-->

Thursday, July 4, 2019

IRONI PARADOKSAL DALAM METAFORA DANNY BOY



Danny Boy, mungkin metafora hidup yang paradoksal. Terasing dari kehidupan. Sendiri menyaksikan kegilaan manusia yang bisu, tuli, buta dan tanpa kesadaran. Hidup tapi tak ada kepala. Berjalan tak kenal arah. Bahkan kekacauan sudah dianggap lumrah. Aroma pesimistis terasa menyengat dibalik cerita. Namun tragedi kemanusiaan kita terasa lebur di dalamnya.

Abad 20, ditandai dengan kematian manusia. Ulah dari kekosongan makna, kacau dan tampak hampa. Aktivitas yang berulang, terus-menerus hingga kita tak peduli lagi arti dibaliknya. Kita mengejar sesuatu yang tak memuaskan dahaga. Segalanya terlihat sama. Berbeda menjadi sebuah dilema berujung ironi.

Iwona Halgas (2011), dalam ulasannya menulis: “๐‘Ž ๐‘ ๐‘œ๐‘๐‘–๐‘’๐‘ก๐‘ฆ ๐‘ ๐‘ข๐‘“๐‘“๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘’๐‘ฅ๐‘–๐‘ ๐‘ก๐‘’๐‘›๐‘๐‘’” - masyarakat yang mengalami penderitaan eksistensi.

“๐‘‡โ„Ž๐‘’ ๐‘๐‘™๐‘–๐‘›๐‘‘๐‘›๐‘’๐‘ ๐‘  ๐‘œ๐‘“ ๐‘กโ„Ž๐‘’ ๐‘๐‘–๐‘ก๐‘ฆ ๐‘–๐‘›โ„Ž๐‘Ž๐‘๐‘–๐‘ก๐‘Ž๐‘›๐‘ก๐‘  ๐‘–๐‘  ๐‘–๐‘› ๐‘“๐‘Ž๐‘๐‘ก ๐‘Ž ๐‘˜๐‘–๐‘›๐‘‘ ๐‘œ๐‘“ ๐‘ ๐‘œ๐‘๐‘–๐‘Ž๐‘™ ๐‘‘๐‘–๐‘ ๐‘’๐‘Ž๐‘ ๐‘’, ๐‘œ๐‘“ ๐‘Ž ๐‘š๐‘Ž๐‘ ๐‘  ๐‘ ๐‘ก๐‘ข๐‘๐‘’๐‘“๐‘Ž๐‘๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘›” - Kebutaan penduduk kota pada kenyataannya adalah sejenis penyakit sosial, dari kebodohan massal.

“๐‘‡๐‘œ๐‘”๐‘’๐‘กโ„Ž๐‘’๐‘Ÿ, ๐‘กโ„Ž๐‘’๐‘ฆ ๐‘๐‘Ÿ๐‘’๐‘Ž๐‘ก๐‘’ ๐‘Ž ๐‘š๐‘–๐‘›๐‘‘๐‘™๐‘’๐‘ ๐‘ , ๐‘–๐‘›๐‘ก๐‘œ๐‘™๐‘’๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘ก ๐‘๐‘œ๐‘š๐‘š๐‘ข๐‘›๐‘–๐‘ก๐‘ฆ” - Bersama-sama, mereka menciptakan komunitas yang tidak berpikiran dan tidak toleran.

“๐ท๐‘Ž๐‘›๐‘›๐‘ฆ ๐ต๐‘œ๐‘ฆ ๐‘–๐‘  ๐‘๐‘œ๐‘›๐‘ ๐‘ก๐‘Ž๐‘›๐‘ก๐‘™๐‘ฆ ๐‘“๐‘–๐‘™๐‘™๐‘’๐‘‘ ๐‘๐‘ฆ ๐‘‘๐‘Ÿ๐‘’๐‘Ž๐‘‘ ๐‘Ž๐‘›๐‘‘ ๐‘ ๐‘Ž๐‘‘๐‘›๐‘’๐‘ ๐‘  ๐‘Ž๐‘ก ๐‘กโ„Ž๐‘’ ๐‘ ๐‘–๐‘”โ„Ž๐‘ก ๐‘œ๐‘“ ๐‘–๐‘ก๐‘  โ„Ž๐‘’๐‘Ž๐‘‘๐‘™๐‘’๐‘ ๐‘ , ๐‘‘๐‘ข๐‘๐‘’๐‘‘ ๐‘Ž๐‘›๐‘‘ ๐‘Ž๐‘–๐‘š๐‘™๐‘’๐‘ ๐‘ ๐‘™๐‘ฆ โ„Ž๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘‘-๐‘๐‘Ÿ๐‘’๐‘ ๐‘ ๐‘’๐‘‘ ๐‘–๐‘›โ„Ž๐‘Ž๐‘๐‘–๐‘ก๐‘Ž๐‘›๐‘ก๐‘ ” - Danny Boy terus-menerus dipenuhi oleh ketakutan dan kesedihan saat melihat penghuninya yang tanpa kepala, tertipu, dan tanpa tekanan.

