dan di razia peredarannya. Pasalnya, Pemikiran
Jassin yang tak sehaluan dengan arus kebudayaan LEKRA.
Nun jauh di masa lampau, 48 SM. Kaisar Romawi - Julius
Caesar yang ingin menaklukkan Alexandria (Mesir), membakar kota itu. Disitulah ๐๐ข๐ ๐๐๐ข๐ – perpustakaan utama, yang
menampung ribuan ๐๐๐๐ฆ๐๐ข๐ – musnah
dilahap api. Naskah yang masih terbaca, disalin ulang. Dikumpulkan di
perpustakaan kedua – ๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐. Namun
naas, di tahun 272 M mengalami kepunahan oleh gerakan “pemurnian” ajaran
Kristen atas kaum “Pagan”. Oleh Paus Theophilus diperintahkan untuk dihancurkan,
karena dianggap sebagai perpustakaan Kuil “Pagan”.
Tragedi bibliosida
– penghancuran buku, terus berlanjut. Saat perang dunia ke-2 berkecamuk, Nazi
melakukan pembersihan buku-buku anti-Fasis. Buku-buku komunisme dan
naskah-naskah kaum semit-Yahudi, dibakar. Pun naskah yang dianggap mencancam
Nazi, tak selamat dari beredel.
Terus saja, tahun berganti – zaman bergerak. Masyarakat
mengecap arus modernis – hasil dari pengetahuan. Terus dikembangkan dan
ditulis. Bagi pikiran yang abadi, buku adalah media menyimpan jejak itu. Ada kritik
dan pembaruan. Penulis melahirkan buku,
bisa dibilang memilih jalan sunyi. Ada perenungan di dalamnya. Hingga politik,
perang dan Ideologi mengubah pengetahuan menjadi predator – memangsa yang tak
sejalan.
Membaca buku pasti memengaruhi jalan pikiran, tapi tak
secara langsung – pasti memengaruhi dimensi imani (kesalehan). Ada jarak
terbentang dalam mengukurnya. Seorang ilmuan ditanya: “apakah anda percaya
Tuhan?. Jawabnya: “sebagai seorang ilmuan, saya tak percaya. Sebab Tuhan tidak
bisa diverifikasi secara materi (๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฃ๐๐๐๐๐๐๐๐ก๐๐๐). Tapi sebagai seorang ber-agama, saya percaya dan meng-imani”.
Orang-orang yang terjebak pada delusi imani, fobia terhadap buku yang tak
sejalan pikirannya. Kadang telah menjadi halusinasi, dengan membaca judulnya
saja.
Salah satu buku yang sempat dirazia, Gestapu 65: PKI,
Aidit, Soekarno dan Soeharto. Ditulis Salim Said. Seorang sejarawan politik Indonesia. Guru besar ilmu
politik pada sekolah Komando TNI dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Menurut
saya, beliau menulis sejarah yang berimbang, menjelaskan peran ketiga tokoh
sentral pada peristiwa Gestapu 65. Tapi oleh orang-orang yang mengalami
disleksia ilmu, dituding sebagai bukti kebangkitan PKI. Miris.
Di Makassar, beberapa orang me-razia Gramedia. Menenteng
buku yang dituding komunis. Hanya modal gambar dan judul. Lalu memposting di
media sosial. Mereka tak tahu bagaimana buku itu lahir. Mungkin niat mereka
mulia, tapi buta. Mereka mengalami delusi imani dan disleksia keilmuan. Amnesia
terhadap wahyu Tuhan: “Bacalah!.
____________
*) Muhammad Syahudin
