-->

Monday, July 10, 2017

Kembali Memaknai Waktu


Di ruang kamar kos berukuran 4 x 4 cm, Odding Nampak sibuk merapikan kamarnya, buku-buku dan catatan-catatan kuliah dia pisahkan di beberapa tempat. Tiba-tiba diantara buku catatan Nampak terselip selembar foto yang agak buram, “mungkin karena tidak disimpan di album foto” pikir Odding. Biasanya kamar kos Odding sering di datangi oleh mahasiswa untuk diskusi ataupun sekedar berbagi pengalaman tentang hidup. Namun, malam itu tak satu pun diantara teman-teman Odding yang mampir. 

Sejenak Odding menatap foto seorang anak kecil berusia 7 Tahun, yang tidak lain adalah dirinya sendiri. Dengan perut buncit, badannya gempal dan pipinya menggumpal. Odding cekikikan sendiri melihat foto tersebut, dia mulai membanding-bandingkan tubuhnya yang lucu dengan kondisinya sekarang yang jauh berbeda. Odding sekarang orangnya kurusan bukan karena kurang gizi, namun karena banyak begadang kalau lagi diskusi, apalagi kalau tema bahasannya menarik perhatian  Odding.

Dengan masih menatap foto masa kecilnya, Odding merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis di kamarnya. Tiba – tiba bayangannya terbawa ke masa kecilnya, nun jauh di pelosok sebuah desa di Kalimantan Barat. Desa selintah namanya. Sebuah desa yang bisa di bilang termasuk daerah terisolasi dari daerah-daerah lainnya. Karena transportasi darat hanya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua atau jalan kaki sekitar 10 km dari kecamatan, namun bisa juga ditempuh melalui jalur sungai Kapuas dengan perahu kayu. Mata pencaharian masyarakatnya dari bertani dan menangkap ikan. Kondisi alamnya sangat stabil dengan pepohonan yang masih menjulang tinggi, hanya saja sesekali tampak para penebang pohon yang mengambil kayu untuk keperluan industri. Entah mereka mengambilnya dengan memiliki HPH ataukah tanpa HPH, Odding tidak tahu menahu. Kehidupan sosial masyarakatnya pun sangat harmonis, hidup dengan gotong royong benar-benar mereka amalkan. Tak peduli dengan hiruk pikuk politik dan carut marutnya Negara ini. 

Masih dalam keadaan berbaring, Odding menatap langit-langit kamar kosnya yang kecil, ia mencoba mengingat peristiwa-peristiwa yang begitu berbekas dalam hidupnya. Ia mencoba memutar kenangannya tentang sahabat-sahabat kecilnya yang masih tersimpan di memorinya. Namun, seperti ada hal yang terlupakan dibenaknya. Odding nampak gelisah, ia lalu bangun dari tempat tidurnya dan mengambil sebatang rokok, lalu di hisapnya dalam-dalam. Asapnya mengepul bercampur peluh keringat karena ruangan yang sempit. Di bukanya jendela kamar agar udara dapat masuk ke kamarnya. Ia lalu menatap jam dinding yang menempel ruang kamar. Ia bicara sendiri, “ah..sudah jam 9 malam, kok Anto belum datang, kemana anak itu”. Anto adalah adik tingkat Odding di kampusnya, namun karena ikatan emosional yang terjalin di kampus, Anto pun bersedia tinggal satu kos dengan Odding. Bahkan, Anto sudah seperti saudara kandung bagi Odding. Hari sabtu Sepulang kuliah, Anto pamit pulang kampung katanya sih ingin mengambil beras, karena persediaan beras di kos sudah menipis. Namun sudah dua hari belum datang, padahal hari selasa dia janji akan datang. “mungkin si Anto, lagi membantu orangtuanya bertani”. Begitu pikir Odding.

Odding kembali menatap Foto yang sedari tadi masih dipegangnya. Nampak samar-samar foto tersebut memiliki latar belakang sungai Kapuas yang airnya jernih dan diseberang sungai tersebut berjejer pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi menambah indahnya pemandangan. Meskipun gambar foto tersebut sudah agak memudar, namun ingatan Odding tentang keadaan alam yang asri di desa Selintah belum juga memudar.

Menetap di daerah jauh dari peradaban, seperti desa selintah bukanlah pilihan Odding. Namun, kedua Orangtuanya lah yang membawa Odding tinggal menetap di daerah tersebut. Mulai membuka mata untuk pertama kalinya sebagai manusia di dunia pada tahun 1980 orang tuanya memberi nama Muhammad Odding. Dengan harapan kelak anaknya si Odding dapat meneladani Nabi Muhammad Saw, nabi terakhir yang di utus oleh Allah Swt ke muka bumi ini. Ayah Odding, Pak Rusman adalah seorang Guru Agama Islam di SDN Selintah. Sikapnya tegas, pandangannya berwibawa , sangat di hormati dan dicintai masyarakat desa Selintah. Walaupun Ayah Odding aslinya orang Sulawesi Selatan tepatnya di daerah Kab. Luwu, namun masyarakat di desa selintah sudah menganggapnya sebagai penduduk asli setempat, sehingga dalam setiap kegiatan pak Rusman selalu menjadi tumpuan masyarakat, terlebih lagi kalau menyangkut kegiatan keagamaan. Ibu Odding bernama Saidah, perempuan asli Kalimantan Barat tepatnya di daerah yang bernama Sekadau. Ibu Odding adalah perempuan yang sangat sabar dan penyayang. Dan tidak mudah menyerah dengan kehidupan, segala upaya dia gunakan untuk mendukung dan membantu Ayah Odding yang ber-profesi sebagai Guru yang memiliki gaji hanya Rp 72.000,- pada saat itu. Pernah Odding bertanya sama ibunya, “Ibu..kok, ibu mau menikahi Ayah yang memiliki penghasilan sedikit”. Ibu Odding hanya menjawab : “nak.. cinta itu selalu memiliki logikanya sendiri, bahkan kebahagiaan hanya akan diraih dengan keikhlasan dan pengorbanan”. Odding tidak mengerti maksud ibunya, sepertinya kata cinta masih terdengar asing ditelinganya. 

Sedang asyik menyasar masa kecil, logika cinta ibu sepertinya sedang mengganggu temaramnya malam di tempat kos Odding. Sebait puisi misterius, penuh harapan menyelip diantara buku-buku bacaan. Bagai tersihir dengan diksi yang absurd, sebuah tanda dibait-bait puisi mengesankan. Beberapa kosakata berantakan, seolah menyulap Odding seakan lakon film Ada apa dengan Cinta.

*) Muhammad Syahudin

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner