Danny Boy, mungkin metafora hidup yang
paradoksal. Terasing dari kehidupan. Sendiri menyaksikan kegilaan manusia yang bisu,
tuli, buta dan tanpa kesadaran. Hidup tapi tak ada kepala. Berjalan tak kenal arah.
Bahkan kekacauan sudah dianggap lumrah. Aroma pesimistis terasa menyengat
dibalik cerita. Namun tragedi kemanusiaan kita terasa lebur di dalamnya.
Abad 20, ditandai dengan kematian manusia. Ulah dari
kekosongan makna, kacau dan tampak hampa. Aktivitas yang berulang, terus-menerus
hingga kita tak peduli lagi arti dibaliknya. Kita mengejar sesuatu yang tak
memuaskan dahaga. Segalanya terlihat sama. Berbeda menjadi sebuah dilema berujung
ironi.
Iwona Halgas (2011), dalam
ulasannya menulis: “๐ ๐ ๐๐๐๐๐ก๐ฆ ๐ ๐ข๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ฅ๐๐ ๐ก๐๐๐๐” - masyarakat yang mengalami penderitaan eksistensi.
“๐โ๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐ ๐กโ๐ ๐๐๐ก๐ฆ ๐๐โ๐๐๐๐ก๐๐๐ก๐ ๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐ก ๐ ๐๐๐๐ ๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐ ๐, ๐๐ ๐ ๐๐๐ ๐ ๐ ๐ก๐ข๐๐๐๐๐๐ก๐๐๐” - Kebutaan
penduduk kota pada kenyataannya adalah sejenis penyakit sosial, dari kebodohan massal.
“๐๐๐๐๐กโ๐๐, ๐กโ๐๐ฆ ๐๐๐๐๐ก๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ , ๐๐๐ก๐๐๐๐๐๐๐ก ๐๐๐๐๐ข๐๐๐ก๐ฆ” - Bersama-sama, mereka menciptakan komunitas yang tidak
berpikiran dan tidak toleran.
“๐ท๐๐๐๐ฆ ๐ต๐๐ฆ ๐๐ ๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐ก๐๐ฆ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐ฆ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐ก ๐กโ๐ ๐ ๐๐โ๐ก ๐๐ ๐๐ก๐ โ๐๐๐๐๐๐ ๐ , ๐๐ข๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐ฆ โ๐๐๐-๐๐๐๐ ๐ ๐๐ ๐๐โ๐๐๐๐ก๐๐๐ก๐ ” - Danny Boy terus-menerus
dipenuhi oleh ketakutan dan kesedihan saat melihat penghuninya yang tanpa
kepala, tertipu, dan tanpa tekanan.
Tatkala
cinta menyelimutinya, semakin berat ia menanggung keterasingan. Dalam kesendirian
itulah, ia membuat alat untuk mengakhiri keterasingannya. Memenggal kepalanya sendiri.
“๐๐๐๐๐๐๐ฅ๐๐๐๐๐๐ฆ, ๐กโ๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ก๐ ๐๐๐ก ๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ก๐๐ก๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ก๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ฆ ๐๐๐๐ ๐กโ๐ ๐๐ข๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐ก๐๐๐๐๐ ๐กโ๐๐๐๐๐๐” - Secara paradoks, tindakan pemenggalan kepala yang putus asa
menjadi sarana pembebasan, terutama dari beban pemikiran rasional.
Mungkin
cinta tak memiliki kesadaran. Lebur dan tenggelam dalam derita tanpa kepala. akal
dipotong demi cinta. Pada ruang cinta, rasionalitas tak memiliki tempat. Tak ada
obat penyembuh selain bersama kekasih. Pada akhirnya cinta-pun bisa sirna,
bersama tenggelamnya matahari. Danny Boy bersama kekasihnya berjalan kesana,
tenggelam dan musnah.
Durasi
10 menit, 16 detik. Film animasi Danny Boy memaksa kita mempertanyakan kembali
makna eksistensi. Benarkah kita seperti kata Jean-Paul Sartre sebagai “โ๐ข๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ก๐ ๐๐ ๐๐๐๐” – manusia
dikutuk untuk bebas. Subyek manusia meski berjalan melalui tahapan estetis dan
etis agar sampai pada makna religius seperti titah Soren Kierkeegard. Menjadi “๐ข๐๐๐๐๐๐๐ ”- manusia unggul, yang memiliki “๐ค๐๐๐ ๐๐๐ค๐๐” – kehendak untuk
berkuasa dalam diktum Nietczhe. Atau kita tak lebih menjadi bagian dari runtuhnya
makna dan nilai (๐๐โ๐๐๐๐ ๐๐),
mengacau-balaukan segala makna absolut.
Sekawanan
manusia berjalan tanpa kepala, adalah realitas yang mengejutkan. Gambaran akut
manusia modern. Pembunuhan, perampokan, kecelakaan seperti santapan biasa
sehari-hari. Rasa empati tertinggal jauh mengalahkan popularitas semu. Bahkan manusia
yang memiliki kesadaran seperti Danny Boy, harus menyerah kepada keadaan. Meskipun
dengan alasan yang berbeda, cinta.
Tengoklah
di belantara dunia maya. Di sana lalu lalang kerumunan argumentasi tanpa
kepala, pembicaraan – pidato yang menyenangkan, namun menyembunyikan
kepalsuan. Mendengar dan melihat sesuatu yang terpenggal. Lalu dengan semua
keadaan itu, banyak yang berjalan terseok tanpa arah dan pegangan. Mereka digiring
oleh keadaan. Seorang yang sadar melihat keadaan, terkucil dan terasing. Bagaimana
mungkin menjelaskan fakta, kepada masyarakat tanpa kepala.
Seandainya
seseorang itu adalah kita. Apakah memilih tetap terasing, atau menjadi
masyarakat tanpa kepala?
*Muhammad
Syahudin.
