-->

Wednesday, July 5, 2023

Stereotip dan Prasangka Adalah Akar Dehumanisasi


Sudah lama sebenarnya ingin mengulas soalan ini. Ada harap dalam diam, semoga masyarakat kita semakin tercerahkan. Namun, rasa-rasanya itu masih seperti mimpi. Cara pandang kebanyakan orang, masih terpenjara dalam konsepsi negatif terhadap oranglain yang berbeda. Apakah itu perbedaan
 etnis, keturunan, agama, ras, suku, adat istiadat, kepribadian, penampilan, organisasi, mazhab, warna politik dlsb.


Cara pandang negatif itu, sebenarnya secara aktif membentuk stigma negatif berkepanjangan. Secara berantai menular kepada oranglain, semakin lama menjadi bias. Pembiasan itu, malah bisa saja terjadi secara sistematis. Sehingga, efek yang ditimbulkan justru memantik percikan permusuhan. Percikan itu, bisa berupa umpatan, makian, hinaan yang mengarah pada ledakan kekerasan. Bermula dari benci, berujung anarki.


Ketika cinta ditanam, tumbuhlah kasih sayang. Namun bila benci yang ditanam, maka akan tumbuh permusuhan. Analogi tanam itu, ibarat cara kita membangun dan memahami oranglain dalam kehidupan sosial. Sehebat dan sepintar apapun anda, pasti sulit menghentikan bila terjadi pertikaian dan kerusuhan yang disulut oleh rasa benci. Api kebencian akan melahap apapun, hingga kebenaran dan keburukan pun menjadi sumir. Berbagai kekacauan di Negeri ini, sudah cukup banyak memberi kita pengajaran dan peringatan.


Medio 1998, merupakan pengalaman traumatik bagi etnis Tionghoa. Berdasarkan laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), mencatat 1.200 orang mati terbakar, 8.500 bangunan dan kendaraan hancur, serta 90 lebih wanita etnis Tionghoa yang diperkosa dan dilecehkan (Koran Tempo, No.12/XXXII/Mei 2003). Begitupun peristiwa traumatik yang melanda etnis Madura di Sambas. Mereka terusir akibat kerusuhan besar yang terjadi. Apa yang dialami oleh etnis Tionghoa dan Madura itu, tidaklah terjadi secara spontan. Menurut James T Siegel, Kekerasan itu diawali oleh berbagai ‘pikiran-pikiran awal’.


Apa yang disebut pikiran-pikiran awal itu, diketahui melalui dua cara pandang, yaitu: stereotip dan prasangka (prejudice). Stereotip merujuk pada sebuah tindakan mereduksi oranglain dengan ciri karakter yang dibesar-besarkan, dan biasanya bersifat negatif. Sedangkan prasangka merupakan bias dan sikap yang selalu negatif terhadap suatu kelompok sosial dan anggotanya.


Stereotip sebenarnya tidak selalu cenderung negatif, ada pula yang positif. Hanya saja tindakan mereduksi oranglain, menurut Matsumoto bisa sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Dalam KBBI, stereotip didefenisikan sebagai konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka subjektif dan tidak tepat.


Sebagai contoh, stereotip itu terjadi saat kita mengonsepsi orang Jawa ‘lemah lembut’ sedangkan orang Makassar atau orang Timur itu ‘kasar’. Orang ‘Madura’ itu pemarah, orang Tionghoa itu ‘komunis’. Bisa juga, ‘tradisi’ atau ‘adat istiadat’ pasti salah, karena bertentangan dengan agama. Organisasi saya sudah ‘pasti baik’, organisasi lain ‘pasti salah’. Ataukah ‘pemahaman agama’ saya pasti benar, sedangkan ‘pemahaman agama’ selainnya pasti salah. Begitulah seterusnya. Jadi, selain mereduksi, stereotip juga melakukan tindakan generalisasi (over-generalization), bahkan memandang selainnya dengan ciri homogen. Padahal, dalam suatu komunitas, perbedaan dan kompleksitas dinamikanya terjadi. Misalnya, lemah lembut atau kasar itu soal kepribadian dan kebiasaan, bukan soal etnis.


Stereotip yang terbentuk tersebut, dalam interaksi sosial kemudian melahirkan prasangka. Menurut Manstead dan Hewstone, prasangka itu adalah bangunan kepercayaan dan sikap yang cenderung menghina, ekspresi perasaan negatif atau menunjukkan permusuhan/ perilaku diskriminatif, terhadap anggota suatu kelompok sosial, akibat keberadaannya sebagai anggota kelompok tersebut. Menurut Matsumoto, prasangka memiliki dua komponen; komponen kognitif (thinking) dan afektif (feeling). Komponen kognitif, merupakan sketsa bentukan stereotip berupa anggapan/ pemahaman yang dimiliki terhadap oranglain. Sedangkan komponen afeksif, merupakan aspek psikologis berupa perasaan seperti; marah, jijik, dendam dan meremehkan atau kasihan dan simpatik.


Mungkin kita bagian dari stereotip dan prasangka negatif itu. Membiarkan diri kita dalam perasaan benci, gelisah dan permusuhan tanpa keinginan untuk merefleksikan konsepsi tersebut. Inilah yang menjadi akar dehumanisasi. Ketika kita bertanya kepada oranglain, kita tidak benar-benar mau mendengar. Kebanyakan dari kita, hanya ingin mengonfirmasi stereotip dan prasangka yang kita anut, untuk mencari-cari alasan pembenaran dan menghilangkan rasa bersalah, karena konsepsi yang sebenarnya kita ragukan sendiri.


Untuk mengerti bagaimana Stereotip dan prasangka itu, saya rekomendasikan membaca novel Mahfud Ikhwan; Kambing dan Hujan. Singkat cerita, Fauzia dan Miftah jatuh cinta dan ingin menikah, tapi apa daya mereka dihadapkan oleh tembok konflik dan jalan terjal. Kedua orang tua mereka, sewaktu kecil adalah sahabat karib, namun karena perbedaan yang dibumbui oleh prasangka kemudian keduanya ‘bermusuhan’. Dengan mengambil latar belakang era 60-an di sebuah desa Centong, konflik bermula dengan munculnya sekelompok anak muda yang menggelorakan semangat pembaharuan. Sementara masyarakat centong, mayoritas menentang ide pembaharuan tersebut. Dari prasangka negatif yang berkembang, pengaruhnya sampai terjadi perkelahian di mesjid. Lama waktu berselang, anak muda dengan ide pembaharunya akhirnya membuat mesjid tandingan, berdekatan dengan mesjid sebelumnya. Akhirnya konflik semakin besar, apalagi, ayah Miftah pemimpin mesjid pembaharu sedangkan ayah Fauzia Imam di mesjid Nahdliyin. Untuk seterusnya baca novelnya. Yang mau novelnya wapri atau kirim email ya.


Begitulah hidup, kata Charlie Chaplin: “Hidup itu tragedi, waktu kamu melihatnya dari jarak dekat, tapi sebuah komedi saat kamu melihatnya dari jarak jauh’.


*Muhammad Syahudin

This Is The Newest Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
This Is The Newest Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner