-->

Wednesday, August 14, 2019

Delusi Imani dan Disleksia Keilmuan dalam Razia Buku



Langit Makin Mendung (Sastra, 1968), jelas sebuah fiksi. Bagi yang menyelami aksara sastra, akan  tahu itu imajinatif. Mungkin saja tersirat ๐‘ ๐‘ข๐‘Ÿ๐‘’๐‘Ž๐‘™๐‘–๐‘ ๐‘š๐‘’ – nyata yang disamarkan, atau sesuatu yang berkisah tentang ๐‘Ÿ๐‘’๐‘Ž๐‘™๐‘–๐‘ ๐‘š๐‘’ ๐‘š๐‘Ž๐‘”๐‘–๐‘  – nyata yang difantasikan. Tentu tak bisa mengukur perkara imani, pun salah tempat memosisikan dalam ranah rasionalitas. Diksi imajinatif itu hidup dalam jiwa ๐‘š๐‘–๐‘ก๐‘œ๐‘  – ๐‘š๐‘ฆ๐‘กโ„Ž – ๐‘š๐‘–๐‘ ๐‘ก๐‘–๐‘ . Yang pilong, tersamarkan oleh delusi, memusuhi dan mengadili.

Soalan imajinasi itulah yang membuat “Paus” sastra – H.B. Jassin, diseret ke pengadilan. Dituntut karena tak mau mengungkap identitas Kipanjikusmin, penulis Langit Makin Mendung. Di tengah para penggugat, Jassin bersuara lantang : “saya amat yakin, dunia imajinasi dan kenyataan adalah dua hal yang berbeda. Saya percaya, imajinasi tak layak diadili dan disetarakan dengan dalil agama. Apakah kita harus memaksa seniman mendiamkan hati nuraninya, membutakan matanya, menulikan telinganya, mematikan perasaannya dan melumpuhkan pikirannya”. Tetap saja ia dipenjara 1 tahun. Dan Langit Makin Mendung di-beredel.

Suatu Saat, Jassin berhasrat menerjemahkan Alquran dengan bahasa sastra. Kritik dilayangkan padanya. Ia dianggap tak berkompeten. Kadung memantik polemik, hasratnya tak pernah kesampaian. Dimasa LEKRA dominan, buku-buku karya Jassin dilarang dan di razia peredarannya. Pasalnya, Pemikiran Jassin yang tak sehaluan dengan arus kebudayaan LEKRA.

Nun jauh di masa lampau, 48 SM. Kaisar Romawi - Julius Caesar yang ingin menaklukkan Alexandria (Mesir), membakar kota itu. Disitulah ๐‘€๐‘ข๐‘ ๐‘Ž๐‘’๐‘ข๐‘š – perpustakaan utama, yang menampung ribuan ๐‘๐‘Ž๐‘๐‘ฆ๐‘Ÿ๐‘ข๐‘  – musnah dilahap api. Naskah yang masih terbaca, disalin ulang. Dikumpulkan di perpustakaan kedua – ๐‘†๐‘’๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘๐‘’๐‘Ž๐‘ข๐‘š. Namun naas, di tahun 272 M mengalami kepunahan oleh gerakan “pemurnian” ajaran Kristen atas kaum “Pagan”. Oleh Paus Theophilus diperintahkan untuk dihancurkan, karena dianggap sebagai perpustakaan Kuil “Pagan”.

Tragedi bibliosida – penghancuran buku, terus berlanjut. Saat perang dunia ke-2 berkecamuk, Nazi melakukan pembersihan buku-buku anti-Fasis. Buku-buku komunisme dan naskah-naskah kaum semit-Yahudi, dibakar. Pun naskah yang dianggap mencancam Nazi, tak selamat dari beredel.

Terus saja, tahun berganti – zaman bergerak. Masyarakat mengecap arus modernis – hasil dari pengetahuan. Terus dikembangkan dan ditulis. Bagi pikiran yang abadi, buku adalah media menyimpan jejak itu. Ada kritik dan pembaruan. Penulis  melahirkan buku, bisa dibilang memilih jalan sunyi. Ada perenungan di dalamnya. Hingga politik, perang dan Ideologi mengubah pengetahuan menjadi predator – memangsa yang tak sejalan.

Membaca buku pasti memengaruhi jalan pikiran, tapi tak secara langsung – pasti memengaruhi dimensi imani (kesalehan). Ada jarak terbentang dalam mengukurnya. Seorang ilmuan ditanya: “apakah anda percaya Tuhan?. Jawabnya: “sebagai seorang ilmuan, saya tak percaya. Sebab Tuhan tidak bisa diverifikasi secara materi (๐‘’๐‘š๐‘๐‘–๐‘Ÿ๐‘–๐‘๐‘Ž๐‘™ ๐‘ฃ๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘“๐‘–๐‘๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘›). Tapi sebagai seorang ber-agama, saya percaya dan meng-imani”. Orang-orang yang terjebak pada delusi imani, fobia terhadap buku yang tak sejalan pikirannya. Kadang telah menjadi halusinasi, dengan membaca judulnya saja.

Salah satu buku yang sempat dirazia, Gestapu 65: PKI, Aidit, Soekarno dan Soeharto. Ditulis Salim Said. Seorang  sejarawan politik Indonesia. Guru besar ilmu politik pada sekolah Komando TNI dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Menurut saya, beliau menulis sejarah yang berimbang, menjelaskan peran ketiga tokoh sentral pada peristiwa Gestapu 65. Tapi oleh orang-orang yang mengalami disleksia ilmu, dituding sebagai bukti kebangkitan PKI. Miris.

Di Makassar, beberapa orang me-razia Gramedia. Menenteng buku yang dituding komunis. Hanya modal gambar dan judul. Lalu memposting di media sosial. Mereka tak tahu bagaimana buku itu lahir. Mungkin niat mereka mulia, tapi buta. Mereka mengalami delusi imani dan disleksia keilmuan. Amnesia terhadap wahyu Tuhan: “Bacalah!.

____________                                     
*) Muhammad Syahudin
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner