-->

Wednesday, April 8, 2020

Misteri Los Alamos dalam Skandal 𝑺𝒆𝒆𝒅 π‘½π’Šπ’“π’–π’”



Jujur. Sekiranya dunia tak dilanda Covid-19, mungkin saya tidak pernah membaca buku ini. Saya serasa menemukan kembali semangat membaca yang hilang. Apa itu? Rasa penasaran.

Hingga detik ini, pandemi yang semula menyebar di Wuhan tak diketahui sumbernya. Negeri tirai bambu membantah, Wuhan bukan asal muasal virus. Cina meng-klaim, virus berasal dari luar Cina dan disebar di Wuhan. Mesti tak menyebut motif, Cina meminta agar Amerika mengungkap fakta 𝑠𝑒𝑠𝑝𝑒𝑐𝑑 π‘π‘œπ‘Ÿπ‘œπ‘›π‘Ž π‘£π‘–π‘Ÿπ‘’π‘  di negara mereka. Siapapun tahu, Cina menuding Amerika dibalik menyebarnya virus di Wuhan. Amerika membantah bahwa virus Covid-19 adalah senjata biologi yang dibuat Cina, lalu bocor ke publik dan menjadi pandemi. Apa yang terjadi sebenarnya? Amerika sekarang menempati rangking pertama dari jumlah pasien yang terpapar Covid-19.

Saatnya Dunia Berubah. Itulah judul buku yang saya baca. Ditulis dengan sangat apik, bahasa yang sederhana dan mudah dicerna oleh saya yang awam, terutama terhadap istilah-istilah virologi - ilmu tentang virus. Penulisnya adalah Siti Fadilah Supari (SFS), menteri kesehatan zaman Presiden SBY. Buku ini mengulik perjalanan  beliau mengatasi wabah virus Flu Burung (H5N1), rentang waktu 2004-2006. yang membuat saya kaget, ternyata indonesia punya 58 spesimen virus. Semuanya dikirim ke WHO CC – (πΆπ‘œπ‘™π‘™π‘Žπ‘π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘–π‘›π‘” πΆπ‘’π‘›π‘‘π‘Ÿπ‘’) secara sukarela. Oleh WHO spesimen tersebut ditetapkan sebagai 𝑀𝑖𝑙𝑑 π‘£π‘–π‘Ÿπ‘’π‘  (virus liar) – berarti tanpa pemilik. Setelah melalui risk assesment dan riset,  diolah menjadi 𝑆𝑒𝑒𝑑 π‘£π‘–π‘Ÿπ‘’π‘  (benih virus) – bahan baku vaksin. Tapi WHO CC tak pernah transparan, kemana virus-virus itu dibawa. Perlahan, fakta itu terkuak. Ada kepentingan kapitalisme bermain dibalik nyawa manusia. π‘†π‘’𝑒𝑑 π‘£π‘–π‘Ÿπ‘’π‘  diklaim lembaga kapital yang berlindung di balik badan kesehatan dunia tersebut. vaksin dibuat terbatas, dan negara penyumbang virus pun harus membeli vaksin yang mahal.

Siti Fadilah Supari bercerita. Flu Burung, semula mewabah di negara Vietnam dan Thailand. Akhirnya menjangkiti Indonesia, dan langsung memakan korban. Iwan bersama dua puteranya meninggal. Kejadian selanjutnya justru menorehkan luka hati yang menyulut nuraninya.

Di tengah hujatan media, Menkes membuat program pencegahan penularan. Mencegah kontak manusia dengan unggas dan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat). Tentu, yang paling urgen pemerintah harus punya stok obat Tamiflu (π‘œπ‘ π‘’π‘™π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘šπ‘–π‘£π‘–π‘Ÿ) – obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi virus influenza, termasuk flu burung. Obat yang di produksi oleh Roche tersebut malah tidak bisa dibeli. Stoknya habis di pasaran. Anehnya, dimiliki negara-negara kaya yang tak  terdampak H5N1. Negara-negara tersebut menjadi π‘ π‘‘π‘œπ‘π‘˜π‘π‘–π‘™π‘™π‘–π‘›π‘” - penimbun barang. Alangkah ironis. Negara yang terpapar virus harus merogoh kantong lebih, dari si penimbun. Saya baru tahu, ternyata 90 %  perdagangan vaksin di dunia dikuasai hanya 10 % orang-orang kaya di negara yang kaya.

Lambatnya proses diagnosis dan penanganan H5N1 membuat tingginya kasus klaster di Indonesia. Dunia gempar. Para spekulator ilmiah membuat hipotesa kemungkinan penularan dari manusia ke manusia bisa terjadi. CNN malah sudah memuat berita, penularan antar manusia telah terjadi di tanah Karo – Sumatera Utara. Tujuh orang dalam satu keluarga tumbang. Pemerintah harus punya cara cepat untuk menangani wabah ini. Masalahnya WHO punya aturan sendiri, spesimen – sampel – pasien harus didiagnosis di Hongkong. Hasil diagnosis diperoleh sampai satu minggu. Padahal, pemeriksaan laboratorium Litbangkes RI sama saja dengan hasil yang diperoleh dari Hongkong. Ada apa dibalik kebijakan WHO?

