-->

Friday, July 21, 2017

Menakar Predikat Takwa


Saat manusia beranjak meninggalkan kampung halaman. Ia merindukan saat untuk pulang. Kerinduan tersebut, ditempuh dengan dua perjalanan. Perjalanan pulang secara jasadi, yaitu pulang ke kampung kelahiran. Dan perjalanan pulang secara Ruhani, yaitu kepulangan kepada fitrah manusia yang suci.

Kerinduan akan diri ini, dapat dilihat dari sejauh mana kesungguhan kita, untuk menyiapkan modal dan bekal perjalanan. Bila secara materi, kita dapat memenuhi hasrat kembali ke kampung halaman, maka modal kembali kepada fitrah adalah ke-takwaan. Karena itulah, Al-Qur’an menjelaskan hakikat puasa adalah takwa (Qs. Al-Baqarah/2 : 183)

Menurut makna bahasa, takwa (taqwa) berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya “memelihara”. Yakni menjaga diri agar selamat. Kata waqa juga diartikan, “melindungi sesuatu” dari berbagai hal yang membahayakan dan merugikan. Dalam tafsir Ibn Katsir, Ibnu Abbas menjelaskan takwa dengan dua indikator, yaitu takut dan taat kepada Allah Swt. Rasulullah Saw, pernah juga berwasiat kepada Abu Dzar Al-Ghiffari bahwa takwa adalah pokok dari segala perkara. Pada dalil peletakan makna bahasa ini, dapatlah diartikan bahwa takwa adalah ketaatan kepada Allah, menjauhi larangan-Nya, memelihara diri dan menjalani bentuk kesalehan hidup.

Taat kepada Allah, sebagaimana makna ketaatan. Adalah secara totalitas menjalankan perintah-Nya. Dari setiap dimensi ruang dan waktu, dalam kesendirian maupun keramaian. Taat adalah ketundukan mutlak, sepenuhnya karena Allah. tidak menegasikan adanya kemungkinan, untuk menempatkan sesuatu di dalam diri manusia kepada selain-Nya. Di dalam ketaatan, Tuhan menegaskan perbedaan hamba dengan dengan diri-Nya. Eksistensi manusia yang bergantung kepada penciptanya. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka ujian ketaatannya semakin tinggi. Apakah ketaatannya mengantarkan kepada derajat takwa, ataukah malah ia menuhankan diri dengan ilmunya. bila seseorang banyak beribadah, tapi riya, ujub, dan sombong maka tidaklah ia disebut tunduk sepenuhnya. Justru ia malah menyembah dirinya sendiri.

Tangga menuju takwa selain taat, adalah menjauhi larangan-Nya. Secara pilosofis, larangan adalah sesuatu yang bila dilakukan akan ber-akibat buruk bagi manusia. larangan itu, tidak hanya ber-akibat dosa, juga ber-efek. Baik secara langsung maupun bertahap. Bila seseorang berkata dusta, akibatnya bukan hanya kepada si pelaku tapi kepada si pendengar. Apalagi kalau dusta itu menyebar dan diyakini sebagai kebenaran, jelas akan timbul efek buruk bagi manusia. bila seseorang yang dianggap taat, melakukan korupsi. Perilaku tersebut, tidak hanya berakibat dosa dan dipenjara, tapi merugikan kepentingan masyarakat banyak.

Dapatlah dimaknai, bahwa kesalehan hidup dengan memelihara diri adalah bagian yang paling utama dari ke-takwaan. Yaitu manusia yang sudah mengabaikan aspek materil demi memenuhi jiwanya dengan spritualitas. Semoga kita termasuk di dalamnya.

*) Muhammad Syahudin
(Direktur Lembaga Kajian Filsafat dan Ilmu Sosial)
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner