Saat
manusia beranjak meninggalkan kampung halaman. Ia merindukan saat untuk pulang.
Kerinduan tersebut, ditempuh dengan dua perjalanan. Perjalanan pulang secara
jasadi, yaitu pulang ke kampung kelahiran. Dan perjalanan pulang secara Ruhani,
yaitu kepulangan kepada fitrah manusia yang suci.
Kerinduan
akan diri ini, dapat dilihat dari sejauh mana kesungguhan kita, untuk
menyiapkan modal dan bekal perjalanan. Bila secara materi, kita dapat memenuhi
hasrat kembali ke kampung halaman, maka modal kembali kepada fitrah adalah
ke-takwaan. Karena itulah, Al-Qur’an menjelaskan hakikat puasa adalah takwa
(Qs. Al-Baqarah/2 : 183)
Menurut
makna bahasa, takwa (taqwa) berasal
dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang
artinya “memelihara”. Yakni menjaga diri agar selamat. Kata waqa juga diartikan, “melindungi sesuatu”
dari berbagai hal yang membahayakan dan merugikan. Dalam tafsir Ibn Katsir,
Ibnu Abbas menjelaskan takwa dengan dua indikator, yaitu takut dan taat kepada
Allah Swt. Rasulullah Saw, pernah juga berwasiat kepada Abu Dzar Al-Ghiffari
bahwa takwa adalah pokok dari segala perkara. Pada dalil peletakan makna bahasa
ini, dapatlah diartikan bahwa takwa adalah ketaatan kepada Allah, menjauhi
larangan-Nya, memelihara diri dan menjalani bentuk kesalehan hidup.
Taat
kepada Allah, sebagaimana makna ketaatan. Adalah secara totalitas menjalankan
perintah-Nya. Dari setiap dimensi ruang dan waktu, dalam kesendirian maupun
keramaian. Taat adalah ketundukan mutlak, sepenuhnya karena Allah. tidak
menegasikan adanya kemungkinan, untuk menempatkan sesuatu di dalam diri manusia
kepada selain-Nya. Di dalam ketaatan, Tuhan menegaskan perbedaan hamba dengan
dengan diri-Nya. Eksistensi manusia yang bergantung kepada penciptanya. Semakin
tinggi ilmu seseorang, maka ujian ketaatannya semakin tinggi. Apakah
ketaatannya mengantarkan kepada derajat takwa, ataukah malah ia menuhankan diri
dengan ilmunya. bila seseorang banyak beribadah, tapi riya, ujub, dan sombong
maka tidaklah ia disebut tunduk sepenuhnya. Justru ia malah menyembah dirinya
sendiri.
Tangga
menuju takwa selain taat, adalah menjauhi larangan-Nya. Secara pilosofis,
larangan adalah sesuatu yang bila dilakukan akan ber-akibat buruk bagi manusia.
larangan itu, tidak hanya ber-akibat dosa, juga ber-efek. Baik secara langsung
maupun bertahap. Bila seseorang berkata dusta, akibatnya bukan hanya kepada si
pelaku tapi kepada si pendengar. Apalagi kalau dusta itu menyebar dan diyakini
sebagai kebenaran, jelas akan timbul efek buruk bagi manusia. bila seseorang
yang dianggap taat, melakukan korupsi. Perilaku tersebut, tidak hanya berakibat
dosa dan dipenjara, tapi merugikan kepentingan masyarakat banyak.
Dapatlah
dimaknai, bahwa kesalehan hidup dengan memelihara diri adalah bagian yang
paling utama dari ke-takwaan. Yaitu manusia yang sudah mengabaikan aspek
materil demi memenuhi jiwanya dengan spritualitas. Semoga kita termasuk di
dalamnya.
*) Muhammad Syahudin
(Direktur
Lembaga Kajian Filsafat dan Ilmu Sosial)