Saat itu, para pedagang farmasi berdatangan menawarkan π‘Ÿπ‘Žπ‘π‘–π‘‘ π‘‘π‘–π‘Žπ‘”π‘›π‘œπ‘ π‘‘π‘–π‘ 𝑑𝑒𝑠𝑑 (alat tes diagnosis cepat). Tapi alat tersebut baru bisa mendeteksi setelah tiga hari sejak tertular – terlambat. Mereka juga menawarkan vaksin, dari π‘ π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘–π‘› (suatu kelompok dalam satu spesies) asal Vietnam. Padahal spesimen virus Indonesia saat itu, belum punya hasil diagnosis. Dikemudian hari, terbukti π‘ π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘–π‘› Indonesia jauh lebih ganas. Artinya vaksin dari π‘ π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘–π‘› Vietnam tidak cocok digunakan di Indonesia. Yang menjadi tanya tanya, mengapa Indonesia tidak boleh memproduksi vaksin sendiri. Tapi harus manut pada aturan WHO yang menindas. Sebagaimana SFS bertanya. Kitapun bertanya inikah neo-kolonialisme yang diramalkan Bung Karno?

Setali tiga uang. Ternyata WHO CC menyerahkan spesimen ke GISN (πΊπ‘™π‘œπ‘π‘Žπ‘™ πΌπ‘›π‘“π‘™π‘’π‘’π‘›π‘§π‘Ž π‘†π‘’π‘Ÿπ‘£π‘’π‘™π‘™π‘–π‘›π‘” π‘π‘’π‘‘π‘€π‘œπ‘Ÿπ‘˜) – lembaga di bawah WHO. GISN secara terbatas menunjuk perusahaan tertentu untuk membuat vaksin. Tak ada π‘ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘›π‘” π‘π‘Ÿπ‘œπ‘“π‘–π‘‘ (bagi keuntungan), kepada negara penyumbang virus. Parah.

Tak kalah mengherankan. Data π‘ π‘’π‘žπ‘’π‘–π‘’π‘›π‘π‘–π‘›π‘” H5N1 yang dikirim ke WHO-CC, hanya dimiliki oleh ilmuan-ilmuan di Los Alamos π‘π‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘›π‘Žπ‘™ πΏπ‘Žπ‘π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘œπ‘Ÿπ‘¦ di π‘π‘’𝑀 𝑀𝑒π‘₯π‘–π‘π‘œ. Suatu lembaga penelitian di bawah kementrian Energi Amerika Serikat. Di laboratorium tersebut, tempat dibuatnya bom atom untuk mengebom Hirosima pada tahun 1945. Tentu, keadaan tersebut memunculkan tanda tanya? Bukan tidak mungkin, laboratorium tersebut selain untuk keperluan riset – juga untuk membuat senjata biologis. 

Indonesia melawan. Spesimen virus H5N1 tidak lagi dikirim ke WHO-CC. Indonesia menuntut tranparansi serta kesetaraan dalam π‘ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘–𝑛𝑔 π‘π‘Ÿπ‘œπ‘“π‘–π‘‘. Langkah Indonesia dinilai wajar. Tapi bukan WHO yang menjadi lawan Indonesia dalam sidang. Tetapi Amerika-lah yang tetap ngotot diterapkan sistem GISN yang telah lebih 50 tahun digunakan WHO. Hingga melalui perjuangan panjang, langkah Indonesia “memaksa” WHO meninggalkan sistem lama. Pasca keputusan WHO. Los Alamos pun dibubarkan.

Los Alamos, sebenarnya menjadi π‘€π‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘–π‘›π‘”. Virus bisa dikembangkan menjadi vaksin, tapi berpotensi untuk menjadi senjata mematikan. Tentu melalui riset sedemikian rupa. Lalu bagaimana dengan negara-nagara maju lainnya. Bisa dibayangkan, kalau negara-negara tersebut diam-diam memproduksi π‘†π‘’𝑒𝑑 π‘£π‘–π‘Ÿπ‘’π‘  menjadi senjata biologis. Dulu saya tidak percaya virus bisa diciptakan. Tidak sepenuhnya salah, virus memang tidak bisa diciptakan tapi bisa dikelola-diolah-dibentuk sedemikian rupa menjadi senjata biologis.

Dalam kurun lebih 50 tahun, berapa negara telah mengirim spesimen virus ke WHO-CC. kita asumsikan saja. Misalnya diantara 100 negara, rata-rata mengirim 50 spesimen virus selama 50 tahun. Bisa dibayangkan, betapa banyak spesimen virus yang telah diriset dan diolah oleh Los Alamos dibalik kedok GISN di dalam tubuh WHO-CC. 100 x 50 x 50 = 250.000. sungguh mengerikan bukan?.

Kini, dunia sedang menghadapi pandemi. Virus corona baru- SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19 telah menjangkiti 190 negara-negara di dunia. Diperkirakan bisa menginfeksi 40-70 persen dari populasi penduduk di dunia. Tentu kita tidak menginginkan hal tersebut. namun kita masih berharap. WHO dan lembaga kesehatan di dunia segera memproduksi vaksin dan anti-virus Covid-19. Saling membantu negara-negara yang berdampak dengan tetap mengedepankan sisi kemanusiaan.

Lalu, apakah ada hubungan antara Covid-19 dengan Los Alamos? Entahlah. Sebagaimana anda, saya juga mencari jawaban.

*) Muhammad Syahudin

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner