Jujur.
Sekiranya dunia tak dilanda Covid-19, mungkin saya tidak pernah membaca buku
ini. Saya serasa menemukan kembali semangat membaca yang hilang. Apa itu? Rasa
penasaran.
Hingga detik
ini, pandemi yang semula menyebar di Wuhan tak diketahui sumbernya. Negeri
tirai bambu membantah, Wuhan bukan asal muasal virus. Cina meng-klaim, virus
berasal dari luar Cina dan disebar di Wuhan. Mesti tak menyebut motif, Cina
meminta agar Amerika mengungkap fakta π π’π ππππ‘ ππππππ π£πππ’π di negara mereka. Siapapun tahu, Cina menuding Amerika dibalik
menyebarnya virus di Wuhan. Amerika membantah bahwa virus Covid-19 adalah
senjata biologi yang dibuat Cina, lalu bocor ke publik dan menjadi pandemi. Apa
yang terjadi sebenarnya? Amerika sekarang menempati rangking pertama dari
jumlah pasien yang terpapar Covid-19.
Saatnya Dunia
Berubah. Itulah judul buku yang saya baca. Ditulis dengan sangat apik, bahasa
yang sederhana dan mudah dicerna oleh saya yang awam, terutama terhadap
istilah-istilah virologi - ilmu tentang virus. Penulisnya adalah Siti Fadilah
Supari (SFS), menteri kesehatan zaman Presiden SBY. Buku ini mengulik
perjalanan beliau mengatasi wabah virus
Flu Burung (H5N1), rentang waktu 2004-2006. yang membuat saya kaget, ternyata
indonesia punya 58 spesimen virus. Semuanya dikirim ke WHO CC – (πΆπππππππππ‘πππ πΆπππ‘ππ) secara sukarela. Oleh
WHO spesimen tersebut ditetapkan sebagai π€πππ π£πππ’π (virus liar) – berarti tanpa pemilik. Setelah melalui risk assesment dan riset, diolah menjadi ππππ π£πππ’π (benih virus) – bahan baku vaksin. Tapi WHO CC tak
pernah transparan, kemana virus-virus itu dibawa. Perlahan, fakta itu terkuak.
Ada kepentingan kapitalisme bermain dibalik nyawa manusia. ππππ π£πππ’π diklaim lembaga kapital yang berlindung di balik badan
kesehatan dunia tersebut. vaksin dibuat terbatas, dan negara penyumbang virus
pun harus membeli vaksin yang mahal.
Siti Fadilah
Supari bercerita. Flu Burung, semula mewabah di negara Vietnam dan Thailand.
Akhirnya menjangkiti Indonesia, dan langsung memakan korban. Iwan bersama dua
puteranya meninggal. Kejadian selanjutnya justru menorehkan luka hati yang
menyulut nuraninya.
Di tengah
hujatan media, Menkes membuat program pencegahan penularan. Mencegah kontak
manusia dengan unggas dan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat). Tentu, yang
paling urgen pemerintah harus punya stok obat Tamiflu (ππ πππ‘πππππ£ππ) – obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi virus
influenza, termasuk flu burung. Obat yang di produksi oleh Roche tersebut malah
tidak bisa dibeli. Stoknya habis di pasaran. Anehnya, dimiliki negara-negara
kaya yang tak terdampak H5N1. Negara-negara
tersebut menjadi π π‘ππππππππππ - penimbun
barang. Alangkah ironis. Negara yang terpapar virus harus merogoh kantong
lebih, dari si penimbun. Saya baru tahu, ternyata 90 % perdagangan vaksin di dunia dikuasai hanya 10
% orang-orang kaya di negara yang kaya.
Lambatnya
proses diagnosis dan penanganan H5N1 membuat tingginya kasus klaster di Indonesia.
Dunia gempar. Para spekulator ilmiah membuat hipotesa kemungkinan penularan
dari manusia ke manusia bisa terjadi. CNN malah sudah memuat berita, penularan
antar manusia telah terjadi di tanah Karo – Sumatera Utara. Tujuh orang dalam
satu keluarga tumbang. Pemerintah harus punya cara cepat untuk menangani wabah
ini. Masalahnya WHO punya aturan sendiri, spesimen – sampel – pasien harus
didiagnosis di Hongkong. Hasil diagnosis diperoleh sampai satu minggu. Padahal,
pemeriksaan laboratorium Litbangkes RI sama saja dengan hasil yang diperoleh
dari Hongkong. Ada apa dibalik kebijakan WHO?
Saat itu, para
pedagang farmasi berdatangan menawarkan πππππ πππππππ π‘ππ π‘ππ π‘ (alat tes diagnosis cepat). Tapi alat tersebut baru bisa
mendeteksi setelah tiga hari sejak tertular – terlambat. Mereka juga menawarkan
vaksin, dari π π‘ππππ (suatu kelompok dalam
satu spesies) asal Vietnam. Padahal spesimen virus Indonesia saat itu, belum
punya hasil diagnosis. Dikemudian hari, terbukti π π‘ππππ Indonesia jauh lebih ganas. Artinya vaksin dari π π‘ππππ Vietnam tidak cocok digunakan di
Indonesia. Yang menjadi tanya tanya, mengapa Indonesia tidak boleh memproduksi
vaksin sendiri. Tapi harus manut pada aturan WHO yang menindas. Sebagaimana SFS
bertanya. Kitapun bertanya inikah neo-kolonialisme yang diramalkan Bung Karno?
Setali tiga
uang. Ternyata WHO CC menyerahkan spesimen ke GISN (πΊπππππ πΌππππ’πππ§π ππ’ππ£ππππππ πππ‘π€πππ) – lembaga di bawah WHO. GISN
secara terbatas menunjuk perusahaan tertentu untuk membuat vaksin. Tak ada π βπππππ ππππππ‘ (bagi keuntungan), kepada
negara penyumbang virus. Parah.
Tak kalah
mengherankan. Data π πππ’πππππππ H5N1
yang dikirim ke WHO-CC, hanya dimiliki oleh ilmuan-ilmuan di Los Alamos πππ‘πππππ πΏππππππ‘πππ¦ di πππ€ πππ₯πππ. Suatu lembaga penelitian di bawah kementrian Energi
Amerika Serikat. Di laboratorium tersebut, tempat dibuatnya bom atom untuk
mengebom Hirosima pada tahun 1945. Tentu, keadaan tersebut memunculkan tanda
tanya? Bukan tidak mungkin, laboratorium tersebut selain untuk keperluan riset –
juga untuk membuat senjata biologis.
Indonesia
melawan. Spesimen virus H5N1 tidak lagi dikirim ke WHO-CC. Indonesia menuntut
tranparansi serta kesetaraan dalam π βπππππ ππππππ‘. Langkah Indonesia dinilai wajar. Tapi bukan WHO yang menjadi lawan
Indonesia dalam sidang. Tetapi Amerika-lah yang tetap ngotot diterapkan sistem
GISN yang telah lebih 50 tahun digunakan WHO. Hingga melalui perjuangan
panjang, langkah Indonesia “memaksa” WHO meninggalkan sistem lama. Pasca keputusan
WHO. Los Alamos pun dibubarkan.
Los Alamos,
sebenarnya menjadi π€ππππππ. Virus bisa
dikembangkan menjadi vaksin, tapi berpotensi untuk menjadi senjata mematikan. Tentu
melalui riset sedemikian rupa. Lalu bagaimana dengan negara-nagara maju
lainnya. Bisa dibayangkan, kalau negara-negara tersebut diam-diam memproduksi ππππ π£πππ’π menjadi senjata biologis. Dulu
saya tidak percaya virus bisa diciptakan. Tidak sepenuhnya salah, virus memang
tidak bisa diciptakan tapi bisa dikelola-diolah-dibentuk sedemikian rupa
menjadi senjata biologis.
Dalam kurun
lebih 50 tahun, berapa negara telah mengirim spesimen virus ke WHO-CC. kita
asumsikan saja. Misalnya diantara 100 negara, rata-rata mengirim 50 spesimen virus
selama 50 tahun. Bisa dibayangkan, betapa banyak spesimen virus yang telah
diriset dan diolah oleh Los Alamos dibalik kedok GISN di dalam tubuh WHO-CC. 100
x 50 x 50 = 250.000. sungguh mengerikan bukan?.
Kini, dunia
sedang menghadapi pandemi. Virus corona baru- SARS-CoV-2 yang menyebabkan
penyakit Covid-19 telah menjangkiti 190 negara-negara di dunia. Diperkirakan bisa
menginfeksi 40-70 persen dari populasi penduduk di dunia. Tentu kita tidak
menginginkan hal tersebut. namun kita masih berharap. WHO dan lembaga kesehatan
di dunia segera memproduksi vaksin dan anti-virus Covid-19. Saling membantu
negara-negara yang berdampak dengan tetap mengedepankan sisi kemanusiaan.
Lalu, apakah
ada hubungan antara Covid-19 dengan Los Alamos? Entahlah. Sebagaimana anda,
saya juga mencari jawaban.
*) Muhammad Syahudin