Tatkala cinta menyelimutinya, semakin berat ia menanggung keterasingan. Dalam kesendirian itulah, ia membuat alat untuk mengakhiri keterasingannya. Memenggal kepalanya sendiri.

“๐‘ƒ๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘‘๐‘œ๐‘ฅ๐‘–๐‘๐‘Ž๐‘™๐‘™๐‘ฆ, ๐‘กโ„Ž๐‘’ ๐‘‘๐‘’๐‘ ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘ก๐‘’ ๐‘Ž๐‘๐‘ก ๐‘œ๐‘“ ๐‘‘๐‘’๐‘๐‘Ž๐‘๐‘–๐‘ก๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘› ๐‘๐‘’๐‘๐‘œ๐‘š๐‘’๐‘  ๐‘Ž ๐‘š๐‘’๐‘Ž๐‘›๐‘  ๐‘œ๐‘“ ๐‘™๐‘–๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘›, ๐‘š๐‘Ž๐‘–๐‘›๐‘™๐‘ฆ ๐‘“๐‘Ÿ๐‘œ๐‘š ๐‘กโ„Ž๐‘’ ๐‘๐‘ข๐‘Ÿ๐‘‘๐‘’๐‘› ๐‘œ๐‘“ ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘œ๐‘›๐‘Ž๐‘™ ๐‘กโ„Ž๐‘–๐‘›๐‘˜๐‘–๐‘›๐‘”” - Secara paradoks, tindakan pemenggalan kepala yang putus asa menjadi sarana pembebasan, terutama dari beban pemikiran rasional.

Mungkin cinta tak memiliki kesadaran. Lebur dan tenggelam dalam derita tanpa kepala. akal dipotong demi cinta. Pada ruang cinta, rasionalitas tak memiliki tempat. Tak ada obat penyembuh selain bersama kekasih. Pada akhirnya cinta-pun bisa sirna, bersama tenggelamnya matahari. Danny Boy bersama kekasihnya berjalan kesana, tenggelam dan musnah.

Durasi 10 menit, 16 detik. Film animasi Danny Boy memaksa kita mempertanyakan kembali makna eksistensi. Benarkah kita seperti kata Jean-Paul Sartre sebagai “โ„Ž๐‘ข๐‘š๐‘Ž๐‘› ๐‘–๐‘  ๐‘๐‘œ๐‘š๐‘‘๐‘’๐‘š๐‘›๐‘’๐‘‘ ๐‘ก๐‘œ ๐‘๐‘’ ๐‘“๐‘Ÿ๐‘’๐‘’” – manusia dikutuk untuk bebas. Subyek manusia meski berjalan melalui tahapan estetis dan etis agar sampai pada makna religius seperti titah Soren Kierkeegard. Menjadi “๐‘ข๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘š๐‘Ž๐‘›๐‘ ”- manusia unggul, yang memiliki “๐‘ค๐‘–๐‘™๐‘™ ๐‘๐‘œ๐‘ค๐‘’๐‘Ÿ” – kehendak untuk berkuasa dalam diktum Nietczhe. Atau kita tak lebih menjadi bagian dari runtuhnya makna dan nilai (๐‘๐‘–โ„Ž๐‘–๐‘™๐‘–๐‘ ๐‘š๐‘’), mengacau-balaukan segala makna absolut.

Sekawanan manusia berjalan tanpa kepala, adalah realitas yang mengejutkan. Gambaran akut manusia modern. Pembunuhan, perampokan, kecelakaan seperti santapan biasa sehari-hari. Rasa empati tertinggal jauh mengalahkan popularitas semu. Bahkan manusia yang memiliki kesadaran seperti Danny Boy, harus menyerah kepada keadaan. Meskipun dengan alasan yang berbeda, cinta.

Tengoklah di belantara dunia maya. Di sana lalu lalang kerumunan argumentasi tanpa kepala, pembicaraan – pidato yang menyenangkan, namun menyembunyikan kepalsuan. Mendengar dan melihat sesuatu yang terpenggal. Lalu dengan semua keadaan itu, banyak yang berjalan terseok tanpa arah dan pegangan. Mereka digiring oleh keadaan. Seorang yang sadar melihat keadaan, terkucil dan terasing. Bagaimana mungkin menjelaskan fakta, kepada masyarakat tanpa kepala.

Seandainya seseorang itu adalah kita. Apakah memilih tetap terasing, atau menjadi masyarakat tanpa kepala?

*Muhammad Syahudin.


NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner